Hidup Tenang dengan Berdamai pada Perbedaan

Selasa, 26 Mei 2020

  Mengikuti :


Hidup Tenang dengan Berdamai pada Perbedaan

Sabtu, 14 Mar 2020, Dibaca : 1347 Kali

Hidup damai adalah dambaan semua orang. Apalah artinya hidup bila hidup berdampingan tapi tak pernah damai. Kata damai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; dan aman. Adanya perbedaan sering menyebabkan ketidak rukunan. Karena perbedaan tersebut menyebabkan seseorang mudah berselisih paham. Bayangkan saja, meskipun kita sudah hidup berdampingan dengan tetangga yang sudah satu ras dan satu suku masih saja bisa berselisih paham akibat dari perbedaan persepsi. Karena setiap manusia tidak selalu memiliki persepsi yang sama.

Pemikiran bahwa sesorang yang memiliki perbedaan suku, ras, budaya, dan agama bukanlah orang yang pantas untuk dihargai atau dihormati masih saja ada di zaman kemajuan teknologi dan serba modern sekarang ini. Pemikiran ini dapat timbul karena kurangnya wawasan masyarakat dalam menerima informasi, atau dikarenakan ketidak-sadaran terkesan tutup mata dan seolah bersikap tertutup atau menolak perbedaan yang ada. Suatu perbedaan bila dilihat dan hadapi dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang baik. Sebaliknya, jika perbedaan tidak mampu dilihat dan dihadapi dengan baik maka akan dapat membawa petaka.

Baru – baru ini telah terjadi kerusuhan yang terjadi di India tepatnya di New Delhi. Konflik tersebut terjadi akibat dari pengesahan Undang-Undang amandemen kewarganegaraan India. ParlemenIndia menerbitkan Undang-Undang yang mana akan memberikan kewarganegaraan India kepada para imigran dari tiga negara tetangga (Pakistan, Afghanistan, Bangladesh) kecuali jika mereka adalah Muslim. Seperti dilansir AFP, Jumat (28/2), UU Amendemen Kewarganegaraan yang kontroversial ini dinilai mempercepat perolehan status kewarganegaraan bagi penganut agama minoritas, termasuk Hindu, Sikh, Budha, Jain, Parsis dan Kristen dari tiga negara tetangga tersebut, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Partai-partai oposisi mengatakan UU itu tidak konstitusional karena mendasarkan kewarganegaraan pada agama seseorang, dan akan semakin meminggirkan 200 juta komunitas Muslim di India. Kerusuhan yang terjadi adalah antara umatHindu dan Umat Islam yang saling melempar batu. Konflik tersebut menyebabkan sekitar 38 orang meninggal dunia dan sekitar 200 orang luka-luka. (cnnindonesia.com)

            Menurut pandangan saya, konflik tersebut dapat dihindari bila Undang-Undang yang dibuat tentang kewarganegaraan tidak didasarkan pada agama seseorang. Agama merupakan suatu hal yang sangat sensitif. Karena agama menyangkut suatu keyakinan antara manusia dengan Tuhannya. ApalagiUndang – Undang yang dibuat tersebut membuat umat imigran muslim di negara tersebut merasa terkucilkan. Walaupun umat Islam hanya minoritas, tetaapi mereka miliki hak untuk menganut kepercayaannya masing-masing. Dan semua orang yang hidup memiliki hak untuk menganut kepercayaannya masing-masing, tidak bisa seseorang menganut agamanya karena paksaan agar mendapatkan kewarganegaraan. Parlemen negara tersebut akan lebih baik jika bersikap adil kepada warga imigran, karena pada dasarnya perintah berkerja untuk keadilan rakyat bukan untuk menyengsarakan rakyat. Apalagi akibat dari kebijakan tersebut memicu datangnya kerusuhan dan akhirnya memakan banyak korban jiwa.

Harus disadari bahwa perjumpaan berbagai agama dan peradaban di dunia yang kurang “terbuka” tehadap pihak lain telah melahirkan ketegangan-ketegangan di antara pemeluk agama, masalah yang sering muncul adalah perang keyakinan  yang menyatakan agamanya paling benar, dan agama lain salah. Serta keyakinan dari pemeluk agama tertentu yang menyatakan bahwa agamanya satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia.

Saat ini fenomena beragama demikian akan menjadi hambatan untuk memahami agama lain disebabkan kurang informasi yang akurat. Fenomena demikian akan berimplikasi kepada upaya claim berat, hal ini telah menyebabkan pengaruh yang buruk antar umat beragama. Beberapa kasus klasik dan kontemporer seharusnya menjadi acuan penting bagi umat beragama untuk membangun toleransi antar umat beragama dalam damai, aman dan tenteram. Namun realitasnya sebagian umat beragama semakin “beringas” dalam menyuarakan ketidak benaran agama lain dan mengabaikan orang seagama bahkan memusuhi dengan kata-kata “kafir” apabila tidak sepaham dengan mereka. Inilah sebenarnya pangkal konflik antar dan inter umat beragama yang tidak pernah selesai.

Saling menghormati dan saling menghargai setiap perbedaan lagi – lagi menjadi kunci. Kesadaran diri untuk tidak memandang perbedaan sebagai suatu yang harus dihindari agaknya harus lebih dijunjung dalam hidup bermasyarakat apalagi di zaman yang serba modern ini. Perbedaan harusnya disikapi dengan sikap yang positif, karena jika kita menanggapi perbedaan tersebut dengan hal positif maka akan dapat mendatangkan berbagai dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat kita.

Seperti yang sudah kita ketahui, Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk beraneka ragam suku, ras, budaya, dan agama yang berbeda - beda. Walaupun terdiri dari beraneka ragam perbedaan, Indonesia mampu menyatukan perbedaan tersebut. Meskipun begitu, tak jarang juga terjadi konflik antar suku di Indonesia. Namun pemerintah masih mampu untuk meredam konflik internal negara agar tidak sampai terjadi perpecahan. Beragam perbedaan yang dimiliki oleh negara Indonesia membuat negara Indonesia semakin kaya akan budaya. Keberagaman perbedaan pula menjadi ciri khas dari negara Indonesia yakni Berbeda – beda tetapi tetap satu atau dalam bahasa sansekerta “Bhineka Tunggal Ika” yang menjadi semboyan dari bangsa Indonesia.

Perbedaan itu harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Sebaliknya, apabila salah menyikapi keragaman, yang terjadi adalah perseteruan antarsuku, ras, agama, golongan, merebaknya penghinaan, kekerasan, pelecehan dan hal lain yang kontraproduktif bagi pembangunan bangsa. Upaya apa yang dapat dilakukan agar kita saling menghargai dan menghormati perbedaan? Penting sekali bagi terutama bagi generasi muda untuk memahami karakter lintasbudaya.Dengan pemahaman tersebut, kita bisa saling menghargai dan menghormati meskipun berbeda. Sikap saling menghagai ini perlu ditekankan kepada masyarakat. Marilah bersama-sama menyadari untuk memandangbahwaperbedaanadabukanuntukdiperdebatkan. selalu menggunakan berperilaku yang santun, menyejukkan, ketimbang menimbulkan suasana panas penuh permusuhan. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri, saat ini dan di sini. (*)

Oleh :ViolitaAyuEllyna

(MahasiswajurusanAkuntansi UMM)

Editor : Redaksi
Penulis : Opini