Logo Arema Dibalik


SURABAYA - Persebaya Surabaya kecewa dengan hasil imbang 2-2 ketika melawan Arema FC. Mereka tidak bisa memaksimalkan keuntungan menjadi tuan rumah di leg pertama final Piala Presiden 2019. Bahkan, di akhir laga pun suporter seolah tidak menerima hasil imbang, dengan melakukan pelemparan botol ke dalam lapangan, selain itu juga menyalakan flare dan melemparkan ke arah lapangan.
"Sayang sekali kami seri di kandang sendiri. Laga yang sangat berat tadi," ujar Winger Persebaya, Irfan Jaya.
Menurut dia, tim lawan tampil bagus sehingga mereka kesulitan untuk menang. Bahkan, Irfan menilai Arema tampil bagus. "Arema bermain sangat bagus dan membuat kami harus kerja keras di leg kedua," paparnya.
Dia mengatakan, timnya harus segera bangkit menyambut leg kedua. Mereka akan fokus untuk pertandingan tersebut dan membuka kemungkinan juara yang menipis. Sebab, Arema tinggal membutuhkan hasil seri tanpa gol atau 1-1 saja saat bermain di Malang.
"Ya tidak apa-apa. Kami ingin tegakkan kepala, lupakan laga yang tadi dan fokus leg kedua di Malang," sebut Irfan.
Ia menyampaikan, Persebaya masih punya peluang untuk menjadi juara. Menurut dia, tidak ada yang tidak mungkin meski tampil di kandang lawan. Sebagai contoh, Madura United dikalahkan 3-2 di babak semifinal saat tampil di kandang sendiri.
Sementara itu, kekecewaan dilampiaskan oleh Bonek di akhir pertandingan. Lemparan botol dan flare ke arah lapangan mereka lakukan begitu laga usai dengan skor 2-2. Selain itu, kembang api juga dinyalakan oleh Bonek.
Teriakan dari MC pertandingan agar Bonek tidak melakukan pelanggaran yang bisa berbuah sanksi itu tidak digubris. Pemain Arema yang hendak masuk ke ruang ganti pun menjadi sasaran.
Asisten Pelatih Persebaya, Bejo Sugiantoro sampai meminta semua pemain Arema ke tengah lapangan, sembari menunggu polisi membuat barikade. Pemain masuk ke ruang ganti dengan kondisi merunduk, di bawah tameng yang disiapkan oleh polisi.
Selain itu  di stadion juga ada nyanyian rasis. Nyanyian tersebut sudah terdengar sebelum pertandingan berlangsung.
MC pertandingan juga harus berteriak untuk memperingatkan suporter yang duduk di tribune utara. Pasalnya mereka membalik spanduk tertuliskan nama dan logo Arema yang ada di papan skor.
Sayang, imbauan itu tak digubris oleh mereka. Bahkan Bejo Sugiantoro akhirnya naik ke podium dirijen tribune utara. Legenda Persebaya ini harus berteriak agar spanduk nama Arema dikembalikan ke kondisi semula.
“Minta tolong agar spanduknya jangan di balik. Katanya Bonek menjadi yang terbaik. Minta tolong di balik spanduknya,” teriak Bejo.
“Kalau enggak dibalik, tidak akan dimulai pertandingannya,” tegas Bejo. Butuh beberapa menit hingga permintaan itu dilakukan oleh para penonton.
Di leg kedua yang akan berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Jumat (12/4) mendatang, diharapkan Aremania lebih dewasa.  Pesan damai yang disuarakan sebelum final Piala Presiden 2019  benar-benar ditaati dan tidak melakukan chant rasis. Apalagi, Aremania sudah terbukti pernah menjadi supporter terbaik di negeri ini.(jpc/jon)

Berita Terkait

Berita Lainnya :