Korban Hak Siar, Tiap Bulan Butuh Rp 2,5 Miliar

 
Mengelola sebuah tim sepak bola itu tidak mudah, apalagi yang berlaga di kasta tertinggi. Hal tersebut, berlaku pula bagi pengelola Arema FC, yang membutuhkan dana miliaran rupiah setiap tahunnya. Lantas, ketika tim tersebut mulai ditinggalkan suporter dengan sepinya tingkat kehadiran di stadion saat menjalani laga kandang, dari mana manajemen bisa mendapatkan income untuk mengelola tim. Mulai dari operasional untuk pertandingan, gaji pemain hingga biaya away?
Hal tersebut menjadi perbincangan menarik, kala Malang Post melalui Malang Post Forum menggelar diskusi mengenai 'Mengelola Arema, Menjaga Totalitas Aremania', yang berlangsung di Graha Malang Post, Jumat (22/9) kemarin. 
Manajemen Arema, Aremania hingga pihak kepolisian turut hadir dalam diskusi gayeng yang berlangsung selama dua jam tersebut. Demi Arema, semua saling curhat, yang muaranya adalah menguatkan kembali tim Arema, menjadi tim yang disegani dan mendapatkan dukungan total serta maksimal dari Aremania.
Media Officer Arema FC, Sudarmaji menjadi yang pertama menyampaikan isi hati Singo Edan saat ini. Kehadiran Aremania yang kian minim, memang menjadi salah satu persoalan utama. Namun, pria asal Banyuwangi itu juga memberikan pencerahan, tentang detil permasalahan yang terjadi di tubuh Arema.
"Memang, ada rasa kekhawatiran dan prihatin ketika melihat kondisi keseluruhan Arema saat ini. Sebenarnya, manajemen selalu membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin berdiskusi atau mengetahui kondisi klub. Seperti sekarang, manajemen dengan cepat melakukan revisi target di awal musim yang sempat mematok lolos AFC. Ada banyak masalah sehingga tim kesulitan dalam berkompetisi, makanya paling realistis adalah lolos degradasi," ujar Sudarmaji.
Dia mengatakan, salah satu hal utama adalah minimnya minat Aremania datang ke stadion. Sudarmaji mengatakan beberapa alasan mengapa minat pendukung Arema berkurang, terutama di tahun ini. Misalnya, regulasi yang tidak menimbulkan daya tarik, berbeda dengan kondisi 7-8 tahun lalu.Flare, yang sempat menjadi salah satu andalan kreativitas Aremania di tahun 2012, dilarang dalam regulasi internasional. Padahal, tidak bisa dipungkiri hal tersebut merupakan daya tarik bagi Aremania untuk hadir ke stadion.
"Regulasi, turut mempengaruhi. Tidak hanya flare, kini adanya kreativitas juga dilarang di tribun timur dan tribun VIP. Kalau mau, suporter hanya bisa memaksimalkannya di tribun utara atau selatan. Sedangan di tribun timur, hanya kreativitas olah gerak dan lagu," jelasnya.
Selain itu, Arema termasuk tim yang harus menjadi 'korban' hak siar. Operator dan sponsor kompetisi, menjadikan tim kelahiran 1987 ini sasaran untuk siaran langsung, setara dengan Persib Bandung. Pandangan mereka, adalah besarnya dukungan untuk Arema, termasuk ketika ditayangkan di televisi. 
Hal itu pun benar-benar berpengaruh pada Aremania, yang 'terjajah' dengan tayangan untuk Arema di televisi. Praktis, Aremania memanfaatkan tayangan di televisi. Tidak hanya pada acara nonton bareng atau televisi di rumah, namun ketika di luar, hanya dalam genggaman tangan.
"Ini berbunungan juga dengan perkembangan teknologi. Ada wifi yang membuat koneksi lancar dan handphone canggih yang bisa membuat mereka lebih nyaman tidak datang ke stadion. Belum lagi ketika laga dilaksanakan tidak akhir pekan. Suporter yang bekerja atau sekolah, masih lelah pulang kerja atau sekarang juga ada full day school. Ini yang harus disiasati," terang dia panjang lebar.
Siaran televisi, seolah menjadi madu dan racun. Madu, karena Arema bisa mendapatkan pendapatan tinggi dari hak siar. Racun, karena jumlah kehadiran suporter menurun drastis.
Jika pada era Arema dilatih Robert Rene Albert pendapatan dari penjualan tiket bisa mencapai Rp 13 miliar, tahun lalu saat TSC 2016, pendapatan ticketing hanya di kisaran Rp 3,5 miliar. Tentu, nilai yang turun drastis dan membuat manajemen akhirnya kelabakan menjalankan keberlangsungan klub dalam kompetisi.
Bagaimana tidak? Ketika tim membutuhkan biaya hampir Rp 2,5 miliar per bulan atau mencapai Rp 25 miliar dalam satu musim kompetisi, sedang yang didapatkan Arema di bawah itu. Arema mesti membayar gaji pemain sebesar Rp 1,25 miliar per bulan dan transportasi away sebesar Rp 1,15 miliar per bulan. 
Sementara, menurut Sudarmaji, pendapatan selain subsidi Rp 7,5 miliar dan hak siar yang tidak sampai separuh angka subsidi tersebut, masih dibutuhkan dana di kisaran Rp 10-15 miliar. Nilai tersebut, akan diharapkan dari sponsorship dan ticketing. Sementara, Arema yang beberapa tahun lalu adalah buruan corporate yang ingin menjadi sponshorsip, kini sinarnya tak lagi berkilau. Suporter yang sepi, praktis membuat para sponsor berpikir dua kali untuk menggelontorkan dana untuk Alfarizi dkk.
"Beginilah tugas mengelola klub sepak bola. Tentu kami senang, ketika ada Aremania atau bahkan Pemda di Malang Raya bisa turut membantu mengembalikan antusias Aremania. Bagaimana caranya, itu bisa dipikirkan bersama, selain manajemen terus melakukan analisa apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan oleh klub untuk mengelola klub ke depannya. Seperti sekarang, kami juga perlu masukan Aremania, dan kami sampaikan keluhan yang dihadapi seluruh stakeholder klub ini kepada PSSI atau operator, sehingga bisa membantu dalam penetapan kebijakan di musim mendatang," tambah dia. (ley/bua)