MalangPost - Anak Era Normal ataukah Liberal?

Senin, 06 Juli 2020

  Mengikuti :


Anak Era Normal ataukah Liberal?

Jumat, 29 Mei 2020, Dibaca : 3306 Kali

Era ”new normal” sedang dinantikan banyak pihak, tidak terkecuali anak-anak. Bahkan mereka inilah yang merasa terpenjara sejak diberlakukannya isolasi di rumah akibat pandemi virus Covid-19. Begitu pemerintah akan membuka kran ”new normal”, mereka seolah akan menemukan kembali dunianya yang hilang.


Bagi kalangan pendidik atau penyelenggara dunia pendidikan, kehadiran ”new normal” jelas bukan keleluasaaan dan kebebasan, tetapi menjadi semacam tantangan serius akibat gelora peserta didiknya yang sebagian tentu menyikapinya sebagai kebebasan paska ”dirampasnya” kemerdekaannya.
Itulah di antaranya yang membuat muncul pertanyaan, akankah era ”new normal” ini akan mampu dijadikan momentum istmewa bagi dunia pendidikan untuk mengawal para peserta didik menemukan atau menjalani kehidupan normalnya?
”Seseorang yang terdidik, di tangannya tergenggam dunia, seseorang yang menyerah pada kebodohan, berarti menyerah dalam hegemoni ketertindasan dan keterjajahan. Keterjajahan dan ketertindasan hanya pantas disandang oleh masyarakat atau bangsa yang ”memusuhi” hak pendidikan. Ketika pendidikan dimarjinalisasikan, maka jangan berharap anak didik bisa terbentuk jadi generasi berkeadaban” demikian pernyataan  MF Rahman (2008), yang sejatinya mengingatkan pentingnya jadi manusia terdidik.


Pandangan itu menjadi penguatan opini masyarakat yang menyebut, bahwa dunia pendidikan itu jagat asasi, sakral, atau fundamental bagi masyarakat dan bangsa. Jagat pendidikan bisa melahirkan sosok manusia terdidik atau SDM berkeunggulan tinggi.
Pasca menjadi sosok terdidik itu, diharapkan darinya akan tumbuh subur generasi atau anak-anak terdidik pula di masa mendatang.  Bersemainya generasi berkeadaban bukanlah suatu kemustahilan, bilamana para penyelenggara pendidikan konsentrasi membentuk kepribadiannya secara terus menerus dengan landasan moral dan keagamaan.


Juhn Dewey membenarkan ungkapan tersebut, bahwa pendidikan merupakan suatu proses pembaharuan makna dari orang dewasa kepada orang muda (anak-anak). Seseorang yang belum dewasa seperti anak-anak, dibina oleh orang yang sudah dewasa untuk membangun dan mengembangkan (memprogresifitaskan) pola pemahaman, penyikapan, dan perbuatannya.
Ketika dalam diri anak didik menjatuhkan suatu opsi berucap, bersikap, dan berperilaku yang salah, tidak pantas, berakrab-akrab dengan keasusilaan, atau memproduk pola animalisme gaya hidupnya, maka yang perlu digugat sejak dini adalah proses transformasi yang dilakukan orang dewasa (kalangan pendidik formal maupun non formal) kepadanya.


Kita misalnya tidak serta merta bisa menyalahkan saat anak-anak di era ”new normal” masih menggelar liberalitas gaya hidup atau tidak mematuhi protokol kesehatan. Pasalnya bukan tidak mungkin apa yang dilakukannya merupakan produk hubungan timbal balik saling memengaruhi atau bersumber adopsi kultural dari apa yang diperbuat orang dewasa atau para penyelenggara pendidikan.
Mereka itu bisa terjerumus dalam lintas pergaulan bebas atau liberalitas dan hedonitas gaya hidup serba instan atau asal bisa menyenangkan dan menonjolkan keakuannya, bukan disebabkan semata oleh kesalahan berelasi anomali dengan komunitas pergaulannya, tetapi bisa jadi lebih dominan disebabkan oleh pengaruh orang dewasa atau keluarga yang lebih dulu terperosok dalam kultur permisifisme (serba boleh) atau serba toleran, yang di antaranya menoleransi kebebasan apapun, termasuk bebas tidak patuh anjuran dan regulasi negara.


Sikap permisif dan liberalistik orang tua dalam konstruksi pergaulan antar komunitasnya itu tidak bisa dikatakan sebagai realitas pergeseran kultural atau eksperimentasi gaya hidup yang patut ditoleransi dan diaklamasi anak muda menjadi virus kecil yang bisa jadi menjadi sah berlanjut, sehingga tentu saja kondisi abnormalitas demikian tidak selayaknya dipertahankan, apalagi sampai dikembangkan di era ”new normal”.  Pasalnya di era ini, semunya sejatinya harus belajar menata kehidupan dengan paradigma baru.


Pagelaran kultur permisifisme yang ditunjukkan atau dipamerkan orang itu layak ditempatkan sebagai ”teroris” yang merusak dan menghancurkan keyakinan anak-anak terhadap urgensinya hidup bermoral, bersusila, dan beragama atau mengooptasi stigma manusia dewasa sebagai sosok terdidik. Boleh jadi, anak-anak akan berkesimpulan orang dewasa mempunyai tahapan kehidupan yang serba bebas, menyenangkan atau liberatif dari ”regulasi” pengawalan  etika.


Tidak sedikit kita temukan anak-anak di sekitar kita ini yang terhambat atau kehilangan hak tumbuh berkembang integritas moralnya dengan baik. Ada banyak di antara buah hati kita itu yang tidak sehat emosi, pikiran dan perilaku bermoralnya akibat kegagalan kita dalam menciptakan atmosfir yang mengedukasikannya sebagai generasi berbudi luhur.
Meski dalam Undang-undang Perlindungan Anak sudah disebutkan, bahwa kita (orang tua, masyarakat, dan sekolah) bersama negara diberi kewajiban menciptakan atmosfir sosial dan edukatif yang mendukung pertumbuhan psikologis dan fisik anak, tetapi kita sering ”alpa” untuk menyiapkan atmosfir ekologi edukasi spiritual terbaik padanya.


Tereliminasi atau tereduksinya hak anak untuk tumbuh berkembang dengan baik itu sudah diingatkan oleh Imam Al-Ghazali, bahwa anak akan tumbuh menjadi mutiara yang berkilauan jika diasah dengan didikan yang baik, tetapi sebaliknya, anak akan tumbuh menjadi sosok manusia yang tidak berguna bilamana dididik atau dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang bercorak melanggar akhlak.
Dalam pandangan Al-Gazali ”anak akan tetap menjadi mutiara yang berkilau cemerlang sesuai dengan yang mencondongkannya. Anak tidak akan kehilangan cahaya kemilauannya, bilamana dicondongkan pada kebajikan, kebenaran, dan kesusilaan. Sebaliknya, anak akan berperilaku menyimpang, ketika dicondongkan pada ajaran atau perilaku ketidakbenaran dan ketidakpantasan.”


 Titah Al-Ghazali tersebut menjadi ”kado” kritik kepada kita, bahwa nasib anak-anak Indonesia, khususnya anak didik ikut ditentukan oleh pola edukasi dan kewaspadaan kita dalam era ”new normal.” Kesalahan dan keteledoran serta kesengajaan dalam eksperimentasi budaya ”asal boleh” atau ”asal menyenangkan” kita akan menjadi celah kriminogen yang dapat menjerumuskan anak dalam lingkaran setan yang menghancurkan masa depannya.


Mereka itu bisa terseret memasuki pusaran kehidupan pergaulan yang mengajaknya jadi pendestruksi era ”new normal”, jika sepak terjang orang dewasa kehilangan habitat kewajiban edukasinya dalam memberikan pencerahan dan keteladanan dalam berjuang mengalahkan Covid-19.(*)

Oleh: Ana Rokhmatussa’diyah
Doktor Ilmu Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Unisma,
Penulis sejumlah Buku
Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Ana Rokhmatussa’diyah