MalangPost - Anika Turistriana, Pendiri Komunitas Pecinta Sanggul dan Kebaya

Kamis, 13 Agustus 2020

  Mengikuti :

Anika Turistriana, Pendiri Komunitas Pecinta Sanggul dan Kebaya

Sabtu, 18 Jan 2020, Dibaca : 3237 Kali

Menipisnya minat masyarakat dalam mengenakan kebaya dan sanggul membuat Anika Turistriana berinisiatif mengkampanyekan gerakan cinta kebaya dan sanggul. Dua tahun lalu Anika lantas mendirikan komunitas yang berkecimpung dalam mengenalkan budaya Indonesia, Komunitas Pecinta Sanggul dan Kebaya Malang.

Komunitas Sanggul dan Kebaya Malang terbagi menjadi dua bagian yakni Sekar Melati yang anggotanya dari Malang Raya sementara Komunitas Sumariwe beranggotakan warga Dampit dan Malang Selatan. Anika dan anggotanya aktif mengenalkan budaya Indonesia khususnya kebaya, jarik dan sanggul kepada seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali para siswa.
"Kegiatan kami sering diminta ke sekolah untuk mengadakan latihan berjarik dan berkebaya, namun kami padukan dengan kegiatan menarik lainnya yang disukai oleh anak-anak misalnya diselingi flash mob dengan lagu hits masa kini," urai Anika kepada Malang Post.
Tak hanya itu, saat mengedukasi para siswa, Komunitas Pecinta Sanggul dan Kebaya ini juga sering mengajak mereka senam dengan memakai jarik. Mengenalkan dengan getol bahwa jarik dan kebaya bisa dipadukan sesuai gaya masa kini. Misalnya meskipun pakai jarik juga bisa tampil modis tanpa ribet serta dapat dikombinasikan bersama sepatu kets.
Menurutnya, mengedukasi para siswa tentang budaya Indonesia sangatlah berkesan. Di lingkungan sekolah inilah, Anika memberi penjelasan tentang kebaya dan sanggul. Lantas mengenalkan bahwa busana tersebut bisa dipakai sebagai pakaian harian, sekaligus wujud cinta kepada budaya Indonesia dan melestarikannya.
"Pas menjelaskan ini, rasanya sangat bahagia, karena dengan penjelasan ini terselip harapan nantinya mereka akan memakai kebaya, jarik dan sanggul," jelasnya.
Ia melihat zaman yang serba modern ini, mayoritas milenial tidak pernah mengenakan kebaya dan jarik. Bisa dihitung bahkan satu tahun sekali kebaya dipakai saat karnaval atau prosesi wisuda. Mulai lunturnya kecintaan generasi milenial inilah yang membuat Anika prihatin dan getol mengkampanyekan gerakan berkebaya dan berjarik.
Untuk menanamkan rasa cinta terhadap kebaya dan jarik kepada siswa, Anika mengajak mereka praktik cara memakainya. Selanjutnya diajak flash mob atau kegiatan yang membuat mereka tertarik dan senang.
"Kami tanamkan dulu rasa cinta terhadap kebaya dan jarik, pas ke sana lagi guru-guru di sekolah tersebut sudah memakai kebaya sebagai seragam, minimal seminggu sekali atau sebulan sekali, sangat berkesan bagi saya," terang ibu dua anak ini.
Tak hanya mengajak siswa, edukasi budaya ini juga getol dikampanyekan Anika dan anggota Komunitas Sumariwe kepada ibu-ibu PKK. Ia juga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan kelurahan dan kecamatan. Apa yang dilakukannya tersebut tidak dipungut biaya sepeser pun.
Kepada kalangan ibu-ibu tersebut Komunitas Sumariwe Dampit mengenalkan cara mengenakan kebaya dan jarik dengan mudah tanpa ribet. Mengedukasi masyarakat bahwa untuk mengenakan kebaya dan jarik tidak harus mengeluarkan biaya mahal. Sebab komunitas ini memiliki Omah Kebaya yang menyediakan beragam kebaya dengan terjangkau, lebih murah dan berbeda dari harga pasaran.
"Banyak ibu-ibu menilai pakaian ini terlalu mahal, padahal memakai kebaya dan jarik tidak perlu yang mahal atau mewah, di Omah Kebaya harganya jauh lebih murah karena kami atas nama komunitas dan langsung dikerjakan oleh perajin," urai Anika.
Menanamkan rasa cinta terlebih dahulu terhadap kebaya. Apabila rasa cinta tersebut sudah dirasakan akan jauh lebih mudah bagi mereka mengenakan kebaya dan jarik tanpa paksaan. Dari yang awalnya sangat susah mengajak masyarakat, kini Komunitas Pecinta Sanggul dan Kebaya sudah memiliki ratusan anggota terdiri dari Komunitas Sekar Melati 54 anggota dan Sumariwe Dampit sekitar 60 an orang.
Komunitas ini bahkan telah memiliki legalitas pada 18 Oktober 2019 lalu dan telah memiliki nomor induk dari Dinas Pariwisata. Berdirinya Komunitas Pecinta Sanggul dan Kebaya ini dilatarbelakangi keprihatinan Anika terhadap generasi muda yang tidak lagi suka berkebaya. Komunitas ini didirikan untuk melestarikan budaya Indonesia yang telah memiliki sejarah panjang.
Melalui komunitas inilah, Anika ingin mengajak para perempuan mencintai budaya tradisional Indonesia. Misinya sendiri dapat meslestarikan kebaya, sanggul dan jarik sebagai simbol pakaian wanita Indonesia, meningkatkan peran wanita Dampit dan Malang Selatan dalam kemajuan budaya luhur Indonesia. Serta meningkatkan peran wanita Dampit, Malang Selatan dan Malang Raya di bidang sosial, budaya dan penguatan ekonomi kerakyatan.
"Jadi banyak perajin kebaya, bros dan sanggul yang bisa tercakup dalam visi misi ini," tegasnya.
Dua tahun berdiri, perjalanan Anika tidaklah mudah. Pada awalnya masyarakat sangat keras dan enggan mengenakan kebaya dan jarik. Sebab mereka menilai kuno dan cenderung di kandang sebelah mata.
Seiring waktu, anggota komunitas ini semakin banyak bahkan terdapat pula kalangan milenial. Kebaya kini bisa menjadi busana yang modis dan tidak ribet mengenakannya karena beberapa didesain simpel untuk dikenakan sehari-hari. Pemilihan bahan juga diutamakan yang lain katun sehingga nyaman dipakai.
Anika dan anggota komunitas Pecinta Sanggul dan Kebaya dalam kesehariannya menggunakan kebaya dan kain. Namun anggota yang masih sekolah tidak setiap hari mengenakan kebaya sebab banyaknya kegiatan di sekolah yang harus diikuti.
Kegiatan komunitas ini terbilang cukup padat. Seminggu sekali ada latihan menari, paduan suara, berkunjung ke sekolah-sekolah dan kegiatan lainnya. Selain itu juga kerap mengunjungi paguyuban-paguyuban sebagai wujud persatuan perempuan dan mendorong untuk tetap berkebaya.
Semangat mengkampanyekan kebaya dan sanggul yang diawali oleh Anika ini mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Termasuk Keraton Surakarta, secara khusus ia diundang oleh keraton Surakarta tepatnya pada dua bulan lalu.
"Di Keraton Surakarta saya diinterview, ditanyai kenapa mencintai kebaya kenapa getol mengkampanyekan kebaya oleh Pengageng Budaya di keraton tersebut," jelas perempuan yang sehari-hari mengenakan kebaya dan jarik ini.
Anika tak hanya aktif dalam mengkampanyekan budaya Indonesia. Ia juga aktif berorganisasi di Johor Malaysia. Anika menjabat sebagai ketua Komunitas Arema Malaysia (KAM) Johor Bahru dan Komunitas Asli Wong Jowo (Aswojo) Malaysia.
Warga Dampit ini selain memiliki usaha salon rias pengantin di Dampit juga memiliki lini usaha yang sama di Johor Malaysia. Tak heran apabila hingga kini Anika kerap bolak balik Malang - Malaysia.
"Masih bolak balik karena di kedutaan Malaysia saya ditugasi sebagai konsulat budaya KBRI Johor Malaysia," tandasnya.
Dukungan keluarga juga mengalir deras untuk Anika. Bahkan pada waktu yang bersamaan sang suami juga bergerak mengenalkan budaya Cinta Surjan bagi kalangan laki-laki.(lin/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Linda Elpariyani