Bestari Warisan Prof. Dr. Muhadjir Effendy

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Bestari Warisan Prof. Dr. Muhadjir Effendy

Sabtu, 08 Feb 2020, Dibaca : 957 Kali

MALANG - Belajar dan Beramal dengan Semangat Mentari atau akrab dikenal Koran Bestari merupakan lembaga pers kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Koran ini didirikan oleh Wakil Rektor III UMM kala itu yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P.
Koran pertamanya terbit tahun 1987 dengan menyajikan berita seputar dinamika perguruan tinggi termasuk dunia mahasiswa dan tanggungjawabnya sebagai kader bangsa dan umat. Sebab kala itu menjadi mahasiswa adalah sesuatu yang elit. Sehingga Bestari mengulas bagaimana menjadi mahasiswa harapan bangsa.
"Dengan nama Belajar dan Beramal dengan Semangat Mentari atau disingkat Bestari ini adalah semangatnya Muhammadiyah, harapannya selalu bersinar, dibutuhkan ataupun tidak, tulus menyinari memberikan penerangan tanpa mengharapkan apapun," urai salah satu pelopor berdirinya Bestari, Joko Widodo.
Pembantu Rektor III UMM ini, mengisahkan, dulu tahun 1986 saat penerimaan mahasiswa baru, banyak fenomena brosur informasi kampus dibuang begitu saja. Sehingga menarik hati Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. untuk mendirikan sebuah koran. Sebab media masa memiliki kekuatan yakni ketahanan dibaca dan akan dibaca lagi.
Setalah memiliki tim yang cukup koran pertama terbit tahun 1987 dengan tiga sasaran utama sebagai media informasi civitas akademika, media komunikasi dan media publikasi. Hingga kini Bestari banyak mengalami suka cita. Namun di era digitalisasi sekarang banyak tantangan, tidak bisa jika koran dikemas dengan gaya konvensional. Harus menyesuaikan dengan kondisi, misalnya dengan mengkombinasikan media sosial maupun melalui pemberitaan versi online.
"Harus ada onlinenya untuk merawat fanatisme yang dulu ada, agar tetap eksis koran Bestari harus konsolidasi, mau mendengarkan masukan dan kiritikan, juga jangan mudah puas, harus melihat bahwa ini suatu kebutuhan bersama," urai Joko.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa dari masa ke masa perubahan dari segi minat pembaca terus mengalami perubahan, menurun tidak seperti dulu. Terlebih pembaca sekarang lebih familiar dengan gadget sementara basic Bestari adalah media cetak.
Untuk itu demi mengimbangi hal tersebut, Bestari sejak 10 tahun belakangan ini menyuguhkan portal online bagi kalangan milenial. Meski dalam perjalanannya tidak seoptimal media online umum.
Ditambahkan oleh Wakil Pemimpin Redaksi Bestari UMM,  Nurudin, di sisi lain minat baca di Indonesia terbilang rendah dibandingkan dengan menonton dan mendengar.
"Tapi kami bisa terbit satu bulan sekali, lebih mending daripada beberapa perguruan tinggi yang tidak punya pers kampus," ujar Nurudin.
Meski begitu, nyatanya Bestari masih mampu eksis. Korannya terbit setiap satu bulan sekali dengan total ada 24 halaman. Bahkan oplahnya terbilang bagus, 1.000 – 1.500 eksemplar saat liburan kuliah, kuliah aktif 2.000 eksemplar dan saat wisuda mencapai 5.000 eksemplar.
Halaman tersebut terdiri dari  banyak rubrik seputar kampus maupun menyoroti isu-isu terkini. Rubrik tersebut antara lain Tajuk Rencana dengan nama Tera yang berisi berita seputar kampus. Rubrik Serambi berisikan sesuatu yang baru ditujukan untuk masyarakat dan civitas akademika. Serta laporan utama yang membidik peristiwa nasional namun ditinjau dari lokal Malang.
Tak hanya itu ada juga pernik-pernik yang menampilkan hal-hal baru di Malang baik dari segi budaya, kuliner dan wisata yang layak diketahui oleh masyarakat umum. Nur menambahkan Bestari banyak mengalami suka duka.
Dari segi duka dilihat peminat baca rendah sehingga berdampak signifikan terhadap oplah koran. Sedangkan sukanya mahasiswa jadi ikut terlatih tidak hanya meliput yang berkaitan dengan media cetak tetapi juga online.
"Intinya kampus memberikan kepada mahasiswa agar nantinya mereka memiliki pengetahuan dan wawasan yang berguna setelah lulus dari UMM," urai Dosen Ilmu Komunikasi Fisip UMM ini.
Meski hingga kini Bestari sukses menciptakan koran 24 halaman, namun Pers Kampus ini tak lepas dari cobaan terutama dalam hal kedisiplinan. Sebab anggotanya terdiri dari mahasiswa yang tidak hanya mengurusi koran Bestari melainkan juga agenda lainnya. Untuk itu harus tetap dikawal, terpenting adalah mereka mau bekerja, kerja tim dan disiplin.
"Yang terpenting proses bukan hasilnya, koran Bestari terbit antara tanggal 25 sampai 30 setiap bulannya lantaran menyesuaikan dengan kegiatan wisuda kampus," tandas Nurudin.
Ia berharap dengan ke depan minta baca masyarakat meningkat dan tidak mudah termakan Hoaks. Selain itu, Bestari berupaya menyajikan berita-berita yang menarik, walaupun itu hanya sebulan sekali. Atau mengangkat isu-isu yang dibutuhkan dengan dikemas sebagus mungkin untuk membangkitkan kembali semangat membaca.(lin/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Linda Elpariyani