Semakin Percaya Diri Di Kancah Nasional dan Internasional


 
MALANG - Siswa-siswi SMP Negeri 1 Singosari produktif mencetak prestasi. Banyak penghargaan berhasil mereka borong dari berbagai jenis kompetisi. Setidaknya dalam satu semester terkahir, ada puluhan prestasi yang dicapai. Beberapa diantaranya cukup bergengsi di kancah Jawa Timur, nasional bahkan internasional.  Seperti dalam bidang non akdemik, ada kejuaraan karate, taekwondo, wushu, renang, maraton, pramuka, teater, aeromodeling dan fashion. Sedangkan di bidang akademik ada olimpiade matematika dan Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Rentetan prestasi ini patut dibanggakan civitas SMPN 1 Singosari yang telah aktif membawa nama Kabupaten Malang hingga kancah internasional. Prestasi yang ditorehkan lembaga berbudaya mutu ini, menjadi kado indah bagi Kabupaten Malang yang memperingati Hari Ulang Tahunnya yang ke-1257, hari ini.  
Bhestin Adilla Rachman, siswa juara 1 OSN Kabupten Malang ini mengaku, dirinya tidak menyangka bisa mengikuti OSN hingga lolos tingkat Jatim. Padahal kata dia, bidang IPS bukan yang diminatinya.
"Ya ini berkat bimbingan dan motivasi guru, meskipun bukan bidang IPA saya bisa juara di tingkat Jawa Timur," ujarnya. 
Untuk selanjutnya, siswa kelas IX ini akan lebih serius belajar agar terus berprestasi yang lebih baik lagi. Tidak hanya dalam satu bidang pelajaran tapi semuanya akan ia pelajari dengan tekun dan serius.  
Selain Bestine, Muhammad Felix Riza, berprestasi di bidang akademik. Ia meraih gelar Merit Awards dalam ajang Word Mathematics Invitational 2017 tingkat Internasional. Felix bersama dua temannya, Elen Anggrian dan Wening Sekar juga meriah juara 1 dalam ajang yang sama di tingkat nasional.
Tak kalah dengan yang akademik, prestasi non akademik yang dicapai siswa SMPN 1 Singosari juga ada yang mencapai tingkat internasional. Adalah I Made Khisawa Hergianta, siswa kelas VIII ini menjadi perwakilan Indonesia bidang karate di ajang The 31th Coupe Internationale De Kayl di Luxemburg Jerman.  
Menjadi juara 1 dalam kejuaraan tersebut, I Made sukses mengibarkan Bendera Merah Putih di podium tertinggi. 
"Saya sangat senang, bisa mewakili Indonesia dan membanggakan orang tua dan guru di sekolah," ucapnya.
Menjadi juara merupakan idaman setiap orang dalam sebuah kompetisi. Akan tetapi bagi I Made, gelar juara bukan satu-satunya tujuan yang harus dicapai secara ambisius. 
"Saat bertanding saya tidak berpikir bagaimana caranya menjatuhkan lawan, tapi bagaimana saya tampil dengan bagus dan memberikan yang terbaik," ungkapnya.
Menurut Dhia Lintang, siswi peraih Juara 1 Aeromodeling Tingkat Nasional, prestasi yang sebenarnya adalah perbuatan yang memberikan manfaat bagi orang lain. Bukan sekadar gelar atau menumpuk piala sebanyak-banyaknya. 
"Bagi kami menjadi seorang yang bermanfaat adalah kebanggaan yang sebenarnya," ucap siswi kelas IX ini. 
Senada dengan itu, Fiza Ananda Maharani menambahkan, dirinya merasa senang ketika bisa membanggakan orang lain. Prestasinya di bidang model menjadi sebuah kebanggaan saat menampilkan karya orang lain di atas panggung. 
“Selain itu ada banyak pelajaran yang bisa saya dapat dalam dunia model. Seperti bagaimana berjalan dengan bagus, bertutur kata yang baik serta menghargai orang lain,” tuturnya.  
Hal serupa dikatakan Anggie Dwi Alvina, siswa peraih juara 1 Taekwondo Tingkat Nasional. Menurutnya, etika yang bagus lebih penting dari pada segudang prestasi. Pelajar yang hebat adalah dia yang berprestasi tapi juga memiliki perilaku yang baik. 
“Etika tetap yang pertama, karena untuk apa banyak prestasi tapi tingkah laku kita tidak baik dan merugikan orang lain,” ucapnya. 
Kepala SMPN 1 Singosari, Drs. Susilo Wardoyo, M.Si mengatakan prestasi tak sekadar mengandung arti menang dalam sebuah kejuaraan. Lebih dari itu, prestasi siswa harus berimbang dengan kualitas dan mutunya di bidang karakter. 
Oleh karena itu, upaya yang dilakukan tak hanya mengajar dan melatih siswa, akan tetapi proses pembinaan yang intens di bidang spiritual, mental dan emosional. 
"Kontrol itulah yang diperlukan untuk melahirkan peserta didik yang hebat sebagai generasi yang utuh,” ucapnya.
Kaitannya dengan sebuah kompetisi, Wardoyo menuturkan perlu adanya pembinaan secara khusus. Tentu dengan melakukan latihan di bidang olahraga, seni maupun di bidang akademik. Tanpa berlatih, katanya,  mustahil akan mencapai sebuah prestasi. 
"Saya selalu mewanti-wanti siswa untuk latihan yang serius, kalau perlu intensitasnya melebihi lawan. Maksudnya agar secara skill mereka lebih siap untuk berkompetisi," terangnya.
Ia melanjutkan, selain latihan juga dibutuhkan sarana untuk menunjang hasil yang maksimal. Dalam hal ini pihaknya selalu melakukan komunikasi yang aktif dengan komite dan pihak orang tua, agar terbentuk kerja sama yang bagus. Sebab untuk memfasilitasi pembinaan potensi siswa diperlukan dana yang besar.
“Apalagi misalnya siswa harus berlomba ke luar provinsi atau bahkan ke luar negeri, itu membutuhkan dana,” tuturnya. (adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...