MalangPost - Bukan Takdir Ayah

Sabtu, 08 Agustus 2020

  Mengikuti :

Bukan Takdir Ayah

Sabtu, 14 Mar 2020, Dibaca : 10599 Kali

Suasana indah yang selalu ada di kampungku ”Alas Tua” karena semua penduduk yang ada d ikampungku ini tenteram tidak ada satupun dari  mereka yang bermusuhan karena mereka saling menjaga satu sama lain. Itulah kampungku, kampung yang terletak  tak begitu jauh dengan perbatasan Pamekasan-Sumenep. Dimana Aku dibesarkan di kampung ini. Kampungku berbeda dengan kampung-kampung yang lain. Karena di setiap musim kemarau datang semua warga kampung tidak kewalahan untuk mencari air. Di kampung ini ada sumber mata air yang keluar dari bawah Batu Besar yang dikenal keramat oleh penduduk sekitar. Tapi air itu hanya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, tidak bisa dipakai untuk merawati ladang para petani yang kian menggersang. Jadi para petani tetap bersabar menunggu datangnnya hujan.
    Di selatan sumber itu terdapat masjid untuk ibadah penduduk kampung yang sampai sekarang masih belum selesai pembangunannya. Di barat dan utara sumber mata air itu terdapat hamparan ladang para petani yang saat ini masih gersang karena sudah lama tidak ada hujan yang turun. Tepat di pinggir sumber mata air itu terdapat jejeran pohon kelapa. Pohon itu menjadi penyerap air ketika musim hujan telah datang, maka dari itu warga kampung tidak sembarang menebang pohon itu agar terlihat sejuk.
    Sudah tiga bulan lamanya kampung ini dilanda kekeringan sehingga punya dampak bagi para petani. Mereka  enggan pergi ke sawah karena sudah terlalu kering untuk ditanami sesuatu, sehingga para petani banyak yang pesimis dan banyak yang sudah merantau keluar Madura demi menafkahi kelurganya masing-masing. Yang petani harapkan sekarang adalah hujan karena mereka sama sekali tidak mempunyai penghasilan, namun hanya sebagian orang yang masih mengelola alternatif pekerjaan. Seperti halnya mengelola kebun atau pohon yang mereka rawat sejak dahulu.
             Semua upaya dilakukan semua warga untuk meminta hujan kepada yang Maha Kuasa. Mulai dari sholat Istisqo’ dan yang lainnya  Menurut berita yang Aku peroleh bahwasanya hujan tidak akan lama lagi akan turun. Warga sangat senang sekali mendengar kabar itu apalagi sampai turun hujan.
***
          
Satu Minggu kemudian…
    Akhirnya musim kemarau telah berakhir, karena tadi malam kampungku diguyur hujan. Aku tahu kalau hujan tadi malam. Karena Aku terbangun dari tidurku tersebab genting  bocor yang belum sempat diperbaiki sebelum datangnya hujan.
    Ladang-ladang yang gersang kini sudah mulai ramai oleh para petani. Mereka berbondong bondong pergi ke sawahnya untuk mengecek ladangnya masin-masing, apakah sudah siap untuk ditanami. Orang Madura mengatakan aobes.
    Kulihat sumber mata air yang dijadikan andalan oleh masyarakat ketika musim kemarau kini sudah penuh terisi oleh air yang keruh. Musim penghujan memang menjadi kebanggan bagi para petani, tapi bagiku tidak. Karena aku harus menempuh jalan yang cukup jauh dan becek untuk sampai ke sekolah membuat Aku malas untuk pergi ke sekolah. Tapi juga menjadi kebanggaan bagiku ketika hujan saat pulang dari sekolah, karena Aku bahagia ketika bermain hujan.
    Ku tak tahu apa yang dibicarakan oleh Ayah selepas pulang dari sawah. Aku beranikan diri untuk menguping dari dalam kamar, apa yang sedang dibicarakan oleh Ayah dengan Ibu.
    “Bu rasanya penghasilanku tidak sebanding dengan usahaku” Suara Ayah pada Ibu meskipun samar-samar menyelinap masuk telingaku.
    “Udahlah pak, kita syukurin apa adanya, mungkin inilah takdir yang diberikan tuhan pada kita”
    “Anak kita kan sudah besar semua buk, sehingga tanggungan kita semakin besar pula padanya”
    Entah apa yang dibicarakan oleh Ayah dan Ibu di luar sana, aku cuma mendengar samar ke telingaku
    “Jika Ibu mengizinkan?”
    “Mengizinkan apa pak?” tanya Ibu pada Bapak
    “Aku akan mencari pekerjaan lain ke Saudi” paparnya pada ibu
    “Apa ke Saudi!” Suara Ibu nadanya semakin meninggi atas apa yang diucapkan oleh Ayah tadi
    “Iya Aku akan pergi ke Saudi untuk mencari nafkah untuk keluarga kita “
    “Ke Saudi ongkosnya mahal Pak. Dari mana Bapak akan dapat uang sebanyak itu” Ibu yang mulai khawatir terhadap Bapak, karena ongkos ke Saudi bukanlah uang yang sedikit.
    “Ibu tidak usah khawatir masalah ongkos, Bapak akan mencari pinjaman”
    “Asalkan pekerjaan itu halal dan dirahmati Allah Ibu mengizinkan Bapak pergi mencari Nafkah untuk keluarga Kita “.

***
    Hujan lagi-lagi mengguyur kampungku. Di pagi hari banyak petani yang keluar rumah rela basah kuyup karena Hujan. Mereka keluar hanya untuk membendung genangan- genangan air dan membajak sawah agar lebih mudah ketika dibajak oleh sepasang sapi.
    Sudah tiga hari ini Ayah tidak ada di rumah. Dia sibuk mengurus administrasi yang dibutuhkan. Segala persiapan sudah Ayah persiapkan. Dia meminta banyak amalan pada Kiai sepuh. Ayah akan berangkat ke Saudi dengan kelima temannya yang akan bertemu di rumah Tekongnya yang mengurus semua admistrasi Ayah.
    Kampungku kembali lagi menjadi hijau dan subur. Banyak rumput yang tumbuh berkat hujan yang sering mengguyur tanah kelahiranku ini. Para petani menaburi sawahnya dengan biji-bijian ataupun padi untuk dijadikan benih. Warga kampung sudah tidak susah payah lagi untuk mengambil air di sumber Alas Tua. Mereka cukup mengambil dari sumur yang ada di ladangnya masing-masing, biasanya kalau musim seperti ini  Aku sering membantu orang tua untuk bercocok tanam,  kala lagi musim liburan sekolah.
***
          Saat keberangkatan Ayah…
    Pagi-pagi sekali Ayah sudah siap untuk berangkat ke Saudi, namun Ayah tidak akan langsung berangkat ke Saudi namun Dia masih akan mengikuti beberapa tes yang ada di ibu kota Jakarta.
    Aku yang masih kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis mengiringi keberangkatan Ayah tuk mengadukan Nasib ke negeri orang. Ayah cuma berpesan padaku di saat tangisku pecah.
    “Nak yang rajin belajar, Ayah akan berangkat, jaga dirimu baik-baik. Ayah berangkat semata-mata hanya untukmu dan keluarga. Ayah hanya sebentar di sana. Ayah akan pulang jika kamu sudah lulus dari sekolahmu, sudahlah jangan khawatirkan Ayah” pesan ayah padaku. Tangisku semakin jadi saat Ayah berpesan seperti itu. Aku tak tega ketika melihat bening air mata tumpah dari mata Ayah, mungkin Dia masih khawatir meninggalkanku dan ibu berdua. Setelah bersalaman dengan Keluarga Ayah langsung berangkat yang diantarkan oleh pamanku ke rumah Tekongnya yang ada di Waru. Tangisku semakin jadi setelah ayah tiada lagi di pandanganku.
    “Udahlah nak jangan terlalu dipikirkan, biar Ayahmu juga tidak kepikiran sama Kamu” pesan Ibu sambil mengajakku masuk ke dalam rumah. Ibu memang selalu tabah, tabah atas apa yang terjadi, ku tidak melihat bening air mata yang keluar dari matanya. Namun yang tampak hanyalah kesedihan.
***
    Hari hariku, ku lalui dengan banyak kesedihan sejak keberangkatan Ayah merantau di negeri orang. Sudah dua hari ini Ayah meninggalkan keluarga. Tadi pagi Ayah sempat memberi kabar kalau Dia sudah sampai di Jakarta lewat telepon seluler ibu. Aku tidak sempat berbicara dengan Ayah, karena aku sudah berangkat pagi-pagi sekali cuma Ayah sempat menitip salam pada Ibu supaya Aku rajin belajar.
    Ayah baru sampai di Jakarta tadi malam jadi Dia tidak sempat menghubungi Ibu. Mungkin Dia capek setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dia baru sempat menghubungi tadi pagi. Aku sangat khawatir dengan keberadaan Ayah sekarang, aku takut di lingkungan Ayah sekarang karena Dia tinggal di kota yang sering terjadi kriminalitas.
***
        Satu bulan kemudian…
    Segala kebutuhan Ayah yang dibutuhkan di Saudi sudah siap semua. Ketika Ayah sampai di Saudi.  Ayah akan bekerja sebagai sopir sehingga dari kemarin Ayah sudah belajar mengemudi.  Seandainya Ayah berangkat bukan menjadi sopir mungkin akan lebih sulit dikarenakan banyak urusan, tidak hanya itu yang dipersiapkan ayah. Banyak hal seperti kesehatan yang diutamakan karena di Saudi dan Indonesia beda suhu.
    Sudah lima hari ini Ayah tidak memberi kabar pada Ibu dan aku. Aku sangat khawatir pada Ayah, Aku sangat malas masuk sekolah karena aku sangat kepikiran sama Ayah. Apakah Ayah sedang sakit di sana atau tidak. Aku yakin jikalau Ayah sakit pasti ada salah satu dari teman Ayah untuk menghubungi keluargaku. Meskipun aku malas untuk pergi ke sekolah namun Aku tetap harus pergi ke Sekolah meskipun dalam keadaan malas. Karena Aku masih ingat pesan Ayah sebelum berangkat ke Saudi.
    Ketika pelajaran berlangsung Aku masih tetap tidak konsen, sulit untuk menyatukan pikiran dan mata pelajaran.
***
    Matahari menyengat tepat di atas ubun-ubun, setiap berangkat dan pulang sekolah Aku dan teman-teman bisa menempuh perjalanan kurang lebih dari satu kilometer. Itupun tanpa sepeda motor. Kita ikut motor ketika ada Motor yang melintas milik tetangga.  Biasanya kami ikut kalau lagi tidak membawa barang atau yang lainnya.
    Rasa lelah sesampainya di rumah, Aku kaget dan menjadi tanda tanya besar dalam benakku. Karena banyak tetangga yang duduk di amperan rumah. Kulihat wajah mereka masing-masing ternyata tidak ada rona kegembiraan yang tergambar di wajahnya. Ruangan langsung sepi saat ku memasuki rumah.
    “ Ada apa ini Paman ?” tanyaku pada Paman yang duduk di kursi kayu.
    “ Tidak ada apa-apa kok” jawabnya kemudian.
    “ Tidak Aku tidak percaya kalau tidak ada apa-apa!” bentakku.
    “ Sudahlah nak yang sabar ya” suara Bibiku yang juga ada dalam ruangan itu.
    “ Ayahmu hilang nak di Jakarta’’
    “Apa!.......... Ini tak mungkin Bik, kemarin Ayah masih ngomong sama Aku’’ tak terasa cairan bening telah membasahi wajahku ditambah dengan keringat yang masih belum kering
    “Mengapa Ayah bisa hilang bik?” tanyaku pada Bibi.
    “Ayahmu dirampok dia diajak oleh temannya ke Tanah Abang, Teman ayahmu menelpon tadi kalu Ayahmu sudah lima hari tidak ada di kontrakan’’ paparnya padaku. Tangisku semakin jadi apalagi Bibi bilang di rampok!
    “Mana ibu bik?” tanya ku pada Bibik.
    “Sudahlah nak hapus air matamu dan jangan bersedih. Cukup Do’a yang bisa kau panjatkan supaya Ayahmu cepat ditemukan’’ papar ibu padaku supaya Aku tidak bersedih.
    Tidak hanya dengan Do’a, kami berusaha untuk menemukan kembali Ayah. Di Jakarta sana teman teman Ayah dan tekongnya berusaha mencari.
***
          Satu minggu kemudian…
    Aku hanya pasrah dan berdo’a atas kejadian yang sedang menimpa pada Ayah. Segala upaya telah dilakukan entah di rumahku atau di Jakarta. Orang yang dipercayai untuk menebak keberadaan seseorang telah kami datangkan namun tetap tidak ada hasilnya. Tapi Aku merasa bahagia setelah orang pintar itu memberi kabar bahwa Ayah masih dalam keadaan bernyawa. Ayah masih kebingungan untuk keluar dari masalah itu.
    Pencarian di Jakarta masih tetap dilakukan di seluruh sudut-sudut kota Jakarta telah dikelilingi oleh temannya Ayah yang satu kontrakan dengannya. Do’a yang tiada henti-hentinya dilakukan setelah Sholat Maghrib yang diikuti tetangga yang lain.
Tiga pamanku baru saja berangkat ke Jakarta tadi pagi mereka akan mencari Ayah di sana. Mereka sangat ambisius untuk menemukan Ayah kembali.
***
       10 hari kemudian…
    Paman pamanku masih semangat mencari Ayah, namun pencarian yang dilakukan selama satu minggu tetap tidak bisa menemukan hasil. Ya Allah selamatkanlah Ayah hamba. Jangan sampai terjadi apa-apa pada Ayah meskipun tiada orang yang mengetahui  keberadaan Ayah sekarang. Segala upaya, usaha Do’a tetap aku  usahakan untuk menemukan Ayah, tapi hasilnya tetap tidak ada gunanya. Mungkin ini takdir yang diberikan Allah pada Ayah dan keluargaku.
***
    Malam yang penuh bintang gemintang bertaburan di angkasa sana. Rembulan kembali bersinar setelah sekian lama tidak menampakkan keindahannya karena diselimuti awan. Seperti biasa setelah Sholat Isyak ku tak henti hentinya melantunkan senandung do’a pada Ayahku tercinta di masjid yang terletak di sebelah Timur rumahku.
    “Fahri!” Ayah memanggilku yang sedang berjalan pulang ke rumah
    “Ayah!” Aku menoleh kebelakang mengucek ngucek mata yang tidak perih. Aku tidak percaya hal ini.
    “Apakah kamu baik-baik saja nak?” tanya Ayah.
    “Seperti yang Ayah bisa lihat sekarang Fahri baik-baik saja dan sehat” jawabku pada ayah.
    “Ayah sangat rindu padamu nak’’
    “ Ayah kemana saja dari kemarin?” tanyaku pada Ayah.
    “ Ayah tidak kemana-mana nak!”
    Selepas itu aku pulang bersama ayah. Ayah berjalan di belakangku
    “ Ayah aku bahagia sekali bisa bertemu kembali denganmu yah…, betulkan kan Yah?” tanyaku pada Ayah. Tapi tidak ada suara yang merespon. Setelah Aku menoleh ke belakang ternyata Ayah tidak ada di belakangku lantas Aku berteriak mamangil-manggil Ayah.
    “Ayah ……Ayah …….Ayah jangan tinggalkan Fahri kembali’’ teriakku setelah ditinggal lagi oleh Ayah entah kemana.
    “Fahri, bangun Fahri “ suara ibu membangunkanku.
    “ Ada apa nak kok mangil-maggil Ayahmu” tanya Ibu padaku.
    “Aku bermimpi bertemu Ayah dan Ayah menghilang seketika’’ ceritaku pada Ibu. Kulihat butiran air mata telah membasahi pipi ibu.
    “Sudahlah nak kita pasrahkan saja ini semua pada Allah. Semoga Pamanmu di Jakarta sana bisa menemukan ayahmu’’

***
    Tangisku tak karuan setelah pamanku pulang kembali ke Madura. Mereka tidak bisa menemukan Ayah kembali. Mereka menyerah begitu saja karena tidak bisa menemukan jejak Ayah. Aku tidak punya harapan kembali untuk mempunyai seorang ayah.
    Tepat pukul 08.00 hanya beberapa orang saja yang datang ke rumahku untuk menayakan kabar Ayah. Dan saat itulah hatiku bisa kembali segar setelah ada telepon dari Tekong Ayah yang masih melanjutkan mencari jejak Ayah. Kami mendengarkan bersama apa yang disampaikan oleh si Tekong.
    “Assalamualaikum “ si Tekong mengucapkan salam melalui telepon seluler yang diletakkan di atas Meja.
    “Waalaikum salam” jawab kami serentak.
    “Apakah benar ini keluarganya Bapak Rasidi? tanyanya pada kami.
    “Iya ini benar dengan keluarga Bapak Rasidi “ jawab Pamanku yang juga ikut serta ke Jakarta.
    “Pak di sini ada surat dan tertera nama Rasidi Pamekasan “ paparnya pada kami.
    “Terus bagaimana isi suratnya?” tanya pamanku.
    “Biar saya bacakan isi suratnya. Assalamualaikum ……. Untuk Haji Ruslan yang ada di Kontrakan sana, saya Rasidi dari Pamekasan masih sehat wal afiat dan sekarang Saya masih ada di Panti Asuhan yang ada di Tanah Abang, salam buat semua keluargaku yang ada di Madura. Dan besok untuk Haji Ruslan harus menjemputku ke panti ini, kalau tidak dijemput saya tidak akan tau nasibku seperti apa’’
Orang yang namanya Haji Ruslan itu tampak serius membacakan isi surat itu pada keluargakuyang hadir di rumah.
    “Alhamdulillah’’ semua keluarga bersyukur.
    “Bapak dapat darimana surat itu?” tanya pamanku.
    “Surat ini ku dapatkan dari seorang pencari rongsokan, dan orang itu diberi langsung oleh Rasidi katanya” papar Haji Ruslan lewat telepon seluler.
    Keesokan harinya Ayah langsung dijemput oleh Haji Ruslan ke panti Asuhan yang dimaksud dalam surat tersebut beserta temannya yang dari kemarin tidak berhenti mencari ayah.

***
        Satu minggu kemudian…
    Ayah sudah ditetapkan tidak bisa berangkat ke Saudi karena dia sudah terlambat untuk berangkat. Seandainya dia tidak hilang mungkin dia sudah berangkat ke Saudi namun takdir berkata lain. Terpaksa Ayah harus kembali lagi ke Madura.
    Dua hari setelah ditetapkan tidak bisa berangkat ke Saudi. Ayah sudah sampai lagi ke pulau garam. Banyak orang yang menyambut kedatangan Ayah mereka ingin mendengar cerita kehilangan Ayah lansung dari orangnya sendiri.(*)

Oleh: Ach. Hoirul Umam, Sana Tengah Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan Madura

Editor : Redaksi
Penulis : Hoirul Umam