MALANG POST - Arsha Naufal Mauritzan, Jagoan Matematika dari SDI Sabilillah

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Arsha Naufal Mauritzan, Jagoan Matematika dari SDI Sabilillah

Kamis, 30 Jan 2020, Dibaca : 3363 Kali

Mengerjakan 15-20 soal Matematika setiap harinya sudah menjadi kebiasaan rutin siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang, Arsha Naufal Mauritzan. Cintanya pada angka dan perhitungan membuat Arsha, sapaan akrabnya kian tertantang ketika mendapatkan soal-soal baru. Bahkan di mana ada olimpiade Matematika ia berusaha untuk tidak absen. Baik itu olimpiade di Malang, luar kota, nasional maupun internasional.
Sejak kelas 1 SD Arsha sudah dikenalkan pada olimpiade. Bergelut dengan soal rumit, angka dan pemecahan masalah justru membuatnya semangat. Kini 60 medali telah dimilikinya dan 50 di antaranya adalah medali emas.
Kejuaraan internasional yang terbaru yakni Asia International Mathematical Olympiad (AIMO) 2019 di Taiwan. Olimpiade internasional yang diikuti oleh 17 negara ini membuat namanya kian tersorot. Bukan tanpa alasan, sebab disinilah Arsha mendapatkan dua medali emas, satu piala champion dan satu piala Star of Indonesia.
“Star of Indonesia karena nilainya tertinggi dari seluruh kontingen asal Indonesia di grade 4,” ujar Arsha.
Menurutnya, saat ikut olimpiade AIMO 2019 di Taiwan ini adalah soal yang diujikan menggunakan full Bahasa Inggris. Sehingga selain soal Matematika yang sudah sulit, ditambah dengan harus menerjemahkan soal ke dalam Bahasa Indonesia, serta pesaingnya dari berbagai negara.
Apalagi selama ini soal-soal yang sering dikerjakan dalam Bahasa Indonesia, sehingga olimpiade tersebut menjadi tantangan tersendiri baginya.  Soal Matematika yang diujikan juga merupakan soal cerita yang panjang sehingga perlu kejelian.
“Harus menerjemahkan secara cepat karena olimpiadenya ada waktu, sekitar 90 menit,” terangnya.
Berkat prestasinya itulah, Arsha pada Agustus lalu juga berkesempatan diundang oleh salah satu program televisi nasional, Kick Andy. Di acara tersebut ia ditemani sang mama, drg. Ranny Rachmawati, Sp.Perio. Saat itu, Arsha yang berusia 10 tahun telah mengumpulkan 55 medali yang semuanya dari olimpiade Matematika nasional dan internasional.
Lebih lanjut, ia menyukai Matematika karena tantangan. Ketika ada soal yang sulit namun setelah dikerjakan dan bisa memecahkan soal tersebut Arsha merasa puas.
“Karena sudah passion, jadi pas menemukan soal baru itu makin tertantang terus, ada kesenangan tersendiri,” jelasnya singkat.
Kecerdasannya dalam mengurai soal Matematika sudah diketahui sang mama sejak kecil namun belum terlalu kelihatan. Untuk itu, drg. Ranny Rachmawati pada mulanya memberikan banyak kegiatan les seperti di Kumon, melukis, olahraga, renang dan musik untuk mengetahui minatnya dimana.
Namun saat memasuki kelas 1 SD, Arsha meminta untuk les di Kumon saja. Bermula dari situ, Ranny mendukung sang anak untuk mengikuti berbagai ajang olimpiade Matematika.
“Saya mulai tahu kalau Arsha minatnya di Matematika, jadi kami sekarang supportnya berusaha mencarikan dia soal-soal, setiap harinya dia bisa mengerjakan antara 15 sampai 20 soal Matematika, kalau gak ada soal itu dia justru nyari meski Sabtu dan Minggu jadi kita harus update terus,” terang Dosen Fakultas Kedokteran Gigi UB ini.
Tak hanya itu, support terhadap anak pertamanya tersbut juga mendukung kemampuannya tersebut melalui berbagai kegiatan. Misalnya ada kegiatan camp Matematika selama satu minggu ketika waktunya bisa orang tua selalu mendukung.
Begitupun ketika ada olimpiade Ranny turut menemani Arsha untuk mendukung lantaran perlombaan yang diikuti tidak hanya di Malang saja, melainkan di berbagai kota di Indonesia. Sementara olimpiade internasional yang pernah diikuti yakni di Jepang, Taiwan, Hongkong, China, Singapura, Malaysia dan Thailand.
“Untuk mengasah kemampuannya yang intensif ada pembinaan dari sekolah rutin setiap hari, kalau di luar sekolah kami kasih soal-soal ketika ada yang tidak paham, belajarnya sama papanya,” urainya.
Arsha kerap berbagi permasalahan matematika dengan sang papa, Adam Aliyya Machfud, ST.,MT.  Namun ketika papanya tidak di rumah ada guru sendiri untuk membantu memecahkan soal.
“Jadi kadang belajarnya pas papanya di tempat kerjanya (PT. Chevron Ind) soal apa yang tidak bisa itu di foto kirim WA dan papanya yang suruh kerjakan, kebetulan papanya teknik jadi bergelutnya juga seputar matematika,”tandasnya.
Usai mengikuti AIMO 2019 di Taiwan, Arsha juga masih aktif mengikuti kompetisi di berbagai kota dan perguruan tinggi di Malang, Surabaya dan Jember. Bahkan ia pernah mengikuti dua perlombaan sekaligus dalam satu hari.
Dukungan orang tua untuk Arsha memang luar biasa, bahkan mereka aktif mencarikan informasi olimpiade Matematika dari berbagai sumber. Baik dari sekolah, group media sosial maupun dari internet.
“Apapun yang dia mau tentang Matematika kami turuti, karena kalau ada olimpiade Arsha kerap merengek minta ikut,” tandas perempuan berhijab ini.(lin/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Linda Elpariyani