Ciptakan Beras Analog, Siswi MTsN 1 Kota Malang Juara I Inotek 2019

Rabu, 16 Oktober 2019

Selasa, 10 Sep 2019, dibaca : 1209 , bagus, sisca

Apa itu beras analog? Beras yang katanya dapat menjadi salah satu sumber daya alam yang bisa memecahkan masalah ketahanan pangan di Indonesia? Apa bedanya apa dengan beras biasa yang dikonsumsi sehari-hari? Dua orang siswi MTsN 1 Kota Malang, Dania Wijayanti dan Rizqina Faizana bisa menjelaskan hal itu.

Mereka bahkan bisa membuat dan menghasilkan inovasi beras analog yang menginspirasi Pemkot Malang untuk dikembangkan di bidang agribisnis. Dania dan Rizqina saat ditemui Malang Post dalam Pameran Inovasi Teknologi (Inotek) 2019 Kota Malang, Agustus lalu menjelaskan apa itu Beras Analog.
Beras analog adalah salah satu jenis beras yang berbahan baku seperti singkong, tepung sagu, jagung, umbi-umbian, dan beberapa sumber karbohidrat lainnya.
“Beras ini merupakan salah satu program dari Kementerian Pertanian untuk mengurangi ketergantungan konsumsi masyarakat terhadap beras padi dan tepung terigu,” papar gadis berhijab ini.
Memang sudah banyak peneliti muda menciptakan inovasi berupa beras analog, tambah mereka. Namun bedanya, keduanya lebih memanfaatkan tepung ganyong, ekstrak bayam, tiwul (jajanan tradisional) dan protein.
Maka tidak hanya melakukan apa yang diprogramkan atau yang sudah diketahui secara umum, keduanya malah membuat beras analog selangkah lebih maju dari apa yang sudah dihasilkan orang-orang sebelumnya. Hal ini dikatakan keduanya karena mereka berupaya menciptakan pengganti beras padi dengan khasiat yang lebih bagus.
"Protein lebih tinggi, kadar seratnya tinggi dan memiliki indeks glisemik yang rendah sehingga bagus untuk diabetes," jelas Dania.
Menurut Dania, kondisi kebergantungan masyarakat Indonesia akan padi dan beras selama ini berpotensi membahayakan ketahanan pangan nasional. Karena sumber daya alam terbatas. Padahal Indonesia memiliki banyak Sumber Daya Alam (SDA) yang belum termanfaatkan.
Kota Malang sendiri berada di ketinggian 460 hingga 667 mdpl. Wilayah ini juga, tambah Dania berpotensi menjadi tempat budidaya ganyong, bayam dan sebagainya. Apalagi, Dania dan Rizqina banyak menemukan ganyong tumbuh liar di perkebunan warga. Inilah yang menginspirasi keduanya.
Tidak hanya ganyong, bayam juga banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Beberapa perkebunan sayuran ini dapat ditemukan di Kota Malang. Beberapa di antaranya di Kecamatan Kedungkandang dan Blimbing.
“Kita coba beberapa kali, dan mencoba menciptakan inovasi bahan pangan yang mirip dengan beras. Hingga akhirnya, kami putuskan memilih tepung ganyong, tiwul, ekstrak bayam dan protein sebagai pengganti beras. Dan bahan-bahan ini terbukti memiliki khasiat lebih bagus dibandingkan beras biasa,” papar Dania.
Sementara itu partner Dania, Rizqina menambahkan jika beras analog mereka memiliki perbedaan kuat pada warna dan bentuk. Warna yang ditampilkan lebih gelap dengan bentuk yang agak sedikit panjang. Pada rasa, beras analog tidak terlalu manis ketika telah menjadi nasi.
Untuk menciptakan beras yang diteliti sejak setahun lalu tersebut, menurut keduanya sebenarnya tidak sulit. Mereka hanya perlu mencari bahan-bahan di pasaran lalu memprosesnya.
"Kita di sini pakai tepung ganyong karena lebih banyak di pasaran. Lebih efektif dan efisien. Kita sengaja pakai ini biar masyarakat bisa buat juga karena kalau pakai tepung lebih mudah," tambah siswi kelas delapan ini.
Tepung ganyong sendiri adalah tepung yang dibuat dari umbi tanaman ganyong (Canna edulis) yang ditanam tanpa pupuk dan pestisida.
Pada prosesnya, pembuatan beras ini hanya perlu mencampur seluruh bahan dalam satu tempat. Lalu menguleninya dan mencetak bahan menjadi buliran beras. Setelah itu memasukannya ke dalam oven selama 1 jam 50 menit dengan suhu 100 derajat celsius.
Selanjutnya, , beras dapat dimasak dengan cara pada umumnya. Untuk makan biasa hanya perlu memasukkan beras ke dalam rice cooker  selama delapan hingga 10 menit. Proses ini lebih cepat dibandingkan memasak nasi biasa yang mampu memakan waktu hingga 15 menit.
"Dan cara konsumsinya bisa dikonsumsi langsung tanpa lauk atau bisa pakai lauk. Atau dijadikan nasi goreng atau bisa juga pakai susu rasanya kayak gitu juga bisa," tandas Rizqina.
Tidak heran inovasi mereka ini kemudian dilombakan dalam gelaran Lomba Inovasi Teknologi (Inotek) Kota Malang tahun 2019. Kemudian menyabet Juara I di bidang Agribisnis. Mereka terbilang pemenang dengan usia terkecil di antara peserta lainnya yang sudah duduk di bangku SMA, kuliah dan dewasa. Karena keduanya masih duduk di kelas delapan dan sembilan.
Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji pun sempat mengomentari inovasi keduanya. Yang dikatkan sebagai inovasi bidang pangan yang akan dikembangkan pihaknya.
“Ini sangat potensial. Tentu Pemkot Malang akan memberikan jalan bagi inovasi yang memiliki kemanfaatan yang baik seperti ini. Ini akan menjadi inspirasi dan tentunya si innovator akan dilibatkan,” tandasya saat dimintai komentar di event Inotek 2019 Kota Malang belum lama ini. (Sisca/ary)



Loading...