Imunitas Pendidikan Nasional Menghadapi Pandemi Covid-19

Rabu, 27 Mei 2020

  Mengikuti :


Imunitas Pendidikan Nasional Menghadapi Pandemi Covid-19

Jumat, 03 Apr 2020, Dibaca : 1647 Kali

Kebijakan perpanjangan durasi darurat corona menyebabkan dampak terhadap roda pemerintahan di berbagai sektor. Pendidikan adalah salah satu sektor yang sangat terdampak dari adanya pandemi Covid-19 ini. Pandemi yang mewabah di Indonesia pada akhir tahun pelajaran, menyebabkan pemerintah mengeluarkan berbagai macam kebijakan terkait perubahan metode dalam melaksanakan pembelajaran dan menentukan kelulusan. Beberapa opsi strategis telah diambil pemerintah sebagai solusi alternatif menjaga kendali mutu pendidikan dalam menghadapi pandemi global ini.

Gebrakan “merdeka belajar” yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim pada tahun 2019 lalu, seolah menjadi vaksin dalam menangkal pandemi Covid-19. Sehingga beberapa opsi kebijakan terkait pendidikan yang telah diambil pemerintah tampaknya tidak begitu menimbulkan “efek kejut” terhadap masyarakat.  Mulai dari kebijakan “Belajar di Rumah” sampai “Peniadaan Ujian Nasional” tidak banyak menimbulkan polemik di masyarakat.  Hal ini tak lain adalah sebagai  efek dari kebijakan “merdeka belajar” yang dikeluarkan oleh Mas Menteri jauh sebelum pandemi ini terjadi.

Sebelumnya tercatat ada empat kebijakan “merdeka belajar” yang dikeluarkan Mas Menteri  pada saat awal menjabat sebagai Mendikbud. Kebijakan revolusioner tersebut yang pertama adalah penghapusan Ujian Nasional (UN) pada tahun 2021 yang diubah menjadi asesmen kompetensi minimum dan survey karakter  siswa pada waktu mereka duduk di kelas 4, 8, dan 11. Kedua mengganti kebijakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di tahun 2020 dengan asesmen yang diselenggarakan oleh masing-masing sekolah. Ketiga kebijakan penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru. Keempat perubahan  kebijakan terkait dengan proporsi dalam penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi.

Setidaknya kebijakan Penggantian USBN dengan assessment dan  Peniadaan Ujian Nasional adalah dua kebijakan “merdeka belajar” yang menjadi “vaksin” dunia pendidikan di tengah pandemi global ini.

“Belajar di Rumah” dan Assessment Guru 

Selama ini guru hanya sebagai penerima tes yang telah dibuat dan dikembangkan baik oleh pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Padahal sesuai dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,  tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sangat jelas pada pasal tersebut dinyatakan bahwa tugas menilai dan mengevaluasi peserta didik adalah menjadi tugas utama guru. Dengan model assessment yang digagas Mas Menteri Nadiem, sebenarnya telah mengembalikan kewenangan dan kemerdekaan para guru untuk memberikan penilaian kepada peserta didik.

Kebijakan “belajar di rumah” menjadi opsi pertama yang diambil pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19 agar tidak semakin meluas. Opsi ini sebenarnya juga dapat dijadikan hipotesa oleh guru dalam melaksanakan assessment yang sesuai dengan harapan dari gagasan “merdeka belajar”. Model assessment memberikan kemerdekaan kepada guru dalam melaksanakan penilaian kepada anak didiknya. Penilaian tersebut dapat dilakukan dalam bentuk tes tetulis atau penilaian lain yang bersifat komprehensif, seperti penilaian portofolio, penugasan struktur maupun tidak struktur yang dilakukan secara individu maupun kelompok, serta dapat juga melalui karya ilmiah yang dihasilkan oleh siswa.

Kegiatan belajar di rumah selain untuk meminimalisir penularan Convid-19, juga dapat digunakan sebagai uji profesionalitas seorang guru dalam melaksanakan assessment terhadap kompetensi siswa. Belajar di rumah adalah momen penting bagi guru untuk menilai siswa secara komprehensif, karena siswa harus belajar secara individu di rumah bukan kolektif seperti di kelas. Minimal guru dapat mengukur secara otentik mulai dari kemampuan kognitif, literasi, motivasi belajar, serta karakter kemandirian dan integritas siswa. Jalinan komunikasi antara guru dan orang tua siswa yang terbangun dari pembelajaran online seperti ini juga menjadi modal penting untuk mendidik dan mengevaluasi kompetensi peserta didik. Pada akhirnya guru sebagai representasi dari lembaga pendidikan harus mampu menjaga profesionalitasnya, sehingga bisa membentuk kepercayaan dari berbagai pihak.

Peniadaan Ujian Nasional dan Percepatan Gagasan Merdeka Belajar

Dampak darurat penyebaran Covid-19 di Indonesia, juga menyebabkan ujian nasional yang direncanakan berakhir tahun 2020 ini, justru menjadi awal bagi peniadaannya. Presiden Jokowi telah memutuskan untuk meniadakan Ujian Nasional, setelah sebelumnya  diadakan rapat konsultasi via online antara anggota Komisi X dan Mendikbud Nadiem Makarim, yang hasilnya adalah meniadakan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2020 dari tingkat SMA, SMP, hingga SD. Menggunakan nilai kumulatif dalam rapor dari semester 1 sampai dengan 5 menjadi opsi yang diambil pemerintah dalam menentukan kelulusan siswa di tengah pandemi Covid-19 ini.  

Kebijakan peniadaan Ujian Nasional sejatinya bukan sesuatu yang hal yang baru, karena tahun 2019 juga sudah disepakati untuk dihapus pada 2021. Peniadaan Ujian Nasional di tengah pandemi Covid-19 ini secara tidak langsung juga telah menjadi percepatan program “merdeka belajar” dari Mas Menteri. Disamping itu, peniadaan Ujian Nasional sebenarnya tidak berpengaruh banyak terhadap peserta didik, mengingat Ujian Nasional tidak lagi menjadi syarat kelulusan maupun masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).

Dunia pendidikan dalam menghadapi pandemi Covid-19 sementara ini bisa dikatakan memiliki “imun” yang baik. Gagasan “merdeka belajar” juga menjadi salah satu vaksin yang mampu menjawab berbagai persoalan yang sebelumnya tidak pernah diprediksi ini. Semoga pandemi ini segera berakhir dan generasi penerus bangsa segera mendapatkan pendidikan yang berkualitas secara maksimal sehingga mampu menjawab tantangan di masa sekarang dan juga masa depan.  (*)

Oleh: Eri Hendro Kusuma

Guru SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Kota Batu dan SMK Shalahuddin 2 Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Opini