Aligator Mesin Energi Penyelamat Nelayan Malang Selatan

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Aligator Mesin Energi Penyelamat Nelayan Malang Selatan

Sabtu, 22 Feb 2020, Dibaca : 3720 Kali

MALANG - Energi terbarukan bukanlah omong kosong. Setidaknya bagi nelayan yang sudah merasakan bagaimana mengeluarkan biaya besar untuk membeli bahan bahar sekali melaut.  Sebuah perangkat konversi energi dari mesin perahu nelayan ternyata bisa mengurangi emisi karbon, sekaligus menurunkan sekitar 44 persen pengeluaran seorang nelayan sekali melaut. Alat ini ditemukan mahasiswa asal Malang.


Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Yusril Fatahilmi dengan karya perangkat energi terbarukan yang disebut “Aligator” dalam Bahasa Indonesia berarti buaya. Alat itu mampu memberikan kemudahan bagi nelayan yang mengeluh soal pengeluaran melaut.
Karya ini menyabet Grand Prize dalam Indonesia Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Indo EBTKE Conex) September 2019.  Jika dimasalkan, bisa mengubah masa depan nelayan di Indonesia dan tentu jika diseriusi oleh pemerintah.
Inovasi terbarukan Aligator berkonsep pemanfaatan Hybrid Technology pada perahu nelayan menggunakan tenaga gelombang laut (ocean wave conversion) dan tenaga angin (Aero Power Plant).
“Pada dasarnya Aligator menggunakan sistem mekanik yang mengkonversikan tenaga gelombang laut (ocean wave conversion) menjadi energi mekanik menggunakan flywheel System (Roda Gila),” tegasnya.


Sistem konversi gelombang laut yang menggerakkan pelampung kapal ditrasformasikan menjadi energi kinetic atau gerak. Sederhananya, ocean wave conversion memfungsikan pelampung kapal yang biasanya digunakan sebagai penyeimbang kapal. Pelampung itu memiliki fungsi lain yakni sumber energi kinetik.
Dengan ditambahkan perangkat roda gila, maka energi tersebut dikonversikan menjadi dua kali lipat maka sistem rotasi yang ada menjadi lebih besar.
“Dari energi gerak yang dua kali lipat ini dijadikan lagi energi listrik melalui dynamo yang sudah dipasang dalam perangkat. Dari sistem ini energi yang bisa dihasilkan adalah 154,68 watt per meter persegi,” jelas mahasiswa semester akhir Fakultas Teknik UB.


Sementara itu sistem lainnya yakni Aero Power Plant dijelaskannya menggunakan desain Penta Helix Savonious. Yakni merupakan kincir angin vertikal dengan effisiensi berat yang lebih ringan dan memberikan tenaga gerak mekanik yang dapat diperoleh dari beberapa arah mata angin.


Sistem dengan Hybrid Technology pada aligator tersebut menjadi sumber listrik pada perahu nelayan sebagai sumber daya pendingin ikan dan penerangan pada perahu nelayan.
Mengapa kemudian hal ini sangat penting bagi nelayan di Indonesia? Yusril menjelaskan bahwa rata-rata nelayan melaut untuk mencari ikan antara 12 hingga 13 jam dilaut. Permasalahan yang muncul adalah ada banyak jenis ikan yang hanya bertahan kurang lebih 8 jam sebelum akhirnya membusuk jika tidak didinginkan.
“Untuk bisa mendinginkan ikan secara manual nelayan harus membawa kurang lebih 4 balok es. Juga 60 liter solar untuk melaut. Jika saya kalkulasikan satu hari mereka melaut bisa keluar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta,” tegasnya.


Dengan perangkat yang diciptakan Yusril, nelayan tidak harus mengeluarkan pengeluaran sebesar itu. Pasalnya dengan perangkat Aligator, mesin pendingin dapat berjalan tanpa balok es yang mencair setiap jam.
Juga, biaya yang dikeluarkan untuk solar dapat terkurangi secara signifikan karena nelayan tidak akan bergantung penuh pada solar diganti dengan energi listrik pada dinamo untuk menggerakan perahu tadi.
“Penghematan biaya bisa 44,7 persen dari biasanya,” jelas pria ramah yang melakukan penelitiannya pada para nelayan di Pantai Tamban Malang Selatan.


Ia menerangkan perangkat hasil temuannya sudah dilirik beberapa pihak untuk dapat diproduksi secara masal.
“Sudah ada perusahaan energi dari Bali yang tertarik. Usai expo waktu itu saya dihubungi mereka mau kontrak dan sudah mengirim MoU nya,” ungkap Yusril.
Meski begitu Yusril mengatakan dirinya belum menerima ataupun menolak tawaran dari perusahaan tersebut. Alasannya sederhana. Pemuda kelahiran 1998 ini mengatakan ia masih ingin menunggu pemerintah yang menawarkan bukanlah pihak swasta.


Yusril berharap pemerintah dapat menggunakan temuannya ini kemudian dijadikan program hibah dan tidak jatuh pada pihak swasta pada akhirnya. Sempat dikatakannya, temuannya ini dibicarakan oleh Sandiaga Uno untuk disambungkan pada kementerian terkait.
Untuk membuat satu unit perangkat diperkirakan biaya yang dikeluarkan adalah Rp 40 juta. Nilainya memang besar. Akan tetapi jangka waktu penggunaan perangkat ini dijamin hingga 20 tahun lamanya.
“Lebih baik jangan jatuh ke pihak swasta sih. Saya ingin temuan saya dipakai warga sendiri tidak juga menjadi bahan atau alat yang bertujuan profit,” tandas pria yang dibantu kawannya Elok Paikoh dari Jurusan Agribisnis UB dan bimbingan dosennya Eka Maulana, ST., MT., M.Eng menyempurnakan ide temuannya tersebut.
Sebelumnya temuannya ini diperuntukan untuk proyek Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada Tahun 2017. Akan tetapi proposalnya tidak lolos. Saat itu nama temuannya bukan Aligator akan tetapi Aero Techno Boot.
Nama Aligator sendiri, diakui Yusril hanya sebuah filosofi. Di mana hewan buaya dapat hidup di dua dunia dengan segala kemampuan sistem tubuhnya.
“Ya filosofinya seperti buaya. Saya mau perangkat ini membuat nelayan bisa hidup baik di laut juga di darat,” pungkasnya.(Sisca Angelina/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina