MALANG POST - Cara Adzan bagi Masjid yang Ditutup karena Covid-19

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Cara Adzan bagi Masjid yang Ditutup karena Covid-19

Kamis, 19 Mar 2020, Dibaca : 3249 Kali

Adzan sangat berkaitan dengan jamaah salat. Hukum jamaah menurut madzhab Syafi’i adalah sunnah muakkadah. Meskipun demikian, syariat Islam tidak memberatkan umatnya. Bahkan, syariat membolehkan salat jama’ ketika terjadi hujan deras yang mengakibatkan orang terhalang ke masjid.

 

Anda terhalang pergi ke masjid? Silakan di-jama’ ta’khir dengan asumsi barangkali nanti hujan akan reda, atau salat saja di rumah walaupun salat sendirian, atau lebih bagus bila salat berjamaah dengan keluarga. Karena memang tidak selalu menuntut umat Islam untuk salat berjamaah ketika ada halangan, maka terdapat hadits yang seolah mengganti dari hayya ‘alas shalâh menjadi shallû fî rihâlikum sebagaimana yang terjadi di Kuwait.

 

Banyak hadits yang menjelaskan tentang perubahan atau penambahan redaksi adzan sebagaimana yang dilakukan oleh muadzin Kuwait. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’:  “Suatu ketika Ibnu Umar mengumandangkan adzan di sebuah malam yang dingin di daerah Dlanjan. Kemudian Ibnu Umar menyeru, ‘Salatlah kalian di rumah-rumah kalian!’ Lalu Ibnu Umar memberikan informasi kepada kami, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menyuruh seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan.

 

Setelah itu muadzin mengumandangkan, ‘Hendaklah kalian salat di rumah-rumah!’ dalam sebuah malam yang sangat dingin atau hujan di tengah perjalanan” (HR al-Bukhari: 632).

Sebelum Ibnu Umar melakukan hal tersebut, pada masa Rasulullah, pernah terjadi ketika Nabi dalam perjalanan malam dengan di bawah guyuran hujan, lalu dikumandangkan yang di dalamnya ada kalimat shallû fî rihâlikum setelah hayya ‘alal falâhi sebagaimana hadits Amr bin Aus: “Seorang lelaki dari Tsaqif memberikan kabar bahwa ia mendengar orang yang adzan memanggil Rasulullah maksudnya di malam dengan selimut hujan dalam sebuah perjalanan. Muadzin tersebut membaca ‘hayya ‘alas shalâh, hayya ‘alal falâh, shallû fî rihâlikum’.” (Abu Umar Yusuf Al-Qurthubi, At-Tamhid lima fil Muwatha’ minal Ma’ani wal Asanid,

 

Dalam sebuah riwayat Abdullah bin al-Harits, suatu ketika Ibnu Abbas sedang memberikan ceramah di tengah hari dengan angin lebat. Ketika muadzin sampai pada kalmat hayya ‘alas shalâh, Ibnu Abbas memerintahkan untuk diganti dengan ‘shallu fi buyûtikum’. Karena terasa aneh, masyarakat seolah mengingkari kejadian tersebut. Ibnu Abbas pun menangkap sikap masyarakat tersebut, kemudian mengatakan: “Kegiatan seperti inin sudah pernah dilakukan pada masa orang yang terbaik dari saya” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Fathul Bari, juz 5, hlm. 304) Banyak riwayat itu menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah shallû fî rihâlikum (atau sejenis) dikumandangkan di tengah adzan atau setelah hayya ‘alas shalâh “Demikian yang dipahami oleh Asy-Syafii, dia yang menyatakan dalam kitabnya ‘Jika malam diselimuti adzan, atau angin lebat lagi petang, ketika selesai adzan, muadzin disunnahkan mengumandangka alâ shallû fî rihâlikum. Apabila ada yang membaca kalimat tersebut di tengah adzan setelah hayyya alas shalâh, maka tidak ada masalah” (Ibid, juz 5, halaman 304) Adapun mengganti secara total hayya ‘alas shalâh dan hayya ‘alal falâh dengan shallû fî rihâlikum, hal ini adalah pendapat yang sangat asing. (Ibid) Kesimpulannya, apabila dalam keadaan darurat, seperti wabah Corona sebagaimana merebak belakangan ini, yang menghalangi masyarakat datang ke masjid, kumandang adzan disunnah menggunakan kalimat shallû fî rihâlikum setelah adzan selesai. Jika dilafalkan di dalam adzan, tapi setelah hayya ‘alas shalâh dan hayya ‘alal falâh, hukumnya tidak masalah. Namun, jika sampai mengganti total, ini mengikuti pendapat yang sangat asing. Wallahu a’alam. (nuo/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : NUO