Gus yang Hobi Ngetrail, Paling Tahu Cara Mencairkan Suasana

Rabu, 03 Juni 2020

  Mengikuti :


Gus yang Hobi Ngetrail, Paling Tahu Cara Mencairkan Suasana

Kamis, 19 Des 2019, Dibaca : 11778 Kali

Catatan: Pemimpin Redaksi Dewi Yuhana

Al baqa’ lillah, kekekalan hanya milik Allah SWT. Setiap yang bernyawa pasti akan mati dan kepada Allah lah manusia kembali. Kita meyakini itu. Namun kabar pagi hari (18/12/19) tentang wafatnya Gus Hilman Wajdi, karena kecelakaan di exit tol Purwodadi benar-benar mengagetkan. Malang kehilangan putra terbaiknya.

Bukan, bukan hanya Malang. Indonesia dan umat Islam kehilangan tokoh muda potensial, calon kiai besar pengganti KH. Hasyim Muzadi, sang ayah, yang peringatan 1.000 hari wafatnya beliau baru saja dilakukan minggu lalu (15/12/19).  Gus Hilman digadang akan semakin berkibar dan besar. Memberikan warna pada dunia Islam di Indonesia dan kalangan NU secara khusus. Tapi rupanya Allah SWT lebih sayang Gus Hilman, sehingga memanggilnya untuk kembali ke pangkuan-Nya secepat ini. Dalam usia 43 tahun.
Saya, kehilangan sahabat dan kakak yang luar biasa baiknya. Sosok sahabat dan kakak ini bisa dikatakan klaim sepihak dari saya, klaim kedekatan serupa mungkin juga dilakukan oleh orang lain yang mengenalnya. Karena Gus Hilman memang individu yang ramah, humble, bisa berteman dan dekat dengan siapapun. Gus dan putra kiai besar yang friendly, tidak jaim sama sekali. Sehingga membuat siapapun yang kenal dengannya merasa dekat dan dihargai.
Saya mengenal Gus Hilman sejak pertengahan tahun 2000-an karena kami satu organisasi dalam Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Malang. Organisasi untuk alumni Pondok Modern Gontor. Beberapa kali event silaturahim dan halal bihalal IKPM Malang digelar di Pesantren Al Hikam. Maka koordinasi untuk urusan akomodasi, termasuk permohonan dan undangan ke KH Hasyim Muzadi melalui Gus Hilman. KH Hasyim Muzadi tidak selalu bisa hadir karena aktivitas beliau yang sangat padat. Tapi kami tetap bisa memanfaatkan aula Al Hikam dengan nyaman karena keberadaan Gus Hilman.
Sejak saat itu, kami sering mendiskusikan banyak hal. Tentang politik, kondisi sosial dan isu-isu terkini di masyarakat. Diskusi online via personal chat maupun diskusi bersama teman alumni di sela kumpul rutin IKPM. Bisa dipastikan, diskusi yang awalnya serius akan berubah menjadi canda tawa karena komentar Gus Hilman. Selalu begitu. Dia sangat tahu bagaimana mencairkan suasana.
Di tengah kesibukan sebagai pengasuh Pesantren Al Hikam, Gus Hilman akan menyempatkan diri untuk datang dalam tiap diskusi dan kumpul rutin IKPM. Asal waktunya tidak bertepatan dengan jam mengajar santri, pengajian atau saat menjenguk buah hati tercinta di pondok. Salah satu tempat kumpul favorit Gus Hilman dan para ustadz muda lain di IKPM adalah STMJ Jowo, lokasinya sebelah utara Hotel Savana. Ada banyak topik yang dibahas, dari yang receh, ringan sampai bahasan berat. Dan tentu saja selalu diselingi canda dan humor khas Gus Hilman.
Beberapa kali pertemuan, Gus Hilman datang mengendarai motor trail, dilengkapi jaket ala anak motor. Ia memang suka sekali olahraga adventure ini. Bahkan ada jadwal rutin yang diikuti bersama komunitas trailnya itu. Trip dengan rute panjang dan menantang.
Dengan gaya khasnya yang kasual, saya sering mengatakan, orang-orang yang tidak mengenal dia secara personal, tak akan tahu bahwa Gus Hilman adalah ustadz dan putra kiai terkenal. Dengan motor trailnya, orang menganggap Gus Hilman biker biasa. Dengan gaya santainya di STMJ, pengunjung lain tak akan mengira dia pengasuh pesantren. Tapi begitulah Gus Hilman, selalu apa adanya.
Tentang kesederhanaannya ini, ada salah satu cerita tentang Gus Hilman yang terkenal di kalangan alumni. Usai lulus dari Pondok Modern Gontor Ponorogo, seperti santri lainnya Gus Hilman harus melewati masa pengabdian selama setahun. Ia ditempatkan di Pesantren Nurul Hakim Medan. Mengajar sebagai ustadz di sana. Membaur dengan asatidz lain, baik sesama pengabdi baru atau ustadz lama. Suatu hari, KH Hasyim Muzadi datang ke pondok tersebut. Para asatidz kaget dan heboh. Bagaimana bisa, ulama besar dan tokoh NU itu datang ke pondok mereka. Padahal sedang tidak ada acara dan undangan untuk beliau. Rupanya, KH Hasyim Muzadi datang ke pondok sebagai sosok ayah yang hendak melihat dan menjenguk putranya. Saat itulah semua teman-teman Gus Hilman di masa pengabdian tahu, bahwa ia yang selama ini dikenal humoris dan santai itu adalah putra kiai.  
Gus Hilman bukan sosok yang suka mencari panggung, dan bahkan terkesan menghindari popularitas. Saat peringatan 1.000 hari wafat KH Hasyim Muzadi dan tidak melihat sosoknya di jajaran pejabat serta tokoh yang duduk di panggung, saya iseng kirim pesan ke Gus Hilman. Bertanya, di mana dirinya, kok tidak ada di panggung. “Saya wira-wiri, gak sempat foto. Ini malah asik foto sama anak-anak” jawab Gus Hilman sembari mengirimkan fotonya sedang tertawa bahagia bersama para santri.
Sebagai teman, ada banyak permintaan saya kepada Gus Hilman untuk mau diwawancarai wartawan terkait topik tertentu. Seringnya, dia mau menjawab pertanyaan tapi enggan untuk dipublikasikan. Beberapa tahun lalu, Malang Post punya rubrik Family, yang mengupas sosok kepala rumah tangga dari keluarga muda. Gus Hilman masuk dalam list narasumber redaksi. Setelah melalui lobbying panjang dan alot, ia akhirnya mau diwawancara wartawan. Janjiannya pagi sekali, sesudah subuh, di kediamannya di Al Hikam.
Wawancara untuk beberapa angle berita dan foto selesai dilakukan, tanggal tayang pun sudah ditentukan. Namun belum genap 24 jam pasca wawancara dengan wartawan, Gus Hilman kirim pesan. Jam 02.45 dini hari. “Tolong berita tentang saya nggak usah dimuat ya. Masih banyak tokoh muda lain yang lebih baik dari saya, saya masih harus banyak belajar”. Singkatnya, begitu bunyi pesan Gus Hilman. Segala argumen yang saya sampaikan tidak mampu menggoyahkan kemauannya. Berita batal ditulis.
Gus Hilman baru mau diwawancarai saat kami ada liputan khusus tentang tokoh dan koleksi sarung favoritnya. Liputan untuk edisi lebaran. Itu pun, Gus Hilman sempat membuat wartawan Malang Post nervous dan takut luar biasa. Jawaban singkat via WhatsApp untuk janji temu wawancara membuat wartawan keder. Wartawan itu khawatir ada kata dan kalimat yang menyinggung Gus Hilman. Saat pesan tersebut ditunjukkan ke saya, saya tertawa. Menenangkan wartawan muda yang belum pernah ketemu Gus Hilman. “Orangnya asik dan nggak menakutkan sama sekali kok, (gaya jawaban) ini guyon. Beneran deh, besok kamu pas ketemu dan wawacara pasti santai dan banyak ketawa”.
Saya lihat ekspresi wartawan muda itu masih mengernyit, belum percaya. Keesokan hari, usai ketemu dan wawancara Gus Hilman, saya menanyakan tentang bagaimana suasananya. “Benar mbak, beliau ternyata orangnya baik, asik, santai dan penuh canda. Padahal saya sudah deg-degan,” kata wartawan.
Masih banyak ide dan mimpi besar Gus Hilman. Untuk Malang, umat Islam dan Indonesia, untuk Al Hikam di masa mendatang, termasuk bagaimana kami di IKPM Malang harus mengelola tanah wakaf dan peruntukannya. Juga mimpi besar Yayasan Nahnu Darussalam (Yanada) dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam, di mana Gus Hilman menjadi salah satu Dewan Pengawasnya. Bismillah, teman-teman dan yunior Gus Hilman siap meneruskan perjuangan.
Selamat jalan Gus Hilman. Husnul khatimah in syaa Allah.(*)

Editor : Redaksi
Penulis : mp