MALANG POST - Hindari Kekerasan, P2TP2A Sodorkan SOP Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Anak

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Hindari Kekerasan, P2TP2A Sodorkan SOP Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Anak

Senin, 17 Feb 2020, Dibaca : 1440 Kali

BATU - kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur menjadi perhatian bagi semua mata. Khususnya kasus penyiksaan yang terjadi di SMPN 16 Kota Malang hingga membuat korban diamputasi jari tengahnya.

Hal itu juga mendapat perhatian dan tanggapan dari Konsultan Hukum Bagian Penanganan Kasus, Pusat Pelayanan Terpadu Perlundungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Batu, Salma Safitri.

Dalam permasalahan itu pihaknya mendorong adanya standar operasional prosedur (SOP) untuk pencegahan dan penanganan terhadap kasus kekerasan anak. SOP tersebut telah disampaikan olehnya ke Dinas Pendidikan Kota Batu.

"Kekerasan terhadap anak selama ini belum ada tindak pencegahan dan penanganan. Karena itu kami telah sampaikan SOP itu untuk dijadikan contih di semua sekolah dan jenjang sekolah. Mulai SD-SMP untuk mencegah kasus kekerasan dan bullying di sekolah," ujar Salma kepada Malang Post.

Ia menjelaskan jika selama ini anak-anak tidak sadar tentang kekerasan. Sehingga ketika melakukan kekerasan dianggap mereka adalah bercanda. Padahal yang dilakukan dan berakibat menyakiti tubuh hingga kelakuan verbal adalah kekerasan.

Karena dari pengalaman yang ada, misal di Kota Malang harus ada sistem pencegahan dan sistem penyelesaian. Dengan tujuan untuk menghindari anak-anak menjadi korban atau pelaku.

"Kami sudah sampaikan ke Dindik harus ada SOP pencegahan dan penyelesaian. Diantaranya ketika anak masuk tahun pertama saat Ospek dikasih materi tentang tindak kekerasan itu seperti apa saja dan juga dampaknya," bebernya.

Ia mencontohkan seperti ketika anak mencubit badan temanya adalah kekerasan, anak laki-laki memegang daerah sensitif teman perempuan itu juga masuk kekerasan seksual. Begitu juga dengan bersiul ketika ada teman perempuan lewat. Serta memalak teman juga masuk kekerasan ekonomi.

"Dengan bgitu kita harus buat sistem untuk pencegahan. Sehingga kalau ada pelanggaran, penanganannya juga jelas," imbuh Ketua Suara Perempuan Desa Kota Batu ini.

Ia mencotohkan misalnya ketika ada teman disekolah berantem. Seorang temannya harus memegangi yang tengah berantem. Serta siswa lainnya lari ke guru melaporkan peristiwa yang terjadi.

Kemudian ketika ada kejadian emergency guru juga harus segera menangani. Misal ketika anak sampai berdarah bisa langung dibawa ke RS. Juga guru harus segera melaporkan kepada orang tua. Jangan sampai orang tua terlambat mendapat informasi dan beresiko buruk.

Selain itu, orang tua juga berperan penting. Artinya orang tua harus aktif bertanya ke anak terkait kegiatan selama disekolah. Contohnya dengan bertanya ke anak apakah ada yang menyakiti.

"Jadi bukan bertanya apakah hari ini ada PR yang harus diselesaikan. Dengan aktif bertanya bisa meminimalisir terjadinya kasus kekerasan pada anak," paparnya.

Dengan berbagai kasus kekerasan terhadap anak itulah ia berkesimpulan jika selama ini belum ada SOP pencegahan dan penangan kekerasan terhadap anak. Khususnya di sekolah. Dengan satu kasus yang mencuat di Malang harus jadi cara pencegahan kekerasan.

Sedangkan untuk pelaku, diungkapnya juga harus ada tindakan. Meski tindakan tidak menyakiti badan atau psikis. Bahkan sampai ke ranah pidana karena masih anak-anak. Sehingg perlu dilakukan pembimbingan.  

"Kekerasan sesama anak tak boleh sampai ke tindak pidana. Karena mereka sama-sama korban. Kekerasan terjadi karena relasi kuasa dan kondis sosial yang melatar belakanginya," tegasnya.

menurutnya relasi sosial karena korban yang juga pelaku karena perilaku lingkungan. Sedangkan korbannya karena karena secara ekonomi, budaya, dan sosial lemah. apa yang ia sebutkan merujuk juga bagi kasus di Kota Malang.

Ia juga menyoroti diksi yang digunakan pada kasus di Kota Malang. "Seharus kasus kekerasan di Kota Malang itu penyiksaan. Bukan bullying. Karena berakibat kekerasan fisik. Kalau bullying itu menghina fisik seorang. Misanya menghina seorang dengan kata kurus. Artinya ada relasi kuasa, degan berada pada posisi yang lebih rendah," terangnya.

Merujuk Kota Batu sendiri, diungkapnya tahun 2020 ada enam kasus yang ditanganinya. Dengan satu kasus asusila bagi anak di bawah umur dan berkebutuhan khusus. Kemudian satu kasus kekerasan fisik terhadap anak, dan empat sisanya KDRT.

Khusus untuk kekerasan seksual bagi anak banyak yang berhenti di tengah jalan. Misalnya saja tahun lalu ada ayah tiri yang memperkosa anaknya. Namun dicabut oleh sang ibu karena faktor ekonomi sang ayah sebagai pundak perekonomian keluarga.

"Selain itu kasus seksual yang dialami anak perempuan sebagai korban sangat miris. Karena selain menanggung beban berlapis juga harus menyangkut aib keluarga besar. Sehingga jarang dilaporkan," ungkapnya.

Hal seperti itu membutuhkan dukungan sistem sosial dan bantuan sosial yang menjangkau secara efektif bagi koban. Sehingga kasus seperti kekerasan seksual tidak terulang.

Untuk data kekerasan anak tahun 2020, pihaknya mencatat ada 25 kasus. Dengan setiap tahunnya diperkirakan meningkat. Belum lagi yang tidak dilaporkan.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Batu memastikan tak ada bullying di Kota Batu. Ini karena Dindik Kota Batu telah melakukan study parenting yang bertujuan agar aktivitas peserta didik selalu terpantau.

"Kami pastikan di Batu tidak ada. Kami tidak akan memberikan celah sedikitpun terhadap potensi terjadinya kasus serupa karena komunikasi antar Dindik, sekolah, dan orang tua selalu terjaga," ujar Eny Rachyuningsih Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu.

Ia menjelaskan jika study parenting sendiri merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh wali murid. Selain itu pihaknya meminta data pribadi kepada pihak sekolah termasuk nomor aktif wali murid ketika terjadi suatu hal yang tak diinginkan orang tua akan langsung mendapatkan pemberitahuan.

Tak hanya itu saja, Eny menerangkan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan Kemenag melalui kegiatan non formal dengan materi mengenai lingkungan dan kekerasan. Dengan pemateri dari tokoh agama.

"Kami berharap dengan langkah-langkah yang dimiliki oleh Dindik Kota Batu bisa menekan kasus bullying di Kota Batu," pungkasnya. (eri/*)

Editor : Jon Soeparijono
Penulis : Kerisdiyanto