Jalan Kaki 28 Kilometer, Dilepas Jayus Hariono

DIARAK: Kukuh Sanyoto dengan  kostum singa melakukan nadzarnya dengan jalan kaki mulai dari Slorok hingga ke Kandang Singa, kemarin.
 
Kukuh Sanyoto Penuhi Nadzar Juara Piala Presiden
MALANG– Kukuh Sanyoto berjalan pelan dengan dipapah ketika sampai di Kandang Singa (julukan Kantor Arema), di Jalan Mayjend Panjaitan Kota Malang, sekitar pukul 14.00 WIB, Kamis (18/4) siang kemarin. Begitu masuk di dalam kantor, Kukuh yang masih lengkap dengan kostum singa sujud syukur. Lantas, sang maskot Arema ini diterima Manajer Bisnis Arema, M. Yusrinal Fitriandi usai menggenapi nadzarnya pasca tim Arema FC menjuarai Piala Presiden 2019.
 
Sekitar enam jam, Kukuh harus menempuh perjalanan dari Slorok, Kecamatan Kromengan, ke Kantor Arema. Jarak yang dia tempuh sekitar 28 kilometer. Dengan beratribut maskot lengkap, termasuk kepala singa, Kukuh memenuhi nadzarnya.
“Alhamdulillah ya Allah. Salam Satu jiwa,” teriak Kukuh, diikuti beberapa Aremania yang ikut serta dalam perjalanan dari Kromengan ke Kandang Singa. 
Dia terlihat sudah sangat lemas. Namun, begitu penutup kepala berbentuk singa dia lepas, senyum tipis tersungging dari wajahnya.
Menurut Kukuh, dirinya lega karena nadzar sudah dia penuhi. Nadzarnya adalah dirinya akan berjalan kaki, bila Arema menjadi juara Piala Presiden dengan mengalahkan Persebaya Surabaya. 
“Partai final ini sangat spesial buat saya. Ini tentang rivalitas dan harga diri. Secara pribadi saya dendam kepada Bonek, bukan kepada Persebaya. Dulu, 2011 saya pernah dikeroyok Bonek ketika pulang kerja,” ungkapnya.
Dia mengatakan, dari sanalah dia akhirnya bernadzar. Selain itu, dia ingin memberikan apresiasi pada perjuangan para pemain yang sudah membahagiakan publik Malang Raya. 
“Jadi memang ketika final Arema dipastikan ketemu Persebaya, saya bernadzar mau jalan kaki,” tambah dia.
Tidak sekadar berjalan, dia berjalan dengan kostum lengkap layaknya ketika menjadi maskot Arema di Stadion Kanjuruhan. Hal itulah yang menjadi tantangannya. Kondisi panas dengan kostum tebal, kepala pun ditutup, membuat udara segar yang dia hirup berkurang.
Maskot Singa ini sampai berhenti tiga kali demi mendapatkan udara segar. Di Jalibar, Pakisaji dan di kawasan Kacuk. Perjalanan pun menjadi lebih lama, sekitar enam jam.
“Tetapi syukurlah kuat. Saya tidak ada persiapan apapun, selain kemarin malam (Rabu, Red) minum STMJ dan sempat jagongan dengan Jayus Hariono sampai malam,” papar pria yang mengakui memiliki hobi naik gunung semasa mudanya tersebut.
Jayus sendiri turut andil dalam nadzar jalan kaki sang maskot singa. Pemain asal Kepanjen itu yang ‘mengompori’ Kukuh untuk berjalan kaki dari Kromengan ke Kandang Singa.
“Awalnya, saya hanya mau berjalan kaki dari rumah saya di Kromengan ke Stadion Kanjuruhan. Paling sekitar sepuluh kilometer saja. Tetapi kata Jayus terlalu dekat. Dia tidak mau memberangkatkan kalau hanya dekat saja,” tambahnya.
Jayus pun memberangkatkan Kukuh untuk memenuhi nadzarnya. “Tadi pagi dia yang melepas saya untuk jalan kaki,” ujar Kukuh.
Ia mengakui, selama perjalanan mendapatkan banyak sambutan dan dukungan. Keluarganya pun tidak keberatan. “Karena ini janji pribadi, mereka juga tidak masalah. Saya juga tidak terkendala, selain kepanasan. Yang terpenting janji yang saya sampaikan sudah saya penuhi,” pungkas Kukuh. (ley/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :