Guru SMK Pariwisata, Produktif Ilmunya, Produktif Bisnisnya

Selasa, 26 Mei 2020

  Mengikuti :


Guru SMK Pariwisata, Produktif Ilmunya, Produktif Bisnisnya

Kamis, 12 Mar 2020, Dibaca : 1134 Kali

Nak, Kamu kalau jadi guru, dosen atau kyai kamu harus tetep usaha. Harus punya usaha sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharapkan pemberian ataupun bayaran orang lain. Karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokah.(alm KH. Makmoen Zubair)

Pesatnya perkembangan pariwisata di Kota Batu berimbas pada semua sektor kegiatan masyarakat yang mendukungnya juga ikut berkembang dan maju. Di setiap dusun, desa hingga kecamatan, hampir semua warga mengembangkan usaha pariwisata sesuai dengan visi dan misi Kota Batu.
Ada yang menawarkan produk-produk khas kota Batu, menyuguhkan tempat dan lokasi yang mempunyai suasana sejuk dan nyaman dengan membangun home stay, serta beragam pilihan tempat pariwisata yang instagramable dengan tiket masuk terjangkau.
Melihat peluang bisnis pariwisata yang menggiurkan itu, masyarakat Kota Batu dan sekitarnya dituntut mengembangkan kompetensi pribadi maupun kelompok, baik secara teori dan praktik. Khususnya dunia pendidikan yang berada di Kota Batu agar dapat menangkap peluang tersebut dan tidak hanya sebagai penonton pada setiap perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kota Batu, misalnya. Di sekolah pariwisata dengan empat jurusan ini, Tata Busana, Boga, Kecantikan dan Akomodasi Perhotelan, siswa siswi dipersiapkan baik secara teori dan praktik. Harapannyaa bisa bersaing mengikuti perkembangan di Kota Batu khususnya dan  kota-kota lainnya pada umumnya.
Selain kurikulum yang mendukung hal tersebut, guru sebagai pendidik sekaligus motivator siswa diharapkan tidak hanya dapat mentransfer ilmu secara teori saja, tetapi berbekal pengalaman sebagai pelaku usaha. Dengan harapan menjadi guru yang produktif ilmunya sekaligus guru yang produktif dalam hal bisnis, khususnya yang terkait dengan pariwisata.
Setidaknya ada tiga kewajiban bagi seorang guru untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan tersebut. Yaitu mulai perencanaan (menyusun lesson plan), kewajiban mengajar di kelas dan kewajiban melakukan evaluasi hasil belajar peserta didik yang rata-rata dalam lima hari kerja membutuhkan sepuluh jam kerja. Sedangkan pada hari Sabtu merupakan hari libur yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik, baik secara teori ataupun praktiknya. Dengan melihat ketiga kewajiban tersebut maka guru masih bisa untuk lebih produktif baik sebagai guru juga sebagai pelaku usaha.
Guru produktif pada sekolah menengah kejuruan merupakan salah satu ujung tombak. Melihat kurikulum 13 yang sudah direvisi beberapa kali menunjukkan bahwa mata pelajaran produktif memiliki porsi yang lebih banyak setelah mata pelajaran normatif adaptif. Dukungan pemerintah dalam hal ini Kemendikbud yang meluncurkan program keahlian ganda bagi guru sekolah menengah kejuruan menunjukkan adanya pergeseran porsi dalam mata pelajaran produktif. Sehingga berdampak pada kompetensi yang dimiliki oleh guru, baik kompetensi dalam bidang normatif adaptip juga bidang produktif.
Guru produktif adalah guru yang mengajar pada bidang-bidang tertentu yaitu bidang-bidang kekhususan. Misalnya bidang keteknikan, pertanian, pariwisata sains dan lain sebagainya. Dengan produktif ilmu, guru diharapkan bisa memiliki keilmuan yang selalu dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Siswa-siswi era milenial ketika menghadapi kesulitan akan lebih mudah mencari jawaban dengan bantuan teknologi yang sangat maju saat ini.
Guru yang rata-rata masih harus belajar cepat menyesuaikan perubahan zaman maka dengan ilmu yang lebih produktif akan menghasilkan pengembangan ilmu secara bertahap, sehingga siap dengan perubahan yang serba mendadak.

Produktif Bisnis
Tuntutan nyata pada sekolah menengah kejuruan adalah mencetak bos-bos muda milenial yang mandiri dan berjiwa wirausaha alias entrepeneur.
Produktif bisnis secara aplikasi bagi seorang guru dalam kurikulum 13 sudah difasilitasi. Salah satunya pada mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan, dimana guru harus mengajarkan secara teori managemen cara berwirausaha. Juga harus bisa menguasai secara praktik untuk memproduksi barang atau jasa.
“Kewirausahaan merupakan kemauan dan kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai risiko dengan mengambil inisiatif untuk menciptakan dan melakukan hal-hal baru melalui pemanfaatan kombinasi berbagai sumber daya dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dan memperoleh keuntungan sebagai konsekuensinya. (Dedi Ismatullah, 2013:47).
Sementara Basrowi menyebutkan kewirausahaan adalah proses kemanusiaan (human procces) yang berkaitan dengan kreativitas dan inovasi dalam memahami peluang, mengorganisasi sumber-sumber, mengelola sehingga peluang itu terwujud menjadi suatu usaha yang mampu menghasilkan laba atau nilai untuk jangka waktu yang lama. (2011:2).
Dari dua definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kewirausahaan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manusia dimana dalam pelaksanaannya sangat membutuhkan kemampuan yang diselingi dengan kemauan untuk dapat berfikir kreatif, berinovasi sehingga dapat menghasilkan karya-karya baru yang dapat menghasilkan nilai jual.
Agar guru termotivasi untuk menjadi guru produktif, produktif ilmu dan produktif bisnis, salah satu caranya mengembangkan secara praktik kompetensi yang dimiliki dengan memiliki usaha yang dijalankan di luar jam mengajar. Hal ini akan menjadikan guru lebih kompeten dan percaya diri dalam menransfer ilmu kepada siswa siswinya, baik secara teori dan pengalaman bisnis pribadi secara langsung.
Terlebih lagi guru dapat bekerjasama dengan siswa siswi secara langsung dalam dunia usaha. Misalnya usaha kecantikan maka setiap guru produktif mata pelajaran kecantikan, selain mengajarkan ilmu di sekolah juga mempunyai usaha yang bergerak di bidang kecantikan yaitu salon. Guru tata boga mempunyai kegiatan di luar jam mengajar meneriman pesanan makanan, guru tata busana di rumah memiliki jasa menjahit yang kesemuanya dapat berkesinambungan dengan siswa siswinya.
Bila itu bisa diwujudkan masing-masing guru, secara perlahan akan membuka wawasan bagi siswa siswinya bahwa dalam dunia nyata dibutuhkan keterampilan yang baik, hard skill juga soft skill.  Guru yang produktif adalah guru yang produktif ilmunya juga guru yang produktif dalam bisnisnya.(*)

Rokhmawati Nur Aini. S.Pd.MM, Guru SMKN 1 Kota Batu,
Peserta Workshop Guru Menulis Malang Post

Editor : Redaksi
Penulis : Opini