Familie Graaf J. Dinger, Mausoleum Tuan Tanah Belanda | Malang Post

Selasa, 19 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Minggu, 15 Sep 2019, dibaca : 1080 , halim, kris

"Anno Familie Graf J. Dinger 1917" merupakan tulisan yang diukir di bangunan bersejarah peninggalan Belanda di Dusun Wonorejo Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Bangunan layaknya sebuah kastil tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Bangunan peninggalan kolonial tersebut adalah tempat makam Graaf J. Dinger bersama istrinya yang bernama Elisabeth Malvine Ernestine van Polanen Petel, yang konon juga ikut dimakamkan di mausoleum tersebut.
Salah satu tokoh masyarakat Kota Batu, Ulul Azmi menceritakan bahwa makam ini dahulunya digunakan untuk menyimpan peti mati milik Graaf J. Dinger dan sang istri. Meski kedua jenazah itu sempat disemayamkan di tempat tersebut, namun saat ini sudah dipindahkan ke negeri asalnya di Belanda.
"Dulunya mausoleum atau makam ini memiliki bangunan yang cukup indah. Dengan kolam yang mengelilingi bagian bawah bangunan," ujar Azmi membuka cerita kepada Malang Post.
Dijelaskannya, adanya kolam yang mengitari itu dibuktikan dengan keberadaan sebuah jembatan sebagai jalan masuk menuju ke bangunan utama mausoleum ini. Hingga saat ini, jembatan itu masih berdiri kokoh. Meski sudah tak ada air yang mengelilingi bangunan. Tapi pertanian warga.
Azmi menyampaikan, sosok Dinger adalah seorang tuan tanah dari berbagai kebun gula, teh, kopi, dan kina di kawasan Kota Batu. Ia ditugaskan di Kota Batu saat penjajahan Belanda di Indonsia.
"Berjalannya waktu, Dinger meninggal di Kota Batu dan salah satu permintaannya sebelum meninggal adalah dimakamkan di salah satu lahan perkebunan miliknya di Kota Batu. Sehingga dibutlah makam Dinger tersebut," bebernya.
Begitu juga dengan istrinya, yang ikut dimakamkan di tempat tersebut. Makam ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono menambahkan, Van Dinger meninggal tahun 1917. Menurut beberapa literatur, Dinger yang dimakamkan di Kota Batu merupakan administrator, dermawan, direktur Bank Escompto, seorang tuan tanah pemilik perkebunan gula, teh, kopi dan kina.
Imam menerangkan, John Dinger atau Jan Dinger lahir di Amsterdam pada 16 Agustus 1853 dan meninggal 2 Maret 1817. "Cerita dari beberapa sejarah ada yang berbeda. Ada yang bilang meninggal di Kota Batu, ada yang bilang di Tulungagung," imbuhnya.
Namun yang jelas, diungkapkan Imam, Dinger dimakamkan di Kota Batu. Kemudian dipindahkan di Belanda. "Saat ini bangunan cagar budaya tersebut merupakan salah satu peninggalan bangunan sejarah di Kota Batu dan memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi," bebernya.
Untuk menjaga kelestarian, bangunan cagar budaya ini dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah. Dengan begitu, masyarakat dan wisatawan akan mendapat pengetahuan tentang Makam Dinger. Baik sejarah dan peninggalan bangunannya.(eri/lim)



Loading...