MALANG POST - COVID-19 : Momentum Back to Nature dengan Aplikasi Nutrasetikal dan Pangan Halal

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


COVID-19 : Momentum Back to Nature dengan Aplikasi Nutrasetikal dan Pangan Halal

Senin, 16 Mar 2020, Dibaca : 2145 Kali

World Health Organization (WHO) mengumumkan secara resmi per 11 Maret 2020, Corona menjadi pandemik yaitu, penyakit yang menyebar cepat secara global. Perkembangan mengenai Corona sendiri bisa diikuti melalui website resmi WHO in emergencies. Penyebaran di Indonesia (mengutip dari Data Kemenkes RI), meningkat tajam sejak minggu pertama Maret.

KutipanAlquran surat Al An’am ayat 59, bisa menjadi solusi ketenangan dalam menghadapi penyakit ini.

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Artinya,  “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib,  tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)".

               Surat Al An’am ayat 59 menunjukkah bahwa tak ada hal sekecil apapun yang Allah tidak megetahui dan semua terjadi bukan karena kebetulan semata. Terlepas dari penyebab sebaran Corona, adanya penyakit ini pastinya atas izin Allah SWT. Lalu tugas manusia adalah bertawakal dan berikhtiar secara tauhid yakin akan adanya kehendak Allah. Berperan sebagai civitas akademia, pendekatan science bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan Corona.

Hikmah dari penyakit corona adalah momen dimana hidup sehat menjadi penting. Back to Nature dengan mengaplikasikan ilmu nutrasetikal dan gaya hidup sehat menjadi dorongan tersendiri untuk mengatasi ancaman virus Corona. Nutrasetikal adalah ilmu yang mempelajari senyawa bahan alam yang memiliki manfaat fisiologis atau perlindungan pencegahan terhadap penyakit.

Nutrasetikal sendiri seiring dengan kutipanAlquran dalam surat ‘Abasa ayat 27-32.

????????????? ?????? ?????? (??)????????? ????????? (??)???????????? ???????? (??) ??????????? ??????? (??) ??????????? ???????? (??) ???????? ?????? ??????????????? (??)

Artinya, “Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu (27), dan anggur serta sayur-sayuran (28), dan zaitun serta pohon kurma (29), dan kebun-kebun yang rindang (30), dan buah-buahan serta rerumputan (31), untuk kesenangan kalian dan untuk hewan-hewan ternak kalian (32).”

Allah sesungguhnya memberikan kita solusi bagaimana mengatasi COVID-19(CoronavirusDisease2019) dengan pemanfaatan bahan alam.Indonesia memiliki kekayaan hayati yang seiring dengan keberagaman rempah-rempah yang dimiliki.Secara etnobotani, masyarakat Indonesia sesungguhnya telah biasa mengkonsumsi masakan nusantara dengan resep rempah yang kompleks serta minuman ‘wedang’. Masyarakat Jawa misalnya, telah terbiasa mengkonsumi wedang jahe, wedang uwuh, bahkan STMJ (susu, telur, madu, jahe).Mengimani akan isi dari al qur’an, beberapa bahan yang bisa dimanfaatkan dan telah diteliti secara nutrasetikal sebagai peningkatan sistem imun antara lain : kunyit (Curcuma domestica), temulawak (Curcuma xanthorriza), jahe (Zingiber officinale), kencur (Kaempferia galanga), serai (Cymbopogon citratus).Rempah-rempah tersebut mengandung metabolit sekunder flavonoid, terpenoid, tanin, dan juga alkaloid.

Adanya peristiwa COVID-19 sendiri merupakan pengingat Allah tentang anjuran hidup halal dan thoyyib. Bukanlah suatu kebetulan jika COVID-19 tersebar berawal dari kebiasaan masyarakat Wuhan mengkonsumsi daging dari hewan non halal. Halal berarti diperbolehkan sedangkan thoyyib artinya sehat. Sesuatu yang halal sudah pasti otomatis sehat sehingga dengan mengaplikasikan gaya hidup halal thoyyib sesungguhnya kita telah mempraktekkan healthy lifestyle itu sendiri.

               MengutiAlquran Surat Al Maidah ayat 4,

??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????. Artinya, Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, ”Yang dihalalkan bagimu adalah (makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

               Allah mempertegas anjuran ini pada surat Al Baqarah ayat 172,

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya.”Al Baqarah ayat 172 menggunakan istilah “orang yang beriman” sehingga di dalam prakteknya, gaya hidup halal dan thoyyib benar-benar bentuk nyata keimanan kita kepada Allah.

               Makanan begitu penting karena apa yang masuk ke dalam tubuh akan bergabung dengan DNA. Halal dan Thoyyib, halal dari segi syariat dan juga thoyyib (baik) sehat dengan memanfaatkan ilmu nutrasetikal. Beberapa perguruan tinggi telah menyediakan program studi ilmu dan teknologi pangan, nutrasetikal, bahkan laboratorium untuk mendukung perkembangan nutrasetikal dan pangan halal. Beberapa industri juga telah bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk bersinergi hulu-hilir memproduksi pangan halal thoyyib sebagai langkah preventif (pencegahan) berbagai penyakit di masa mendatang. Sebagai penutup, selalu ada insight dari setiap peristiwa. Tulisan ini merupakan pengingat bahwa sesungguhnya solusi dari Allah sangat dekat dan sederhana karena “simplycity is the ultimate sophistication”.

*Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si

Dosen Muda Universitas Muhammadiyah Malang.

Saat ini mengabdi di prodi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian-Peternakan. Penulis juga tengah mensupport prodi Nutrasetikal (Vokasi dan Pelatihan) serta Laboratorium Sentral UMM. Riset bergerak di bidang Natural Product Chemistry, Nutraceutical, Functional Food

Editor : Redaksi
Penulis : Opini