MalangPost - Akibat Wabah Corona, Warga Brasil Teriak Kelaparan

Senin, 13 Juli 2020

  Mengikuti :

Akibat Wabah Corona, Warga Brasil Teriak Kelaparan

Sabtu, 30 Mei 2020, Dibaca : 3813 Kali

JAKARTA - Pandemi virus corona covid-19 benar-benar menghancurkan Brasil. Di kawasan Timur Laut nan kering dan gersang, warga miskin berteriak kelaparan.


Mengutip dari Medical Express, Brasil kini menjadi negara kedua dengan kasus Covid-19 terbanyak setelah Amerika Serikat.
Hingga Sabtu (30/5/2020), Brasil telah mencatatkan 468.338 kasus infeksi di mana 27.944 orang meninggal dunia.
Pandemi virus Corona tak hanya memuluk wilayah tenggara Brasil yang diisi mayoritas orang-orang berduit. Wilayah timur laut turut 'hancur' dan bahkan kondisinya jauh lebih memprihatinkan.


Di bagian timur laut Brasil, terdapat 7,7 juta orang miskin dengan rata-rata penghasilan kurang dari dua dolar Amerika Serikat perhari.
Pembatasan sosial dan lockdwon demi memutus rantai infeksi virus Corona telah membuat warga miskin Brasil kian terhimpit. Mereka kini kelaparan.
"Dalam 26 tahun, saya belum pernah melihat begitu banyak orang hidup dalam ketakutan, begitu banyak orang kelaparan," kata Alcione Albanesi, pendiri badan amal Amigos do Bem dikutip dari Medical Express, Sabtu (30/5/2020).
"Semuanya berhenti. Tapi kelaparan tidak berhenti."


Dalam keadaan sulit di tengah pandemi, warga timur laut Brasil kini mengandalkan bantuan dari berbagai organisasi non-profit, seperti Amigos do Bem.
Amigos do Bem mendistribusikan persediaan makanan, air, dan kebersihan kepada masyarakat di Sertao yang panas dan kering.
Mereka juga mendistribusikan hal serupa di wilayah pedalaman tempat banyak keluarga mencari nafkah dengan bertani di tanah yang retak dan tak kenal ampun.


Nasib sulit warga di wilayah timur laut Brasil turut dikaitkan dengan tensi politik di mana Presiden Jair Bolsonaro secara terang-terangan tidak menyukai warga Afro-Brasil.
Bolsonaro sempat menganggap warga timur laut tak bisa melakukan apa-apa dan bercanda dengan menyebut anggota parlemen kulit hitam sebagai budaknya.


Para gubernur di kawasan itu pada akhirnya meluncurkan komite ahli untuk menanggapi krisis, yang diketuai oleh salah satu dokter terkenal Brasil, ilmuwan saraf Miguel Nicolelis.
"Timur laut tidak mendapat banyak bantuan keuangan dari pemerintah federal ... karena permusuhan politik ini," kata Nicolelis. (net/mp)

Editor : Redaksi
Penulis : Net