Bunga Padma Merekah di MFC Ke 9

Minggu, 20 Oktober 2019

Senin, 16 Sep 2019, dibaca : 426 , bagus, sisca

MALANG - Bunga Padma atau lebih dikenal dengan teratai menjadi “mahkota” dalam event Malang Flower Carnival 2019. Dalam berbagai bentuk, nuansa warna hingga ukuran ia dipersembahkan warga menandakan gelar “Kota Bunga” tetap dimiliki oleh Kota Malang.
Hal ini terlihat jelas dalam setiap penampilan demi penampilan peserta MFC yang tahun ini telah diadakan kali ke 9. Mulai bentuk padma sederhana yang dibakawakan peserta taman kanak-kanak hingga padma menjulang hingga 3 meter sangat epik diperlihatkan.
Beberapa yang menarik perhatian dibawakan oleh peserta MFC dari TK Model Kota Malang. Bunga Padma dibentuk seperti berada didalam sebuah pot bunga yang cantik. Juga ada yang dibentuk seperti serangga kecil ladybug atau kepik.
Yang tinggi menjulang pun juga ada. Ada yang memberi nama “Padma Dewi Kwan Im” ada pula “Padma Garuda” hingga membawakan kostum bunga yang dirangkai seperti sayap elang berwarna-warni teratai.
Bunga padma atau teratai sendiri menjadi tema MFC 2019 . Pasalnya padma sendiri merupakan salah satu ikon Kota Malang, seperti yang selama ini dipelihara dan dirawat di Taman Tugu Kota Malang.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni. Dengan mengusung tema “Padma Nusa” MFC ke-9 ingin kembali mengingatkan warga Kota Malang, bangsa Indonesia bahkan dunia bahwa Kota Malang merupakan Kota Bunga.
“Dengan simbol kelopak bunga berwarna-warni juga menandakan identitas Kota Malang dengan warganya yang beragam dan ramah-ramah,” jelas Ida Ayu.
Ia menjelaskan MFC 2019 kali ini memberikan warga Kota Malang hiburan pameran parade kostum bunga di runway sepanjang 800 meter. Yakni dari Simpang Balapan hingga ujung jalan Terusan Ijen. Dan diikuti 260 orang peserta dengan dibagi dalam dua kategori anak dan dewasa termasuk peserta partisipasi.
Dijelaskannya MFC tahun ini menjadi sebuah penanda untuk perhelatan berikutnya yakni MFC Ke 10 tahun depan. Yang menadakan sudah satu dekade MFC diselenggarakan di Kota Malang dan sudah berhasil masuk dalam Calender Event Beautiful Indonesia.
“Maka dari itu semoga tahun depan diusulkan masuk lagi dalam calendar event nasional karena MFC tahun depan akan kami siapkan lebih besar lagi dan lebih kreatif,” pungkas Kadis asal Pulau Dewata Bali ini.
Sementara itu Chairman MFC, Agus Sunandar menjelaskan Peserta MFC 2019 dibagi menjadi dua, yaitu kategori anak dan dewasa. Kategori anak-anak diikuti peserta yang berumur 6-13 tahun. Sedangkan kategori dewasa / umum berlaku unuk peserta berumur di atas 14 tahun.
Peserta karnaval akan mengenakan busana dengan tiga kriteria utama, yaitu, Glamour, Monumental (berdimensi besar) dan Ergonomis/ nyaman dan mudah digunakan.
 “Kondisi jalannya lurus dan rindang. Cocok digunakan untuk catwalk, street Carnival,” jelasnya pria yang juga Ketua Pelaksana MFC 2019 ini.
Kostum-kostum yang dilombakan dan ikut parade adalah kreasi baru dari para peserta. Sedangkan peserta yang sudah menang tahun lalu tidak lagi bisa mengikuti lomba dengan kostum yang sama.
Hal ini dimaksudkan untuk memicu kreativitas masyarakat, lanjutnya. Dan memunculkan desain desain baru yang lebih inovatif, sehingga kreatifitas masyarakat lebih meningkat lagi untuk menguatkan dan mengukuhkan lagi Kota Malang sebagai Kota Kreatif Dunia.
Meski memajang karnaval kostum bermotif bunga, MFC tetap ramah kepada semua. Event ini disulap menjadi panggung besar ekonomi kreatif. Ada rangkaian kegiatan lain juga yang bisa dinikmati di karnaval ini.
Seperti tarian kolosal, musik dan tarian, juga kostum dengan tema indonesia. Ada 6 sub sektor ekonomi kreatif yang terlibat. Mereka ini adalah kuliner, fashion, seni pertunjukan, fotografi, seni rupa dan seni kriya.
“Pada penyelenggaraan event ke-9 ini, MFC memang berkolaborasi dengan sub sektor lain secara masif. Kami memang sedang menciptakan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Malang. Nantinya sistem di sini memiliki basis kolaborasi. Kami optimistis, Malang akan menjadi kota kreatif di Indonesia, dan bahkan dunia,” pungkasnya.
Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji pun mengapresiasi kerja kreatif warganya. Ia meminta secara khusus agar MFC diadakan lebih baik dan lebih besar lagi ditahun depan. MFC akan menjadi sebuah kebanggaan Kota Malang dan event ikon.
Di mana, di sektor lain pun diharapkan dikembangkan pula. Sutiaji juga menginginkan kegiatan atau event dengan skala besar seperti ini terus bertumbuh di Kota Malang.
“Selain ini, juga kita bakal punya banyak event di Kayutangan yang akan kita kembangkan jadi destinasi heritage. Saya terus minta sumbangsih ide kreatif dari warga Kota Malang. Ayo semua terlibat untuk kota kita ini,” pungkasnya.
Apresiasi pun juga muncul dari Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenpar RI Dra Esthy Reko Astuti MSi yang juga Ketua Pelaksana Calendar of Event Wonderful Indonesia mengatakan senang melihat seluruh komponen masyrakat Kota Malang bisa bersama-sama membangun event membanggakan seperti MFC.
Esthy menjelaskan hal ini perlu dibanggakan karena sebuah event tidak mudah masuk jajaran calendar of event Wonderful Indonesia.
“Ada 6 kurator yang menilai dan mereka memiliki kriteria yang cukup ketat. Ada tiga yang dinilai pertama event harus mengandung budaya lokal yang kuat, kedua adalah Communication Value yakni bagaimana event bisa mempengaruhi dampak sosial seperti umkm dan wisata dan terakhir konsistensi event,” tegas Esthy.
Ketiga hal itu mampu dimiliki MFC dan akan terus menjadi jajaran event dalam calendar event Wonderful Indonesia jika tetap konsisten dengan terus memegang tiga nilai itu. Kemenpar RI tentu akan terus mendukung event daerah yang dapat membawakan kearifan lokal dan melestarikan budaya seperti MFC.
Kedepan ia berharap satu dekade MFC dapat memberikan warna dan kreasi baru. Karena semakin besar dan semakin banyak yang dilbatkan tentu saja perhatian publik akan semakin luas.
Event inipun berjalan dengan parade kostum bunga yang ditunggu-tunggu warga. Beberapa penampilan partisipasi juga ditampilkan. Salah satu diantaranya yang cukup mengundang perhatian adalah penampilan “Pesona Gondanglegi” dari Kabupaten Malang dan penampilan drumband dari SMA Taruna Nala.
Tim Pesona Gondanglegi datang dengan membawa tema kostum suku-suku pedalaman baik dari Indonesia seperti Kalimantan hingga ala Indian. Kemudian penampilan SMA Taruna Nala juga mencuri perhatian karena menampilkan seni akrobat drum band juga ikon hewan hiu mereka yang menabuh drum tanpa henti dan menghentak. (ica/ary)



Loading...