Bonsai Sianci Rp 1 Miliar Karya Petani Junrejo | Malang Post

Selasa, 12 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 17 Okt 2019, dibaca : 24948 , bagus, fino

Sumbangsih terhadap nama harum Kota Batu juga diberikan petani. Pada HUT ke 18 Kota Batu, Malang Post menulis mengenai kontribusi Petani Junrejo untuk Kota Batu. Ia petani sederhana, bersahaja dan polos. Begitulah kesan yang terlihat dari sosok Abdullah, 62 tahun, ketika menerima Malang Post di Jalan Patimura 1, Mojorejo Junrejo Kota Batu.
Dolah, sapaan akrabnya, sedang membawa selang dan menyiram tanaman, mengenakan baju batik, celana kain dan topi. Sehari-hari ia tinggal di Idola Bonsai, tempat yang dimilikinya sejak tahun 2001. Rumahnya sederhana, kecil tanpa pintu, istilahnya tidur ngemper. Namun, di rumah mungil yang mirip poskamling inim ada satu mobil sedan serta satu Toyota Alphard yang terparkir manis.
“Ini saya beli setelah menjual 20 bonsai,” kata Dolah ketika Malang Post bertanya soal Alphardnya.
Di antara ratusan tanaman bonsai spesialisasinya, yakni Sianci, Dolah bercerita bahwa pekerjaan sebagai pegiat bonsai, telah berjalan 26 tahun. Tepatnya, tahun 1993, Dolah memulai budidaya bonsai Sianci. Tanaman ini, bernama Sioping Go di Taiwan.
“Nama latinnya adalah Malphigia SP dan Malphigia Gabra. Jika diurut, maka tanaman ini sebenarnya berasal dari Amerika Latin, Barbados,” ujar bapak tiga anak dan kakek dua cucu tersebut.
Dolah, telah menjual banyak bonsai Sianci yang menjadi spesialisasinya. Dia memiliki empat klasifikasi utama untuk bonsai Sianci. Di bawah Rp 10 juta adalah bonsai suvenir. Lalu, Rp 10 juta sampai Rp 50 juta adalah bonsai kelas C. Berikutnya, bonsai kelas B, dibanderol Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Sementara, bonsai kelas A, harganya Rp 100 juta ke atas.
“Ukurannya sendiri berbeda, di bawah 15 sentimeter, itu bonsai mami, 15 sentimeter sampai 30 sentimeter, small, 30-60 sentimeter, medium, 60-110 itu large, dan ada pula yang 150 sentimeter. Ukuran normal Sianci, bisa setinggi 10 meter,” papar Dolah.
Bentuk bonsai juga diperhitungkan dan diprogram oleh Dolah selama bertahun-tahun. Ada empat tipe bentuk batang bonsai. Yakni, bonsai formal yang bentuk batangnya tegak. Lalu, bonsai informal yang batangnya meliuk-liuk. Bonsai slanting, yaitu bonsai dengan batang yang miring.
Serta, bonsai cascade yang batangnya menurun ke bawah. Dolah bercerita, rekor penjualan Bonsai Sianci miliknya, mencapai Rp 400 juta, dibeli oleh warga asal Pantai Indah Kapuk Jakarta. Dalam waktu dekat, dia berniat ikut dalam pameran, dan membanderol bonsai Sianci kelas A miliknya, dengan harga fantastis.
“Ini akan saya banderol Rp 1 miliar,” ujar Dolah, sambil menunjuk santai tanaman bonsai di sebelahnya.
Dia mengaku telah menjual bonsai ke seluruh penjuru Indonesia, dan pembelinya banyak berasal dari para kolektor yang menggilai bonsai Sianci. Saat ini, Dolah mengklaim hampir tidak ada pegiat bonsai Sianci yang tak mengenal namanya. Bonsai Sianci yang masuk dalam kelas top, sudah diasosiasikan dengan Dolah asal Kota Batu. Tak heran, nama Kota Batu ikut terangkat berkat kiprah Dolah yang getol memelihara bonsai Sianci.
“Sekarang ini, saya memiliki 200-an batang bonsai Sianci kelas A, serta 300-an bonsai Sianci kelas B. Bonsai Sianci ini dikenal bandel, kuat dan tak rewel. Persoalan bonsai sianci sama saja dengan bonsai bandel lainnya, lalat buah, jamur dan ulat. Saya tidak pakai obat, saya jaga supaya bonsai Sianci ini tetap natural,” ujarnya.
Banyak pejabat sudah pernah mendatangi taman bonsainya di Jalan Imam Bonjol tersebut. Menkopolhukam RI, Wiranto yang baru saja terkena musibah, pernah duduk di rumah sederhana Dolah untuk membeli bonsai. Begitu juga, almarhum Taufik Kemas, suami Megawati Sukarno Putri, menggemari bonsai Sianci milik Dolah.
Kendati sukses sebagai pegiat bonsai Sianci, kehidupan Dolah dulunya tak seperti sekarang. Dia dulunya adalah petinju, yang besar di era Wongso Suseno. Sosok almarhum Ebes Sugiyono sangat melekat di hati Dolah. Karena saat itu para petinju mendapat perhatian besar dari Ebes Giyono. Tapi, setelah keluar dari dunia tinju, kehidupan ekonomi Dolah tidak mapan.
“Saya sampai pernah tidak punya rumah. Tapi, saat itu saya dikenalkan teman dengan bonsai, dan mulai saat itu, saya belajar, belajar, belajar, hingga akhirnya dari yang tinggal nunut, kontrak, lalu sekarang bisa beli rumah dan lahan untuk taman bonsai ini,” terang Dolah.
Dia mengaku bersyukur bisa menemukan pekerjaan yang sekaligus menjadi penyalur hobi bonsainya. Menurutnya, kunci sukses menjadi pegiat bonsai, adalah fokus dan kemampuan menangkap spesialisasi. Dolah menyebut, dia mungkin tidak akan seperti sekarang, bila tak fokus mendalami bonsai Sianci.
“Kunci saya adalah menjadi spesialis di bidangnya. Bonsai Sianci di Indonesia, itu sudah terasosiasikan dengan nama saya. Itu karena sejak awal, saya sangat fokus ke bonsai Sianci. Meskipun, ada beberapa spesies bonsai juga yang saya kembangkan, tapi tidak sefokus kepada bonsai Sianci,” tutupnya.(fin/ary)



Kamis, 17 Okt 2019

Kompak dalam Senam Mubeng Batu

Loading...