MalangPost - Angkat Harkat Orang Tua yang Berprofesi Penjual Lalapan

Kamis, 06 Agustus 2020

  Mengikuti :

Angkat Harkat Orang Tua yang Berprofesi Penjual Lalapan

Rabu, 29 Jan 2020, Dibaca : 3480 Kali

Latar belakang ekonomi yang sulit ternyata tak membuat Nafa Amadea malas mengejar cita-cita dan prestasinya. Tapi sebaliknya kekurangan yang dimilikinya menjadi motivasi dirinya untuk meraih prestasi demi prestasi. yang Atlet Selam asal Kota Batu kini jadi andalan Jawa Timur untuk mendulang prestasi.
Nafa sapaan akrabnya saat ini tengah mengikuti Puslat di Australia bersama Tim Selam Jatim. Ia di sana berlatih keras untuk mempersiapkan diri dalam menatap PON Papua 2020. Namun jauh sebelum ia menginjakkan kaki di negara kanguru tersebut, Nafa harus melalui proses yang sangat panjang. Lika-liku kehidupan harus ia lewati sebagai atlet selam profesional.
Apalagi, gadis kelahiran Malang, 5 Februari 2000 ini bukan anak orang punya alias berduit. Sehingga ketika ingin meraih atau meminta sesuatu, ia tak bisa tinggal bilang.
"Sangat sulit kalau mengingat pekerjaan orang tua saya yang berjualan lalapan di pinggir jalan. Bahkan orang tua saya pernah di gusur. Saya masih ingat waktu itu bulan November 2017," ujar Nafa membuka cerita perjalanan hidupnya kepada Malang Post.
Namun sekarang, ia setidaknya bisa fokus mengejar cita-citanya. Karena kedua orang tuanya sudah kembali mendapat tempat berjualan di depan bengkel. Tepatnya di Jalan Diponegoro, Kota Batu. Warungnya bernama Lalapan Pak Yanto.
"Alhamdulillah, orang tua saya sudah berjualan lalapan kembali di Jalan Diponegoro. Tepatnya di depan bengkel Diponegoro Oil. Meski tiap hari harus bongkar muat," bebernya.
Dari cerita itulah, Nafa termotivasi untuk mampu memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Setidaknya mampu meringankan tanggung jawab orang tuanya dalam menyekolahkan Nafa.
"Dari sana saya pengin punya rezeki sendiri agar meringankan keluarga saya dari segi ekonomi dengan menjadi atlet selam. Sementara dari bonus, saya tabung agar tidak minta ke orang tua," beber gadis yang tinggal di Jalan Semeru GG IV No. 11b Kelurahan Sisir, Kecamatan/Kota Batu ini.
Sebagai anak tunggal, ia sangat tahu betul bagaimana keadaan ekonomi keluarga yang berjualan lalapan sejak tahun 2005. Hasil dari jualan lalapan, lanjut dia, dibagi antara kebutuhan sehari-hari, sekolahnya dan juga untuk membeli rumah kecil.
"Alhamdulillah dari usaha keras orang tua, akhirnya bisa beli rumah itu tahun 2014. Walaupun kecil yang penting tidak kontrak dan pindah-pindah. Karena dulu ngontrak sampai delapan tahun dan pindah dua kali," kenangnya.
Dari kerja keras kedua orang tuanya itulah, membuat Nafa tak patah arang dan patah semangat dalam menggapai cita-cita. Bahkan kedua orang tuanya Hariyanto dan ibunya Kristin Mulyati yang selalu mensupport dirinya.
"Orang tua saya selalu mensupport semua kegiatan. Asal positif. Sebaliknya mereka juga tak pernah membebani atau menarget dirinya untuk menjadi apa dan seperti apa," terangnya.
"Bahkan ayah selalu bilang bahwa usaha itu nomer satu. Kalau emang belum rejekinya, Allah nyuruh usaha di tempat lain," imbuh gadis yang memperoleh beasiswa di kampus UM berkat prestasinya.
Selain kedua orang tuanya, diungkap Nafa, orang yang berjasa dalam prestasinya adalah sang pelatih dari Kota Batu. Yaitu Pak Kus. Dialah yang melatih Nafa dari tidak bisa hingga sekarang.
Gadis berkerudung ini juga menceritakan, selain karena termotivasi dengan keadaan keluarga. Ia suka dengan olah raga renang karena berawal dari liburan ke tempat wisata di Kota Batu.
"Suka renang awalnya saat saya liburan TK di ajak ke Songgoriti. Saat itu saya tenggelam dan sempat takut. Kemudian ayah dan ibu saya mengikutkan ke klub renang agar berani melawan ketakutan saya," bebernya.
Tak berhenti disitu, bahkan ia punya cerita yang paling kelam dan membekas selama di selam.
"Saat itu saya habis lomba tidak di antar sama orang tua. Saya di katakan kayak anak yatim piatu sama orang tua wali murid lain, saya nangis keras waktu itu," kenangnya.
Tapi peristiwa tersebut tak menghentikan langkah kakinya. Justru menjadi motivasi terbesarnya untuk meraih prestasi sekaligus mengangkat harkat dan martabat kedua orang tuanya. Dari lika-liku yang dialaminya itulah, ia berpesan kepada atlet-atlet muda lainnya agar tidak mudah putus asa. Karena menurutnya setiap orang bisa sukses, termasuk dirinya yang sekarang masih terus berusaha dan berusaha. Tanpa henti.
"Jadi selagi ada waktu dan kesempatan, jangan di sia siakan. Karena tidak semua orang bisa mendapat kesempatan untuk jadi atlet berprestasi," bebernya.
Ia tak memungkiri ada banyak kekurangan dalam dirinya atau setiap orang. "Namun dari kekurangan itu, saya bisa mendapat hal yang baik buat ke depannya. Yaitu belajar menerima rasa sakit untuk menghasilkan sesuatu yang berharga," imbuhnya.
Beberapa prestasi yang telah berhsilnya disabetnya adalah Juara 1 Kejurda seJatim di Situbondo 2019, juara 3 Kejurna seIndonesia 2019 di Jakarta, dan Juara 3 Porprov di Gresik 2019.(eri/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Kerisdiyanto