Disbudpar Provinsi Jatim Turun ke SDN Dinoyo 1

Rabu, 16 Oktober 2019

Jumat, 20 Sep 2019, dibaca : 747 , bagus, asa

MALANG - Tak hanya di Kabupaten Malang, benda cagar budaya juga ditemukan di Kota Malang. Bahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim sudah meninjau temuan Yoni. Tepatnya di di samping ruang Kepala Sekolah SDN Dinoyo 1. Tak hanya di Sd tersebut, dua Yoni juga ditemukan di kawasan Merjosari dan Clumprit.

Yoni di SDN Dinoyo 1 sendiri disebut merupakan bagian terpenting dari bangunan suci agama Hindhu sekte Siwa pada abad ke-8 pada era Kerajaan Kanjuruhan. Pada 18 September lalu, tim dari Disbudpar meninjau temuan Yoni kedua di sebelah ruang Kepala Sekolah. Tim dari Disbudpar terdiri dari lima orang salah satunya Riana Indrawati, yang memberikan pesan agar Yoni agar tetap harus dirawat dan dijaga sebagai warisan pengetahuan bagi anak didik.
"Ini bukan kali pertama ditemukan benda bersejarah, sebelumnya sudah ada Yoni yang lebih besar. Sudah ditindak lanjuti dari Disbudpar Kota Malang tepatnya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bersama arkeolog UM M. Dwi Cahyono, dan yang baru ini ada dari Disbudpar Provinsi" urai Kepala Sekolah SDN Dinoyo 1 Nurul Hidayatus, S.Pd, ketika ditemui oleh Malang Post di ruangannya.
Disebutkannya penemuan Yoni kedua di SDN Dinoyo 1 bermula dari tinjauan perwakilan Dinas Pendidikan Kota Malang yang memberikan saran agar Yoni itu digunakan untuk bahan literasi sejarah kepada siswa. Menindak lanjuti hal tersebut, dewan guru SDN Dinoyo 1 akhirnya menggandeng sejumlah wali murid.
"Kebetulan ada wali murid yang antusias, karena berlatar belakang seni. Ada sekitar tiga orang yang kemudian mulai menggali di sekitar Yoni lama, sejak 20 Agustus. Kemudian setelah penggalian sedalam beberapa 30 cm, mereka menemukan permukaan Yoni yang ukurannya lebih kecil. Itu ketemunya tanggal 23 Agustus," ungkapnya.
Ke depannya, pihak sekolah berencana untuk  memanfaatkan temuan tersebut untuk bahan literasi sejarah bagi siswa. Ruang Kepala Sekolah direncanakan akan dirombak sedemikian rupa dan akan difungsikan sebagai museum mini. Isinya berbagai informasi terkait sejarah Yoni yang disebut merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan tersebut.
Tak hanya itu, salah satu wali murid yang terlibat langsung pada penemuan Yoni kedua di SDN Dinoyo 1 akan mengkreasikan sebuah tarian yang bertema kisah di balik temuan Yoni tersebut. Tujuannya ialah memberikan literasi sejarah kepada siswa melalui karya seni. Adalah Santi Peni Prasetyo salah satu wali murid Kelas 1 SDN Dinoyo 1, yang memang berlatar belakang seorang pelatih seni tari.
Sementara itu, Malang Post juga mencoba mengkonfirmasi terkait temuan Yoni tersebut kepada Arkeolog UM M. Dwi Cahyono. Pria yang akrab disapa Dwi ini membenarkan bahwa penemuan benda bersejarah bukan pertama kalinya ditemukan di wilayah tersebut. Menurutnya, temuan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Dinoyo pada abad 8 sudah menjadi pusat peradaban.
"Dinoyo sendiri kisahnya panjang, disebutkan telah menjadi pusat peradaban sejak abad ke 8 pada masa Kerajaan Kanjuruhan. Menariknya, setelah ditelusuri, SDN Dinoyo 1 dahulu namanya adalah 'Sekolah Kanjuruan'. Kalau tidak salah mulai berubah sejak masa Orde Baru. Pemberian nama tentu erat kaitannya dengan sejarah tempat tersebut," terangnya.
Kemudian dijelaskannya, Yoni adalah simbol sakti dari candi sekte Hindhu Siwa, yang menggambarkan istri Dewa Siwa yaitu Parwati. Yoni harusnya memiliki perangkat lain yaitu lingga, bentuknya silindris. Ia memperkirakan masih bisa ditemukan di sekitar lokasi temuan tersebut. Sebutan umumnya Lingga Yoni, Lingga simbol dari Dewa Siwa dan Yoni simbol dari istrinya Parwati.
Lebih lanjut dipaparkan oleh Dwi, bahwa Lingga Yoni merupakan simbol persatuan antara maskulinitas dan feminisme. Untuk itu, Lingga Yoni juga merupakan simbol kesuburan, baik itu kesuburan tanaman maupun kesuburan manusia. Maka dari itu, Lingga Yoni sering menjadi bagian dari ritual petani atau mereka yang ingin mendapat momongan. Lingga Yoni sendiri disebut diletakkan tepat pada pusat sebuah bangunan suci.
"Letak temuan Yoni menjadi pusat sebuah bangunan suci, kalau dilihat dari ukurannya kurang lebih seperti yang ada di Candi Badut.  Kemungkinan luas bangunan candinya seluas Candi Badut. Mungkin berada tepat di bawah bangunan ruang Kepala Sekolah, kalau luas situsnya bisa sampai tandon air sebelah baratnya. Jadi pas, bangunan suci yang dekat dengan sumber air," ujarnya.
Dwi juga sempat menceritakan bahwa beberapa tahun lalu, Museum Empu Purwa sudah sempat memindahkan Yoni di SDN Dinoyo 1, namun upaya tersebut gagal karena besarnya ukuran dari Yoni. Namun, terdapat sebuah Arca dan Lingga yang sudab dipindahkan ke Museum Empu Purwa. Disampaikannya juga, dahulu sempat ditemukan sejumlah perhiasan perunggu berupa kalung dan anting. Namun belum sempat diambil, dan bangunannya sudah dijadikan dua lantai.
"Saya mengapresiasi sekali SDN Dinoyo 1 ini sangat peduli dengan keberadaan temuan ini, dengan berbagai upaya yang telah dilakukan. Saran saya juga kepada Dinas Pendidikan agar digali bagian kaki Candi di sekitar Yoni tersebut, agar dapat diketahui gambaran struktur bangunan candi secara keseluruhan," tandasnya.



Rabu, 16 Okt 2019

Polemik Batas Usia Nikah

Loading...