Dedikasi Mukhlis, Rela Datangi Siswa Tak Miliki Ponsel

Selasa, 26 Mei 2020

  Mengikuti :


Dedikasi Mukhlis, Rela Datangi Siswa Tak Miliki Ponsel

Minggu, 26 Apr 2020, Dibaca : 2643 Kali

MALANG - Bagi siswa kurang mampu di kawasan tapal batas, gawai adalah kemewahan yang sulit digapai. Praktis saja, instruksi belajar di rumah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menghentikan aktivitas belajar mereka.


Mukhlis, A.Ma.Pd, guru SDN Purwodadi 03, Lenggoksono, Tirtoyudo, merelakan waktunya untuk mengajar murid yang tak memilik telepon genggam untuk mengakses belajar daring.
Caranya, Mukhlis mendatangi langsung rumah siswa, satu per satu.
“Sejak instruksi belajar di rumah ditetapkan pemerintah, SDN Purwodadi 03 Lenggoksono Tirtoyudo  juga melaksanakan belajar daring, lewat grup WhatsApp. Tapi, tidak semua murid saya memiliki handphone,” ujar Mukhlis kepada Malang Post.

   Baca juga : Rela Bekerja dengan Dua Sistem


Mukhlis adalah guru kelas 4 dari SDN Purwodadi 03. Dia memiliki 23 murid. Sebanyak 13 siswa memiliki gawai yang dipergunakan untuk belajar daring. 10 siswa lainnya, tak mempunyai handphone. Mereka yang tak ber-hape inilah yang didatangi oleh Mukhlis untuk belajar.
“Minggu pertama sejak ada instruksi belajar di rumah, saya masih belum mendatangi 10 siswa tersebut. Setelah evaluasi, saya rasa perlu ada langkah, karena kasihan dengan anak-anak yang ketinggalan dan tidak memiliki handphone untuk belajar daring,” jelas guru 42 tahun itu.


Mukhlis menunjukkan beberapa foto yang dia ambil saat sedang mengajar siswa-siswinya secara langsung di rumah murid. Setiap hari, dia minimal mendatangi dua siswanya, untuk memberikan pelajaran selama kurang lebih dua jam. Biasanya, dia mendatangi rumah siswa, saat siang dan sore hari. Sebab, dia menjalankan belajar daring di pagi hari untuk siswa yang memiliki gawai.
“Mereka yang saya datangi, ada yang membantu orangtuanya pergi ke ladang saat pagi dan siang hari. Sehingga pelajaran untuk mereka, digelar saat sore dan malam hari,” sambung bapak dua anak tersebut.


Mukhlis mengatakan, mereka yang tidak bisa belajar daring ini berasal dari keluarga ekonomi rendah. Jangankan untuk membeli handphone, untuk makan sehari-hari saja mereka harus berjuang terlebih dahulu. Mukhlis melakukan ini bukan untuk mencari nama, apalagi mengharap imbalan.
“Saya ikhlas dan saya sudah dibayar negara. Masa mau diam saat ada siswa yang tidak punya hape dan tak bisa belajar. Saya malah merasa bersalah. Karena kasihan kalau sampai ketinggalan pelajaran. Kalau tidak bisa mengimbangi temannya lainnya, kasihan,” tambah Mukhlis.


Saat ini, dia menjalankan materi pelajaran untuk para siswa tersebut sesuai kurikulum. Materi pelajaran sudah memasuki tema 9. Mukhlis adalah putra daerah Lenggoksono, yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Sejak tahun 2004, dia telah mengajar di SDN Purwodadi 03.
Tapi, statusnya masih guru sukarelawan (sukwan). Dia tidak dibayar negara untuk mengajar di sekolah tersebut. Dia menerima honor tiga bulan sekali, dengan jumlah Rp 50 ribu. Dia meningkatkan kapasitas sebagai pendidik dengan kuliah D2 di PGSD Universitas Kanjuruhan Malang.


Mukhlis adalah angkatan 2006. Setelah 10 tahun mengabdi, Mukhlis akhirnya diangkat sebagai PNS, pada tahun 2014. Masa kerjanya sebagai pendidik, terhitung 15 tahun berjalan. Sebelum diangkat menjadi PNS, Mukhlis menambah penghasilan sehari-hari dengan menggiatkan wisata di Lenggoksono.


Sampai saat ini, Mukhlis adalah penggerak pariwisata, menjadi Ketua Pokdarwis Bowele Lenggoksono. Di saat akhir pekan dan tak ada kegiatan belajar mengajar, Mukhlis menjalani kegiatannya sebagai pemandu wisata. “Dunia saya sekarang adalah dunia pendidikan dan dunia pariwisata,” tutup pria kelahiran 1978 itu.(fin/aim)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Fino Yudistira