MALANG POST - Filosofi Tari

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Filosofi Tari

Jumat, 03 Apr 2020, Dibaca : 1560 Kali

MENARI bukan sekadar hobi bagi Venska Natasha Olivia Wijanarko. Dari menari, wanita
berusia 20 tahun ini juga belajar tentang kehidupan. Sebab menurut Wakil 2 Roro Kabupaten Malang tahun 2018 ini, setiap tarian memiliki filosofi yang berbeda. Dan filosofi itulah diterapkan dalam kehidupan sehari -hari.
Mahasiswi Fakultas  Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mencontohkan salah satunya Tari Bapang. Tari Bapang, kata Venska merupakan tarian asli Malang yang menceritakan salah satu tokoh panji. Yakni Bapang Jayasentika, sosok gagah berani,  tegas dan bertanggung jawab.  “Dari cerita itulah dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.


Tari Bapang  lanjut Venska umumnya dibawakan oleh kaum laki-laki. Namun demikian seiring waktu, banyak juga wanita yang menari tarian tersebut.  “Kalau diartikan untuk kaum wanita ya, sebagai wanita yang kuat, tegas, bertanggung jawab, seperti itu,” tambahnya.
Wanita hobi traveling ini mengaku belajar menari sejak duduk di bangku TK. Oleh orang tuanya dia dimasukkan sekolah tari,  di Sanggar Tari Senaputra  Di sanggar tari tersebut, Venska belajar banyak tarian tradisional. Dia mengaku senang, karena tari tradisional memiliki pakem. Semua gerakannya sudah tertata, dan sangat bagus.
“Awalnya belajar tari tradisional. Tapi kemudian berkembang, sekarang belajar tari kontemporer. Dimana tari tradisional dipadukan dengan dance,” katanya.


Selain mencintai  gerakan tari yang gemulai, belajar menari juga membuat Venska kaya pengalaman. Selain itu memiliki banyak teman. Bahkan karena bakat  itulah, Venska pernah ke Belanda untuk menari.
“Pernah dengan anggota Paguyuban Joko Roro Kabupaten Malang ke Denhaag, Belanda untuk menari. Saat itu evennya Tong-Tong Fair, “ tambahnya.
Selain itu Venska juga beberapa kali ke luar daerah untuk menari.  “Yang sering ke Jakarta, dan Manado,” kata dia.
Sekalipun sekarang tak lagi di sanggar Tari Senaputra, Venska mengaku tidak berhenti menari. Dia memastikan akan terus belajar menari. “Karena memang saya hobi. Jadi meskipun sudah tidak masuk sanggar tari, saya tetap belajar. Biasanya saya belajar di rumah,” ungkapnya.


Kini alumni SMAN 4 Malang ini sempatkan waktu mengajari anak-anak di sekitar rumahnya untuk menari. “Tarian tradisional ini selain filosofinya yang bagus juga merupakan budaya. Tentu saja harus dilestarikan. Jangan sampai budaya ini hilang dan tergantikan oleh budaya barat,” tandasnya.(ira/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Ira Ravika