Sesalkan Gas Air Mata dan Steward


MALANG - Keputusan aparat yang menembakkan  air disesalkan sejumlah Aremania, karena jadi pemicu kepanikan. Selain karena banyak anak kecil, sebagian besar Aremania masih tenang di tribun. Sehari pasca ricuh kemarin, suporter juga menyesalkan pemukulan oleh match steward terhadap rekannya, karena ini dinilai memicu amarah.
Menurut Aremania yang menjadi saksi bagaimana paniknya kondisi tribun, sejatinya mereka menyesalkan keputusan aparat yang menembakkan gas air mata, terutama ke arah tribun. Pasalnya, hal tersebut ditengarai sebagai pemicu jatuhnya banyak korban.
"Di tribun, banyak anak-anak, banyak perempuan dan banyak Aremania. Tentu semua panik menyelamatkan diri," ujar Halimah, Pedagang Asongan di tribun 10 yang turut merasakan ketakutan karena kericuhan itu.
Menurut dia, jika saja tidak ada tembakan, banyak Aremania yang masih tenang di tribun. Memang ada yang sudah turun ke sentel ban, namun tidak menyebabkan kekacauan.
"Setelah gas air mata, ditembakkan sampai tiga kali, semua bingung. Kami berusaha menghindar, meninggalkan tribun. Parahnya, pintu keluar juga masih tertutup," ungkapnya
Saat itu, teriakan dan tangis terdengar jelas. Dia yang terkena gas air mata dan matanya memerah sampai kemarin, menyesalkan hal tersebut. "Saya jualan, semua rusak. Kami berusaha menolong yang terinjak, sesak napas dan berusaha menyelamatkan diri. Menakutkan," tambah Halimah yang mengakui saat melawan Persib, dua cucu dan anaknya ikut berada di tribun yang sama.
Selain karena gas air mata, sejatinya ada satu peristiwa yang membuat kemarahan Aremania memuncak. Yakni tentang perlakuan steward atau pengaman pertandingan yang melakukan pemukulan kepada Aremania. Salah satu yang paling terlihat ketika ada Aremania yang masuk ke lapangan nyaris tanpa pakaian, terdapat satu aksi pemukulan.
"Selain itu sebelumnya pas di depan tribun juga ada yang melakukan pemukulan. Kami sudah teriak, jangan dipukuli teman kami," ujar Simon Zakaria, salah satu Aremania.
Dia menyampaikan, semua berubah menjadi panas ketika banyak rekannya juga mulai emosi karena hal tersebut, ditambah dengan kondisi Arema yang dalam posisi rawan.
"Kami ini datang, membeli tiket dan yang membayar pengamanan seperti Steward, tetapi perlakuan seperti ini. Tentu teman-teman semua tidak terima," tandas dia.
Arema FC berpendapat keamanan menjadi domain aparat, sebab manajemen pada penyelesaian pemulihan korban kericuhan laga melawan Persib Bandung, Minggu (15/4). Terkait pengamanan, Media Officer Arema, Sudarmaji mengatakan jika yang dilakukan Panpel Arema sudah sesuai dengan SOP yang ditentukan operator. Begitu pula sebelum pertandingan, regulasi telah disampaikan kepada pihak keamanan.
"Sejak H-1 kami sampaikan begitu juga saat apel lima jam sebelum laga. Bagaimana standar pengamanan yang ada," tambah dia.
Mengenai dugaan kesalahan prosedur seperti sampai adanya tembakan gas air mata, diakui Sudarmaji itu wewenang kepolisian. Terlihat chaos massa yang hendak memasuki area VIP yang akhirnya dibuyarkan dengan semprotan gas air mata.
"Itu bagian keamanan yang bisa menjawab bagaimana prosedurnya," sebut dia.
Sudarmaji berharap tidak ada yang menyalahkan satu pihak atas kejadian itu. Dia ingin semua instropeksi sehingga semua memperbaiki diri.
Sedangkan Kapolres Malang Kabupaten AKBP Yade Setiawan Ujung menegaskan bahwa gas air mata memang dilepaskan. Ia sudah mengecek ke anggota Brimob di lapangan. Kata dia, ini dilakukan untuk menghadang suporter yang meringsek menuju pemain, wasit dan official. Pantauan Malang Post, sebelumnya Polisi juga melepas K9 tapi untuk menghalau suporter di tribun bawah skor.
 “Saya cek ke anggota Brimob hanya ada 9 gas air mata yang dilepas untuk menghadang suporter yang meringsek menuju pemain wasit dan official. Tapi karena banyak juga suporter yang mendorong petugas dari belakang, sepertinya ada yang salah arah,” urainya..(ley/agp/big/ary)

Berita Lainnya :