Hastag Dirumahaja

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Hastag Dirumahaja

Kamis, 26 Mar 2020, Dibaca : 2613 Kali

Hastag atau tagar dirumahaja (#dirumahaja) ramai di media sosial (medsos). Tagar ini muncul sebagai kampanye agar orang menghindari kerumunan. Sejumlah artis, selebgram, selebtwit, influencer, dan figur publik menyerukan agar masyarakat berada di rumah. Melalui beragam laman medsos, para pesohor mengajak semua orang agar tak mendatangi kerumunan. Tindakan ini penting dilakukan untuk memutus rantai persebaran virus Covid-19 agar tak semakin meluas.

          Presiden Joko Widodo menerapkan jaga jarak sosial (social distancing) guna mengatasi penyebaran wabah Covid-19. Melalui social distancing dihimbau agar belajar, bekerja, dan ibadah dapat dilakukan di rumah. Sejumlah sekolah dan kampus sudah menerapkan pembelajaran daring. Beberapa kantor juga telah menerapkan bekerja dari rumah (work from home). Bahkan sholat berjamaah pun di sejumlah masjid juga telah diganti dilakukan di rumah.

          Pemerintah telah menetapkan wilayah Jakarta dan Malang sebagai zona merah (red zone). Status ini tentu patut diwaspadai. Sesuai protokol kesehatan dalam penanganan masalah ini adalah dengan menjaga jarak aman agar potensi penularan virus bisa ditekan. Selain itu pemakaian masker, cuci tangan, penggunaan hand sanitizer, dan penyemprotan disinfektan juga urgen dilakukan.

 

Anggap Enteng

          Ternyata tak mudah melakukan social distancing ini. Himbauan yang dikeluarkan pemerintah tak bisa berjalan mulus. Himbauan hanya menjadi sekadar himbauan. Di sejumlah tempat masih banyak dijumpai keramaian. Di cafe-cafe dan tempat nongkrong masih bisa dilihat padat pengunjung. Kerumunan di sejumlah cafe di Surabaya dan Malang terpaksa harus dibubarkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) beberapa hari lalu.

          Masih ada sejumlah masyarakat yang menganggap enteng terhadap situasi genting saat ini. Dalam situasi seperti ini orang harus memikirkan tak hanya keselamatan pribadinya, namun juga kelompok masyarakat yang lain. Dengan menganggap enteng masalah ini dan merasa bahwa dirinya kebal tak akan terkena virus dapat membuat teledor. Hingga himbauan agar tetap berada di rumah selama masa kritis tak dihiraukan.

          Beberapa pemerintah daerah seperti di Jakarta sudah menutup beberapa tempat hiburan. Di Surabaya, Malang, dan Batu tempat hiburan yang biasanya dipadati massa juga sudah ditutup. Di sejumlah ruang tunggu, seperti di rumah sakit, juga telah diberlakukan jaga jarak. Kursi tempat duduk diatur sedemikian rupa agar orang tak saling berdekatan. Di transportasi publik, seperti di pesawat juga dilakukan pengaturan jarak tempat duduk.

          Namun di sejumlah tempat kerumunan anak muda, seperti di café dan pusat perbelanjaan masih terlihat padat pengunjung. Keputusan sejumlah sekolah dan kampus untuk menjalankan perkuliahan daring tampaknya menjadikan sejumlah siswa dan mahasiswa berjubel di café untuk mencari wifi gratis. Tak sedikit anak muda yang cuek dan tak menyadari akan bahaya penularan virus mematikan ini.

          Kebijakan bekerja di rumah juga ada yang memahami seperti hari libur. Sehingga waktu di rumah yang idealnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor tetapi tak dilakukan. Beberapa orang justru menyalagunakan waktu bekerja di rumah untuk pelesir dan mendatangi kerumunan seperti layaknya saat liburan. Perilaku tak disiplin ini cukup membahayakan karena potensi penularan virus bagi orang yang berada di kerumunan sangat tinggi.

          Menganggap enteng bahaya dan penularan virus Covid-19 akan menyulitkan upaya pencegahan  persebaran virus berbahaya ini. Coronavirus 2019 (Covid-19) memang bisa disembuhkan, atau bahkan mampu sembuh sendiri karena imunitas tubuh yang bagus, namun semua orang juga berpotensi bisa terkena virus ini. Untuk itu masyarakat tak bisa menganggap enteng virus ini, justru semua orang harus meningkatkan kewaspadaan.

 

Perlu Disiplin

          Himbauan pemerintah agak kita di rumah saja dan menjauhi kerumunan harus didukung oleh semua pihak. Perlu kedisiplinan masyarakat guna mewujudkan upaya persebaran virus ini agar bisa ditekan. Mestinya tak perlu sampai ada Satpol PP atau Polisi yang membubarkan kerumunan di café-café atau beberapa tempat hiburan. Kerelaan untuk mengisolasi diri hendaknya datang dari kesadaran masing-masing personal.

          Kedisiplinan diri ini merupakan bentuk solidaritas antar sesama warga. Karena virus ini dapat menjangkiti siapa saja maka setiap pribadi hendaknya tak membuka peluang dirinya tertular yang pada akhirnya dapat menulari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kesadaran dan kedisiplinan untuk menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan menjadi sesuatu yang harus ditegakkan oleh setiap orang.

          Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus positif virus Covid-19 pada 4 Maret 2020 lalu, kini jumlah korban terus membesar. Data per Minggu (22/3/2020), ada 514 kasus positif Covid-19. Total pasien yang meninggal sebanyak 48 orang, dan yang sembuh 29 orang. Tentu semua orang tak ingin jumlah korban akan terus bertambah, sehingga semua harus mendukung keputusan pemerintah melakukan social distancing ini.

          Kedisiplinan diperlukan tak hanya dengan menghindari kerumunan, namun juga disiplin menjaga kesehatan. Pemerintah telah mengeluarkan petunjuk atau protokol dalam penanganan masalah ini. Protokol yang dibuat hendaknya dijalankan dan dipatuhi agar penanganan pandemi Covid-19 ini segera bisa membuahkan hasil maksimal. Masyarakat juga tak perlu panik berlebihan karena beragam informasi terutama di medsos yang belum tentu kebenarannya.

          Manusia pada dasarnya memang makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa orang lain. Pembatasan menjaga jarak sosial dan ajakan di rumah saja ini memang tak gampang. Kebiasaan belajar di sekolah dan kuliah di kampus, bekerja di kantor, dan beribadah berjamaah di tempat ibadah tiba-tiba harus diganti di rumah saja. Bagi banyak orang, perubahan perilaku ini pasti menimbulkan kejenuhan dan kebosanan.

          Semua orang pasti berkeinginan badai virus Covid-19 ini agar segera berlalu. Untuk itu semua orang hendaknya juga mendukung upaya penanganan persebaran virus ini dengan disiplin mengikutinya. Mari ikuti protokol penanganan masalah ini dengan di rumah saja dan meminimalisir mendatangi kerumunan. Sesungguhnya belajar, bekerja, dan melakukan aktivitas di rumah itu menyenangkan. Bukankah sebuah pepatah mengatakan “rumahku adalah surgaku?” Maka, #dirumahaja. (*)

 

Oleh: Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Editor : Redaksi
Penulis : Opini