MALANG POST - Inflasi di Tengah Pandemi Covid-19

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Inflasi di Tengah Pandemi Covid-19

Minggu, 19 Apr 2020, Dibaca : 2142 Kali

Hitungan hari menuju Ramadhan 1441H masih diwarnai dengan pandemi Covid-19 yang belum mereda. Berbagai upaya pencegahan terus dilakukan melalui pembatasan aktivitas di luar rumah, physical distancing, dan penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini menjadikan berkurangnya keleluasaan untuk mengonsumsi barang sehingga mempengaruhi permintaan dari sisi konsumsi. Di sisi lain, bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari tentu harus tetap terpenuhi. Hasil survei konsumen Bank Indonesia pada Maret 2020 di Kota Malang mengindikasikan bahwa konsumen masih optimis meskipun konsumsinya mengalami sedikit perlambatan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Maret TW I 2020 sebesar 114,17 atau turun sebesar 0,50 dari Maret TW I 2019 yang sebesar 114,67.


Dalam keadaan Covid-19 yang kian meluas, Pemerintah dan Bank Indonesia tetap optimis menargetkan laju inflasi akan tetap berada pada rentang 3±1% sampai dengan akhir tahun. Selain itu, rapat koordinasi (high level meeting) Tim Pengendali Inflasi Pusat menargetkan inflasi volatile food berkisar pada rentang 4±1%. Penetapan target itu menjadi yang pertama kali dilakukan karena sektor tersebut memiliki andil yang besar terhadap pembentukan inflasi nasional. Sejauh ini, inflasi Kota Malang sampai dengan Maret 2020 tercatat mencapai 1,13% (year on year/yoy). Angka tersebut berada di bawah inflasi Jawa Timur dan Nasional sebesar 2,27% (yoy) dan 2,96% (yoy). Sementara itu, rata-rata inflasi selama lima tahun terakhir (2014-2018) yang bertepatan dengan periode bulan Ramadhan di Kota Malang mencapai 4,08% (yoy).


Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang secara rutin melakukan pemantauan inflasi secara mingguan melalui Survei Pemantauan Harga (SPH). Melalui SPH dapat diperoleh informasi dini dalam mendeteksi arah pergerakan inflasi. Tracking SPH di Kota Malang hingga minggu ke-2 April 2020 cenderung stabil. Namun, komoditas core inflation cenderung mengalami kenaikan pada minggu ke-3 dan ke-4 April.


Belanja online
Pola konsumsi belanja online masyarakat menjelang Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 cenderung mengalami perubahan. Fenomena panic buying untuk memenuhi kebutuhan pokok yang sempat terjadi telah diantisipasi melalui aturan pembatasan pembelian kebutuhan pokok baik di pasar tradisional maupun pasar ritel modern. Selain itu, belanja online melalui e-commerce, menjadi salah satu yang diandalkan dalam memenuhi kebutuhan, di tengah keterbatasan. Saat masa pandemi ini, masyarakat dialihkan ke cara-cara baru untuk dapat memenuhi kebutuhan melalui platform teknologi yang memungkinkan untuk bertransaksi secara non-tunai. Mulai dari dompet digital, mobile banking, internet banking dan Quick Response  Indonesia Standard (QRIS) dapat digunakan dan memiliki keuntungan karena lebih aman, mudah, cepat dan efisien.


Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tetap menerapkan strategi "4K" (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif) untuk menstabilkan potensi inflasi saat bulan Ramadhan di tengah pandemi Covid-19. Pemantauan harga dilakukan untuk memastikan ketersedian komoditas bahan pangan di pasar-pasar. Komoditas yang masih mengalami kenaikan harga diantaranya gula pasir. Untuk itu perlu dilakukan koordinasi dan sinergi dengan Bulog dan pabrik gula. Harga bahan makanan pokok umumnya masih terkendali akibat intervensi pemerintah dan musim panen yang sedang berlangsung.


Potensi inflasi saat bulan Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 dapat diminimalisir melalui pengendalian dari sisi ekspektasi. Ekspektasi inflasi merupakan pembentuk inflasi yang bersifat subyektif. Pembentukan inflasi dari sisi ekspektasi dipengaruhi oleh inflasi permintaan yang cenderung persisten di masa lalu. Berbelanja secara bijak mampu mempengaruhi inflasi dari sisi ekspektasi.


Belanja bijak secara online dapat dilakukan dengan menghitung konsumsi kebutuhan pokok dan sanitasi secukupnya untuk jangka waktu tertentu, misalnya selama sepekan atau sebulan. Selanjutnya, konsumen dapat membandingkan penawaran antar penjual untuk mendapatkan harga terbaik dan memanfaatkan berbagai promosi serta potongan harga. Dengan berbelanja secara online kebutuhan konsumen dapat terpenuhi sekaligus mematuhi imbauan pemerintah daerah mengenai social distancing. Dengan demikian, perputaran ekonomi dapat terjaga.


Kolaborasi pentahelix
Kolaborasi pentahelix Pemeritah Daerah turut berperan aktif melalui inovasi mengenai program belanja bijak di tengah pandemi Covid-19, seperti halnya yang sudah dilakukan oleh pedagang di Pasar Joyo Agung Kota Malang yang menciptakan sebuah layanan belanja online melalui aplikasi WhatsApp sehingga masyarakat bisa memesan bahan makanan secara online. Setelah dipesan, bahan makanan tersebut akan dikirim ke rumah dengan sangat mudah. Pemerintah Kota Probolinggo juga memberikan fasilitas berbelanja online kebutuhan pokok melalui UPT Pasar Kota Probolinggo.

Selain itu, telah dilaku digitalisasi transaksi di pasar tradisional sebagai komitmen nyata dalam meningkatkan inklusi keuangan dengan menggunakan QRIS. Hal ini memungkinkan para penjual menyediakan satu QR Code saja untuk bisa digunakan di lebih dari satu operator pembayaran seperti di Pasar Oro Oro Dowo dan Pasar Klojen. Pemeritah Daerah juga perlu mendorong pengusaha UMKM agar melakukan beragam terobosan dan strategi agar dapat bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Salah satunya dengan lebih mengoptimalkan platform digital dalam kegiatan pemasarannya. Dengan memanfaatkan platform digital, para pelaku UMKM akan memiliki kesempatan yang sama dengan pelaku usaha lain dalam menjual produknya.


Dalam menyiasati tantangan potensi inflasi jelang puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang biasa muncul setiap tahunnya. Diperlukan peran pedagang untuk tidak melakukan moral hazard dalam mengambil keuntungan berlebihan pada saat kondisi sulit saat ini. Sinergi kolaborasi pentahelix yang melibatkan Pemerintah, pelaku usaha (pedagang/produsen), dan akademisi yang mampu mencerahkan ekspektasi masyarakat perlu dilakukan. Selain itu, peran penting media massa dan masyarakat sebagai konsumen untuk turut serta berkolaborasi mengendalikan inflasi saat Ramadhan dan Idul Fitri. Meski kondisinya memang berbeda saat pandemi covid-19 yang membuat permintaan masyarakat secara umum akan menurun. Dengan demikian akan tercipta suatu kondisi bahwa pada saat Ramadhan dan Idul Fitri, perkembangan harga sejumlah komoditas khususnya pangan cenderung stabil. Namun demikian inflasi tetap harus diwaspadai sampai dengan pandemi covid-19 ini berakhir. (*)

Oleh: Azka Subhan A.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Opini