BERPUASA DI MUSIM CORONA

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


BERPUASA DI MUSIM CORONA

Kamis, 16 Apr 2020, Dibaca : 2994 Kali

Menurut Kalender PBNU dan PP Muhammadiyah tahun 2020  ini, diperkirakan awal Ramadan akan jatuh pada Jum’at, 24 April 2020, artinya sebentar lagi kita akan menyambut  awal bulan Ramadan 2020 dalam keadaan luar biasa dibawah ancaman penyebaran pandemi  virus Corona dan pengenaan isolasi domestik atau PSBB  di berbagai kota dan negara dengan penduduk  mayoritas Muslim.


Sejak wabah Covid-19  dinyatakan WHO sebagai pandemi global, banyak kegiatan ritual keagamaan terpengaruh oleh aturan pencegahan penyebaran infeksi corona. Mulai dibatasi atau bahkan dilarang berbagai  kegiatan rutin yang membudaya di kampung. Seperti Istghotsah, Tahlilan, majelis pengajian, ziarah walisongo, acara haflah dan haul di semua pesantren dan  Jumatan di berbagai kota, hingga  untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Masjidil Haram di  Makkah Arab Saudi memutuskan  tidak melaksanakan salat  Jum’ah dan jamaah, ijin ziarah umrah ditangguhkan tanpa batas waktu, dan pemerintah Arab Saudi meminta mereka yang ingin melakukan ibadah haji untuk menunda rencana keberangkatan  mereka mundur hingga musim haji berikutnya tahun depan.

 

Puasa di Musim Corona
Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi seorang Mukmin yang mukallaf. Dalam Alquran dan hadits terdapat dalil yang lengkap mengenai tuntunan berpuasa di bulan suci  Ramadan yang merupakan bagian dari Rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh ummat Islam.


Namun situasi bulan Ramadan pada tahun ini mungkin menyisakan beberapa pertanyaan terkait puasa di musim wabah corona, semisal tentang bolehnya meninggalkan puasa bagi masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan mereka  baik kategori ODP, PDP ataupun positif suspect Covid 19 atau belum terindikasi apa apa.


Secara umum, sejak dahulu para ulama telah sepakat mengenai bolehnya orang sakit untuk tidak berpuasa dan kelak nanti ketika sembuh, dia diharuskan mengqodho’ puasanya (menggantinya di hari lain).
Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah Ta’ala: “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)


Al Imam Ibn Qudamah dalam kitab Al-Mughni (4/403) juga Imam Al-Nawawi dalam kitab  al-Majmu '  (6/261) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kondisi sakit yang membolehkan seseorang tidak berpuasa adalah jika ;
1. Penyakit akan  meningkat karena puasa .
2.  Pemulihan kesehatan tertunda karena berpuasa.
3. Pasien mengalami kesulitan dalam berpuasa meskipun tidak ada peningkatan penyakit dan tidak ada penundaan dalam pemulihan.
 4. Sangat kuatir akan menjadi sakit karena berpuasa.


Dari urain tersebut, dapat disimpulkan bahwa hukum berpuasa bagi ummat Islam di musim corona ini ada tiga kategori :
1.  Pasian suspect corona atau PDP yang memerlukan obat dan penanganan intensif dibawah pengawasan dokter dan  dikhawatirkan beresiko tinggi  jika dia berpuasa,  bahkan akan  mengancam keselamatan nyawanya atau menyebabkan disfungsi salah satu organ tubuhnya, maka penderita  suspect demikian ini wajib berobat dan diharamkan berpuasa.

 

2. Pasien dalam pengawasan atau orang dalam pengawasan petugas kesehatan berwenang yang mengalami kesulitan dalam berpuasa dikarenakan harus menjaga kesehatan tubuhnya dengan olahraga dan minum air atau vitamin secara teratur demi menjaga kekebalan tubuhnya untuk mencegah virus corona maka dia diperbolehkan tidak berpuasa, hukum ini juga berlaku bagi staf  paramedis  dari kalangan dokter dan tenaga perawat  yang bertugas di garis depan   menangani pasien Virus Corona, mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa jika mereka terancam keselamatan jiwanya oleh karena berpuasa.


3. Bagi masyarakat muslim umumnya yang sehat jasmani rohani dan tidak dalam kondisi sakit , maka mereka tetap wajib berpuasa ramadlan secara sempurna  , karena belum  ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara puasa  dan ancaman  infeksi dengan virus Corona baru covid 19.  


Sejauh ini, belum ada studi ilmiah terdokumentasi yang dapat digunakan dalil untuk menyatakan bahwa puasa dapat mempengaruhi kemungkinan infeksi manusia dengan virus covid 19 menurut para dokter  ahli kesehatan dan makanan.
Bahkan dilansir dalam situs kesehatan Alodokter.com,  bahwa  puasa yang sehat  justru dapat bermanfaat secara psikis dan fisik. Secara psikis, puasa dapat menanggulangi stres dan depresi untuk beberapa orang karena mereka belajar untuk mengendalikan diri. Selain itu, setelah beberapa hari berpuasa tubuh akan mengalami peningkatan endorfin dalam darah yang memberikan perasaan sehat secara mental.


Berpuasa dengan diiringi dengan pola makan yang sehat sebelum dan sesudahnya, akan dapat membantu memperbaiki kondisi radang sendi, radang usus besar, dan penyakit kulit seperti eksim dan psoriasis, mencegah kanker, menurunkan resiko diabetes dan menyehatkan jantung.
Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa puasa selama lebih dari 14 jam justru akan memperkuat sistem kekebalan tubuh, beberapa peneliti di University of Southern California tertarik mempelajari kaitan antara puasa dan daya tahan tubuh.  Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh memproduksi sel darah putih baru yang melawan infeksi.


Akhirnya, mari kita berdoa bersama semoga Allah SWT masih memberikan kepada kita kesempatan untuk beribadah puasa Ramadan tahun ini dalam kondisi sehat wal afiat, dan semoga Allah SWT segera mengangkat virus corona ini dari seluruh dunia agar masyarakat kembali dapat bekerja dan beribadah dengan penuh kedamaian. Amien. (*)

Oleh : Dr. KH . Ahmad Fahrur Rozi. M.Pd
Pengasuh PP. Annur 1 Malang, Wakil Ketua PWNU Jatim

Editor : Redaksi
Penulis : Opini