Berpuisi Peristiwa

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Berpuisi Peristiwa

Sabtu, 21 Mar 2020, Dibaca : 4017 Kali

Di tahun 2014, kita mengingat kereta api mulai dingin dan disiplin, sedangkan Pasar Klewer panas dilahap api. Peristiwa itu tidak berlalu begitu saja di mata Uun Nurcahyanti dan bernasib abadi dalam buku puisi berjudul Kereta Puisi Pasar Api (Penerbit Mlaku, 2019). Buku berukuran mungil (12x18 cm) dengan tebal 74 halaman itu pernah terbit lebih mungil lagi (seukuran A6) pada Februari 2015 dengan judul Januari (Penerbit Dumduman Puisi, Solo).

Penerbitan ulang disebabkan banyaknya pertanyaan prihal buku Januari yang sulit ditemui di toko buku ataupun pasar buku lawas. Tahun 2015, buku dicetak tak banyak dan diobrolkan di Bilik Literasi, Solo.

37 puisi disajikan secara urut sesuai peristiwa dalam perjalanan dengan frasa “segerbong puisi”. Ada dua babak riwayat kepenulisan yakni perjalanan berkereta-api dari Kediri ke Solo dan kebakaran Pasar Klewer. Peristiwa-peristiwa dirangkum menjadi kata-kata dengan diksi puitis khas puisi. Bahasa Indonesia hadir ditemani bahasa Jawa dan digenapi 38 catatan kaki berupa penjelasan dan terjemahan. Puisi-puisi seperti tak berjudul serius. Sekian banyak hanya bertagar-nomor sesuai urutan peristiwa dalam tiap episode perjalanannya.

 

Puisi dalam Kereta Api

Kereta membawa manusia dan manusia membawa kata-kata. Barangkali itu yang dialami Uun sebagai penyair yang peka. Ia menyapa pembaca dengan pengakuan: “Stasiun, terminal dan pasar adalah ruang persinggahan pergerakan manusia. Kata bertaburan menunggu dijemput dan dipunguti.” Buku adalah hasil ibadah Uun memunguti kata-kata yang bertaburan di pelbagai tempat. Kita mengingat tulisan Bandung Mawardi dalam esai Bertempat dan Mengingat di buku Pembaca dan Puisi (Penerbit Bilik Literasi, 2017): “Tempat-tempat menjadi puisi, digarap bersahaja tanpa ambisi berlebihan mengubah ‘geografis’ ke imajinasi agak mustahil. Puisi pun mirip pengabaran dan penceritaan agar tempat tetap melekat di diri saat detik-detik terus berputar.” Di mata penyair, tempat dan segalanya adalah puisi.

Pada puisi pertama, pembaca disuguhi imajinasi atas peristiwa seorang bocah dalam kereta yang enggan bisa diam dari gerak. Peristiwa sederhana itu diceritakan Uun dengan diksi yang puitis; mata takjub berhias selidik, gerak memercik amarah, tubuh mungil tak kerdil, dan merangkak seriang gemintang. Kelihaian Uun memilih diksi dan merangkai bunyi membuat puisi bebas dari pengisahan yang klise layaknya berita. Kita mengingat ikhwal bocah yang memang susah diam.

Ketidakbisadiamnya bocah tak melulu terapresiasi sebagai laku aktif, kadang-kadang menuai amarah, seperti yang terkisah di dalam kereta. Kisah mengingatkan kita pada bocah di Jepang bernama Tottochan yang sukar diam dan terus membuka-tutup laci mejanya berulang kali sampai bosan dan sampai ia dikeluarkan dari sekolah di hari pertamanya (Tottochan, 2013).

Peristiwa tidak hanya terbaca oleh mata, melainkan juga hidung—indera penciuman. Ada penghadiran ingatan aroma. Kita kutip #2: penjual nasi ‘Warung Sederhana’/ nasi rames tak banyak rupa// tak lagi wangi daun pisang, dan/ dupa lusuh kertas minyak/ bergincu biting da nisi staples. Sebelum modernitas menyulap kereta, ada banyak penjual berlalu lalang menjajakan dagangan dengan harga yang murah. Di dalam kereta yang belum ber-AC seperti itu, aroma mudah menyeruak. Bahkan, kita bisa tahu wilayah daerah tertentu dengan melihat dagangan yang ditawarkan penjualnya, misal: Nganjuk dengan getuk pisangnya, Madiun dengan pecelnya, Jogja dengan kaosnya, dsb. Uun berkisah di Stasiun Madiun +63: sepi kini, dulu/ ruang tumpah orang/ penumpang-kuli angkut/ mbok-pak-mbak bakul// nasi pecelmu ke mana ini/ tak lagi menyapa kami;/ penumpang kereta api. Ingatan kerap hadir bersama kerinduan. Dan barangkali bukan hanya Uun yang rindu penganan dalam kereta.

Proses berpuisi Uun barangkali terkesan sederhana, seperti pengakuannya “memunguti kata”. Dalam prolog buku, Ngadiyo menuliskan: “Seolah lensa kamera yang membidik objek, ia merekamnya menjadi kata-kata nyata. Ingatan itu melebihi kamera. Mata manusia memiliki rasa yang berkelindan dan saling sapa.” Kita simak kepekaan seorang Uun membaca peristiwa dan mengisahkannya dalam puisi berjudul #16: kakek Pendik pedagang asongan/ nekat nyelonong masuk gerbong barang/ sembunyi di WC saat kereta berjalan// malam ini sialan:/ tertangkap tangan si tua/ Polsuska tega menurunkan di tengah jalan/ bentara persawahan antah ber-entah. Uun, kita duga, tidak hanya melihat dalam bisu. Ia barangkali mengobrol dengan sekian orang di dalam kereta, termasuk seorang kakek bernama Pendik yang bernasib apes diturunkan dari kereta, di tengah persawahan.

Pasar Klewer

Di episode kedua dalam buku ini, kita mula-mula disuguhi kutipan doa berbahasa Jawa, #1: ‘Ya Allah, praingono/ udan ingkang deres/ kajengipun slamet/ pasar kulo’// mulut-mulut tua berkomat-kamit/ antarkan mantra-mantra// mata lelah/ tubuh resah basah/ kata rebah, berbisik/ pertanda pasrah. Kita membayangkan situasi pasar yang kebakaran dan hujan doa serta air mata ternyata tak cukup mampu memadamkannya. Uun terus menyulam kabar peristiwa dalam puisi-puisinya, kita simak kutipan-kutipannya, #2: aku diam-diam merekamnya/ sejelas gending Sekaten/ mengalun lemas memelas., #3: pagi menjelang/ api masih enggan padam., dan #16: kabar itu simpang siur:/ ini kesengajaan!/ bukan, hanya arus pendek// api punah sudah/ kalimat dan prasangka naik ceta malah. Selalu saja, kebakaran baik pasar maupun rumah, mudah mengkambinghitamkan arus listrik.

Seringkali terjadi, peristiwa-peristiwa kebakaran semakin menyedihkan dengan hadirnya orang-orang yang sibuk berswafoto dan memotret dengan menjadikan “musibah” sebagai objek kamera. Uun dengan tegas mengutuknya, #14: tubuh-tubuh penasaran datang/ merubung luka menganga/ membawa senjata masa:/ smartphone dan aneka kamera// tubuh sengsara menjadi objek lensa/ arang pasar terbakar menjadi latar/ fotografi diri// inikah kemajuan?/ modernitas?!. Uun berlanjut menyulam kutukan, #15: tubuh aneka rupa, rasa/ berdesakan; menonton kesengsaraan/ dan nafkah ribuan orang yang tengah/ dihapus alam// tak ada rasa bersalah/ empati, simpati menjadi alibi lumrah/ luka itu tontonan sudah.

Api telah benar-benar padam dan Pasar Klewer mendapati tubuh barunya tapi Uun telah menyimpan sebagian api, luka, air mata dan kata-kata dalam bait-bait puisinya dengan urut, rapi dan puitis. Seberapa pun kecil sebuah api tetap memberi panas. Dan seperti itulah buku ini, buku kecil yang berani merangkum panas-api. Maka, frasa “pasar api” sangat pas dalam menamai diri. Pada hakikinya, Uun telah mengabarkan dua “kematian” pasar yakni terbakarnya Pasar Klewer dan hilangnya pasar kecil di dalam kereta. (*)

Oleh: Muhammad Ali Mas’ud

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Semester akhir.

Editor : Redaksi
Penulis : Muhammad Ali