MalangPost - Dianggap Humas, Rasakan Pembredelan

Rabu, 12 Agustus 2020

  Mengikuti :

Dianggap Humas, Rasakan Pembredelan

Sabtu, 08 Feb 2020, Dibaca : 963 Kali

MALANG - Dua sisi yang tidak dapat dipisahkan ketika melihat seorang mahasiswa-mahasiswi yang juga menjadi jurnalis kampus. Mereka memiliki tanggungjawab membuat pemberitaan dan menggali sesuatu yang kritis bersifat membangun di satu sisi juga harus menjaga nama baik kampus juga studi mereka.
Meski begitu pers kampus tetap bertahan dengan segala macam dinamika ini. Hal menarik ini sempat diceritakan beberapa anggota pers kampus di Kota Malang. Mulai dari mengalami turunnya minat baca, menerima sikap represif hingga dilema dengan era digital.
Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Fenomena, FKIP Universitas Islam Malang (Unisma) M. Afnani Alifian menjelaskan tantangan yang dirasakannya sebagai pers kampus kian kompleks dari waktu ke waktu.
“Tantangan yang jelas kian kompleks. Tantangan utama terkait minat baca mahasiswa, bagaimana menurunnya minat mahasiswa untuk membaca,” tutur mahasiswa yang akrab disapa Dani ini kepada Malang Post.
Menurutnya membuat mahasiswa-mahasiswi mau membaca perlu usaha ekstra. Karena, nampaknya kawan-kawannya lebih senang melakukan kegiatan lain selain membaca.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini mengungkapkan tantangan lain yang dirasakan adalah tekanan dari pihak kampus. Kerap dirinya dan kawan pers kampusnya mendapatkan tekanan dan tidak dilibatkan dalam kegiatan kampus.
“Kadang dengan entengnya mereka menganggap pers kampus adalah bagian dari mereka dan harus memberitakan hal-hal baik saja soal kampus,” tegasnya.
Dani melanjutkan, parahnya stigma seperti itu juga muncul dari beberapa dosen yang kurang paham peran dan fungsi pers mahasiswa. Padahal, lanjut Dani, keberadaan pers inilah yang akan menjadi controling kampus, dengan di kritik kampus harus bisa melalukan evaluasi perbaiki.
“Yang ingin saya tekankan di sini, antara pers dan humas kampus itu berbeda,” tandas mahasiswa semester 4 ini.
Tidak hanya itu saja, tantangan lain adalah mahasiswa semakin sedikit yang berminat untuk bergabung di LPM. Kebanyakan dari mereka beranggapan menulis berita itu sulit, bikin opini dan lain lain itu ruwet. Jadi, LPM saat ini dipaksa untuk kreatif sedemikian rupa dengan SDM yang sangat terbatas.
Di Fenomena sendiri, lanjut Dani, sejak angkatan 2020 ini akan memutuskan untuk mencetak majalah secara terbatas saja. Hanya di peruntukkan sebagai dokumentasi LPM dan kepada beberapa fakultas di Unisma. Namun, pembaca luas tetap dapat membaca majalah mereka dengan website yang tengah dirintis.
“Artinya, mau tidak mau harus diakui bergesernya kekuatan media cetak. Karena di website lebih mudah dibawa kemana mana. Secara konsistensi media cetak sudah tergerus oleh media digital. Karena dari segi biaya, kemudahan, dan lain lain media digital lebih menjanjikan,” tukasnya.
Hal yang sama juga dilontarkan Anggota Lembaga Pers Mahasiswa SIAR dari Universitas Negeri Malang (UM), Achmad Fitron Fernanda. LPM nya baru saja mendapatkan tindakan represif dari kampusnya karna hal yang menurutnya tidak berlalasan jelas.
Belum lama ini diceritakan Fitron, sapaan akrabnya, salah satu produk jurnalistik SIAR dibredel. Yakni Buletin SIAR.
“Agustus tahun lalu buletin kita dibredel. Dianggap selebaran sama kampus,” papar Fitron.
Ia menjelaskan buletin SIAR pada saat itu hanya memberitakan fenomena-fenomena yang muncul dalam proses pengenalan kehidupan kampus dalam masa penerimaan mahasiswa baru. Diakui, tidak ada masalah dalam isi tulisan didalamnya.
Hanya saja, pada edisi buletin SIAR sebelumnya, mereka mengangkat isu transparansi anggaran PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) yang kemudian menjadi masalah. Sehingga ia menganggap buletin dibredel karena kampus bersikap preventif.
“Tapi setelah advokasi bisa terbit dan disebar. Saat dibredel itu pihak kampus belum baca. Tapi kemudain dana buletin kami tahun ini diturunkan,” papar Fitron.
Hal-hal ini tidak menyurutkan semangat pers kampus SIAR. Mereka tetap berjalan dan mengikuti apa yang menjadi tugas jurnalis kampus. Memberi informasi tentang apa saja yang menjadi keresahan mahasiswa.
Tidak hanya itu, ke depan mereka juga akan segera melaunching majalah SIAR. Yang sudah disusun dan akan segera dipublish.
“Kita juga mengedepankan digitalisasi. Seluruh platform media sosial kami pakai juga untuk media informasi produk jurnalistik kita. Website juga terus aktif,” pungkas mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis ini.(ica/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina