MalangPost - Apa Jenazah Korban Wabah Dianggap Syahid?

Selasa, 04 Agustus 2020

  Mengikuti :

Apa Jenazah Korban Wabah Dianggap Syahid?

Jumat, 13 Mar 2020, Dibaca : 4239 Kali

TANYA: Terkait jenazah korban wabah penyakit, terutama cara memandikan dan menguburkannya, apakah dianggap sebagai syahid sehingga tidak perlu dimandikan, dan boleh tidak pakai body bags dan lain sebagainya. Mohon penjelasan.

 

JAWAB: Derajat mati syahid dapat dilalui dengan beberapa jalan, salah satunya kematian sebab wabah penyakit. Kalau hanya sebab gugur di medan perang, niscaya akan sedikit sekali umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan derajat mulia syahadah atau mati syahid.

“Rasulullah SAW menguji sahabatnya dengan pertanyaan, ‘Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?’ ‘Orang yang gugur di medan perang itulah syahid ya Rasulullah,’ jawab mereka. ‘Kalau begitu, sedikit sekali umatku yang mati syahid.’ ‘Mereka (yang lain) itu lalu siapa ya Rasul?’ ‘Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah juga syahid, orang yang kena tha’un (wabah) pun syahid, orang yang mati karena sakit perut juga syahid, dan orang yang tenggelam adalah syahid,’ jawab Nabi Muhammad SAW,” (HR Muslim).

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengatakan sabda serupa dengan hadits riwayat Muslim. “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda; ‘Orang yang mati syahid ada lima macam, yaitu orang yang kena tha’un (wabah), orang yang mati karena sakit perut, korban tenggelam, korban yang tertiban reruntuhan, dan orang syahid di jalan Allah.’” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun secara perlakuan terhadap jenazah, ulama membagi dua jenis syahid, yaitu orang yang gugur di medan perang dan orang yang meninggal bukan di medan perang. Orang yang gugur di medan perang adalah jenis syahid yang tidak dimandikan dan disalatkan sebagaimana sahabat yang gugur di zaman Rasulullah. Sedangkan orang yang meninggal bukan di medan perang adalah jenis syahid yang tetap diperlakukan seperti jenazah pada umumnya, yaitu dimandikan, dikafankan (body bags plastik untuk mencegah penularan sementara jika diperlukan), dan disalatkan.

Ulama juga membagi tiga kriteria derajat syahadah atau syahid (merujuk kepada orangnya), yaitu syahid dunia dan akhirat; syahid akhirat, tidak di dunia; dan syahid di dunia, tidak di akhirat.

 

Ketiganya akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan amalnya sebagai keterangan Imam An-Nawawi atas hadits riwayat Muslim berikut ini. “Ulama mengatakan, mereka yang dianggap mati syahid adalah mereka yang gugur bukan di medan perang. Mereka kelak menerima pahala mati syahid di akhirat. Sedangkan di dunia mereka tetap dimandikan dan disalatkan sebagaimana penjelasan telah lalu pada bab Iman. Orang mati syahid terdiri atas tiga jenis. Pertama, syahid di dunia dan di akhirat, yaitu mereka yang gugur di medan perang. Kedua, syahid di dunia, tidak di akhirat, yaitu lima orang yang disebut dalam hadits ini. ketiga, syahid di dunia, tidak di akhirat, yaitu mereka yang gugur tetapi berbuat curang terhadap ghanimah atau gugur melarikan diri dari medan perang,” (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, [Kairo, Darul Hadits: 1422 H/2001 M] juz VII, halaman 72).

 

Kenapa lima orang yang gugur bukan di medan perang tersebut juga mendapatkan derajat syahadah/syahid yang mulia di sisi Allah? Imam An-Nawawi mengutip pandangan ulama bahwa mereka semua itu wafat dengan penderitaan dan kepedihan menahan sakit yang begitu hebat tak terperi sehingga mendapat derajat syahadah/mati syahid.

 

“Ulama mengatakan, semua jenis kematian itu dianggap mati syahid berkat kemurahan Allah SWT karena kekerasan dan kepedihan kelimanya,” (An-Nawawi, 1422 H/2001 M: VII/72). Adapun Abu Dawud meriwayatkan hadits Rasulullah yang menyebut tujuh jenis syahadah atau mati syahid selain gugur di medan perang, yaitu orang yang kena tha’un (wabah), korban tenggelam, orang yang mati karena sakit lambung, orang yang mati karena sakit perut (diare salah satunya), korban terbakar, korban reruntuhan, dan ibu hamil yang gugur dalam persalinan. (nuo/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : NUO