dr. Ariani MKes, Bangkitkan Semangat Orang Tua Anak Down Syndrome

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


dr. Ariani MKes, Bangkitkan Semangat Orang Tua Anak Down Syndrome

Senin, 06 Apr 2020, Dibaca : 4881 Kali

Kegelisahan dr. Ariani MKes., SpAK melihat banyak orang tua yang tidak bisa atau sulit menerima anaknya dengan label down syndrome, mengilhaminya untuk mendirikan komunitas Walk Together and Love People with Down Syndrome (WORLDS) lima tahun lalu. Tak jarang para orang tua yang anaknya down syndrome cenderung merasa malu, sedih dan menutup-nutupi kondisinya.

 

dr. Ariani memiliki banyak pasien sindrom down. Saat itu ia berkeinginan menyatukan mereka dalam satu komunitas agar semakin kuat. Berkat kegigihannya mengajak orang tua dari anak sindrom down inilah WORLDS semakin banyak dikenal bahkan anggotanya telah mencapai ratusan. Anggotanya pun tidak hanya dari Malang Raya saja, mereka dari luar kota seperti Blitar, Kediri, Banyuwangi, Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, Jakarta, Kalimantan dan terjauh Payakumbuh Sumatera juga ikut bergabung.
"Di WORLDS saya mengajak satu psikolog klinis dan 4-5 orang tua dengan sindrom down sebagai foundernya," ujar dr. Ariani yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Fakultas Kedokteran (FK) UB ini.


Lima tahun berdiri komunitas ini memiliki total anggota 154 orang. Setiap tahunnya WORLDS kerap mengadakan event besar dalam rangka memperingati Hari Sindrom Down. Kegiatannya berupa seminar-seminar, bakti sosial, kompetisi anak down syndrome dan lain sebagainya.
Perjuangan perempuan berhijab ini juga tak serta mulus. Diawal mendirikan WORLDS ia harus memutar otak bagaimana cara mengajak orang tua difabel agar mau terbuka dan tidak menutup diri.
"Karena kasihan, gara-gara orang tua seperti itu anaknya jadi tidak bisa berkembang dengan maksimal dan sesuai potensi. Akhirnya saya membuat kelas Children cReativity For Tomorrow (CRAFT) setiap Sabtu pukul 11.00 - 12.30," terang Dosen Pendidik Klinis FK UB ini.


CRAFT rutin diadakan setiap Sabtu di House of Fatima Child Center Jalan Sumbing 10 Malang, di klinik Tumbuh Kembang miliknya. Kegiatan tersebut semua gratis, agar peminatnya banyak ia kerap mempromosikannya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) tentang kegiatan tersebut.
CRAFT memiliki beberapa kegiatan untuk para difabel seperti menari, mewarna, menggambar, bermusik (angklung, ketipung dan lainnya) serta masih banyak lagi. Mulanya pesertanya hanya 2-3 anak dengan kesulitan tersendiri saat mengajari mereka.
"Lama-lama lewat getok tular banyak yang datang. Saya bikin gratis supaya tidak ada terlalu banyak alasan untuk para orang tua menolak datang. Saya tahu rata-rata banyak yang sosial ekonomi rendah," jelasnya.


Dia membuat  kelas seni, sebab para difabel dengan berbagai jenis mudah menerima melalui kelas seni. Ternyata benar, mereka rata-rata suka dengan musik, mendengar lagu yang rancak saja langsung joget.
Pada awalnya, para difabel dilatih menari dan beberapa kali pentas. Mengagumkan, lantaran tampilan mereka luar biasa dan respon irang tua sangat positif. Tampilan anak-anak difabel ini pun turut membuka wawasan orang tua bahwa anaknya bisa, menjadi lebih baik, percaya diri, tidak lagi pemalu dan mau bergaul dengan lingkungannya. Orang tua pun lebih percaya diri menunjukkan bahwa anaknya bisa tidak seperti pandangan orang awam yang kerap menjuluki dengan kata anak idiot dan lain sebagainya.
"Saat tampil juga semua gratis, saya tidak ingin uang menjadi penghalang mereka. Alhamdulillah respon orang tua positif," tegas dr. Ariani.


Tak sampai disitu, kepedulian perempuan yang juga seorang pembina di Indonesia Care for Rare Disease (IC4RD) juga menyasar ke orang tua dari anak-anak difabel. Melihat orang tua yang kerap mengantarkan anaknya saat ikut kelas CRAFT tersebut membuatnya berpikir mengapa tidak diberdayakan juga.
Apalagi orang tua yang mempunyai anak difabel sering kali tidak bisa bekerja sebab waktunya 100 persen hanya fokus untuk anaknya. Lantaran difabel sangat butuh perlakuan khusus termasuk obat dan terapi yang menyerap tenaga, waktu dan biaya tidak sedikit.
"Lalu dari ibu-ibu yang sering kumpul antar anaknya latihan tiap Sabtu itu saya coba bikin komunitas namanya ABeKA Mom's Craft dan saat ini sudah ada 60 orang tua," ungkapnya.


Untuk membantu kegiatan di kelas CRAFT, dr. Ariani kembali membentuk komunitas relawan bernama Malang mOm & children VolunteEr (MOVE). Mayoritas relawan ini berasal dari kalangan mahasiswa. Mereka mendaftarkan diri dengan mengisu biodata kesediaan untuk menjadi relawan.
Relawan inilah yang membantu mengajari anak-anak difabel menari, bermain musik, menggambar, mewarna sampai membantuk persiapan apabila ada event pentas dan mendampingi anak-anak.
Kegiatan sosial yang banyak digelutinya ini tidak memberikan penghasilan apapun. Melainkan lebih banyak dr. Ariani justru harus mengeluarkan dana pribadi dan hanya beberapa kali ada sumbangan dari institusi.
Meski harus mengeluarkan dana pribadi bukan menjadi masalah bagi dr. Ariani. Sebab Ketua Kerjasama dan Fasilitas Komkordik RSSA Malang ini merasa sangat bahagia melakukan semua kegiatan sosialnya.
"Saya seneng saja melakukan semuanya kegiatan sosial, ini salah satu passion saya disitu. Saya mendapatkan kebahagiaan jika melihat mereka bahagia," jelasnya.


dr. Ariani ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa anak-anak difabel tidak seperti yang disangka. Anak-anak difabel pun bisa jika mereka diberi kesempatan.
Menurutnya, anak-anak difabel inilah yang Insya Allah sudah dicatat sebagai penghuni surga. Orang yang menghina, meremehkan atau mengejeknya belum tentu punya tiket surga itu.
"Alhamdulillah keluarga, suami dan anak-anak mendukung.  Tidak masalah meski sering saya tinggal di hari keluarga Sabtu-Minggu," tutup dr. Ariani.
Selain dukungan dari keluarga, ia juga bersemangat ketika melihat orang tua para difabel ini turut bersemangat datang setiap Sabtu dan sangat guyub sehingga menyemangati satu sama lain. Dari berbagai kegiatan sosialnya, dr. Ariani diganjar sebuah penghargaan tahunan Idolanesia Award Indonesia Tahun 2018 dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI atas aksi nyata dalam mewujudkan Program Nasional Senyum Indonesiaku. (Linda Epariyani)

Editor : Redaksi
Penulis : Linda Elpariyani