Hidup Harus Diperjuangkan

Rabu, 27 Mei 2020

  Mengikuti :


Hidup Harus Diperjuangkan

Jumat, 13 Mar 2020, Dibaca : 1542 Kali

Sudah pintar, cantik pula. Seperti itu sosok Adhinda Agustine. Dia dosen di Fakultas Imu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Menjadi seorang dosen adalah pilihan hidup, gadis kelahiran Banyuwangi 16 Agustus 1992 ini. Perempuan yang akrab disapa Dhinda ini, ingin membagikan ilmu serta mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
“Semua ini berawal karena kegagalan yang berbuah kesuksesan,” kata Dhinda saat ditemui Malang Post di Unmer Malang.


Perempuan tiga bersaudara ini, sejak kecil sudah menempa diri dengan kehidupan keras dan tidak bergantung pada orang lain. Jauh dari orang tua menjadikannya pribadi yang tangguh dan mandiri. Kemandirian Dhinda tampak dari bagaimana dia tumbuh dewasa.
Sejak sekolah, perempuan yang memiliki suara ayu ini tidak pernah mengeluh. Tidak pernah cengeng, seperti perempuan-perempuan di masanya. Justru Dhinda menanamkan pada dirinya jika hidup itu adalah perjuangan untuk meraih sukses. Karena kesuksesan tanpa perjuangan adalah omong kosong.
"Waktu SMA saya ngekos karena posisi rumah dengan sekolah jaraknya mencapai 31 Kilometer. Kemudian lanjut studi hingga ke perguruan tinggi di Malang juga ngekos, bahkan tanpa sepeda motor. Jadi tidak hanya seorang pria yang harus mandiri tetapi perempuan juga bisa mandiri,” urai perempuan yang baru saja menikah Desember lalu.


Diakuinya, perjuangan untuk menempuh S2 ini tidaklah mudah. Ketika S1 di UB dulu, dirinya harus menabung dengan berjualan jajanan keliling kampus sambil kuliah. Dia harus bangun tengah malam untuk menyiapkan jualannya tersebut, untuk dijajakan esok paginya di kampus. Perjuangan yang tak kenal lelah itu akhirnya membuahkan hasil.
“Sejak kuliah saya memang jualan jajanan keliling kampus, karena ingin punya uang hasil keringat sendiri. Selain itu juga meringankan beban orang tua,” lanjutnya.


Kesibukan tersebut tidak membuat Dhinda mengabaikan kewajibannya sebagai mahasiswi keitka itu. Hal ini dibuktikan dengan berbagai prestasi yang berhasil dia raih. Dia bisa menyelesaikan S1 hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude hingga ke jenjang S2. Dia juga pernah dinobatkan sebagai duta Pariwisata di Banyuwangi hingga saat ini.
Menjadi sebagai dosen adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Perjuangan melamar pekerjaan dia lalui dengan liku yang menyedihkan. Kata gagal sudah mejadi hal biasa di telinganya. Justru karena gagal dia menjadi seperti sekarang ini.
“Ditolak pekerjaan sudah sangat sering, namun itu tidak membuat saya patah semangat justru malah membangkitkan saya,” kata dia.


Baginya, sebagai seorang dosen, ilmunya tidak cukup hanya dalam tataran akademisi saja. Untuk itu, dirinya juga mendalami dengan melakukan sebuah penelitian. Kemudian dengan mempraktikkannya melalui berbagai kegiatan yang dia lakukan. Sehingga keilmuan tersebut dapat dikuasai dengan lengkap, tidak hanya sebatas teori, tapi juga implementasinya dalam kondisi yang nyata.


Menurutnya, sebagai anak muda, memiliki sosok orang yang bisa menginspirasi dan dijadikan panutan sangatlah penting. Sebab, bercermin dari pengalaman-pengalaman orang lain bisa memproyeksikan masa depan ke arah yang lebih baik.
"Intinya, bagi yang ingin sukses teruslah berusaha, gagal ya coba lagi. Karena kalau kita hanya bisa membayangkan dan memikirkan saja mana mungkin kesempatan itu datang sendiri," tandasnya.(mp4/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Agiem Cristian