Ingin Makan Bakso dan Habiskan Waktu Dengan Keluarga

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Ingin Makan Bakso dan Habiskan Waktu Dengan Keluarga

Senin, 17 Feb 2020, Dibaca : 2940 Kali

MALANG - Dianita Asmaningtyas tampak sumringah menyambut kedatangan Malang Post, Minggu (16/2) sore. Dengan senyum khasnya, ia mempersilahkan kami duduk. Meski masih lelah, perempuan yang akrab disapa Nita ini berbagi cerita terkait pengalamannya mulai dari Wuhan hingga kembali ke Indonesia.

Menurut perempuan berambut sebahu ini, sejak bulan Desember lalu, Kota Wuhan sudah mulai diserang oleh wabah. "Waktu itu, belum tahu kalau ternyata corona. Dikiranya SARS," jelas dia.

Kemudian, pada awal Januari, kawasan tersebut dihebohkan dengan pemberitaan terkait virus corona yang membuat banyak orang meninggal dunia. Beruntung, pemerintah Tiongkok langsung memberikan tanggap cepat. "Sebelumnya, kami masih bisa pergi keluar meski menggunakan masker," kata dia.

Namun, ketika tanggal 10 Januari 2020, pemerintah setempat langsung menutup segala akses. Mulai dari transportasi hingga pembatasan warga untuk keluar dari tempat tinggalnya. "Itu langsung di locked down sama pemerintah sana. Kami nggak boleh keluar rumah dan dikirim makanan dari pemerintah dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)," jelas gadis berusia 24 tahun ini.

Selama masa locked down tersebut, pemerintah Tiongkok tidak mengizinkan siapapun mengakses media sosial. Sebab, dikhawatirkan akan membuat keresahan baru. "Waktu disana memang kami tidak boleh update status maupun mengakses media sosial juga," kata dia.

Selama masa locked down, Nita dan teman-temannya yang berasal dari Indonesia menghabiskan waktu di dalam apartemen. "Saya biasanya main gitar dan beraktifitas seperti biasa. Apalagi, disana lagi musim dingin juga. Kami juga harus selalu update tentang kondisi kesehatan juga," ujar dia terkekeh.

Kemudian, ia mendapat kabar dari temannya bahwa ia dan Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya akan dipulangkan kembali ke Indonesia. "Saya tidak tahu kalau akan dipulangkan (oleh pemerintah Indonesia). Tahunya ya ketika diberi kabar sama teman. Kalau saya mau pulang. Rasanya seneng aja," jelas perempuan yang mengambil S2 Bahasa Mandarin di Central China Normal University (CCNU) ini.

Kemudian, pada awal bulan Februari, Nita dan beberapa WNI lainnya dipulangkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kesehatan (Kemenkes). "Ketika pulang, ponsel kami sempat diamankan. Setelah sampai di Indonesia, kami dikarantina di Kepulauan Natuna," jelas dia.

Setelah dua hari disana, ponsel kembali dikembalikan. Namun, ia menggunakan pakaian tertutup yang dilengkapi dengan masker. "Kami menjalani pemeriksaan kesehatan juga. Namun, kami diberi fasilitas dan tidak pernah kekurangan bahan makanan," tegas bungsu dari tiga bersaudara ini.

Selama dikarantina itu, ia juga diberikan vitamin. Bahkan, segala kebutuhan disana juga terpenuhi. "Waktu itu, sempat didatangkan mesin cuci juga. Karena banyak anak-anak yang mencuci pakaian dengan tangan," ujar dia sambil tertawa.

Setelah dikarantina selama dua minggu, Minggu (16/2) dini hari, ia sampai di rumahnya dan kembali berkumpul bersama orangtuanya, Urip Sedyaningsih dan Asmadji.

Setelah ini, Nita berencana akan melanjutkan kuliahnya di Wuhan. Meski sedang berada di rumah, ia masih melanjutkan kuliah dan beasiswa yang didapatnya masih terus berjalan. "Sementara ini, kuliahnya online. Besok (Senin, 17/2) perkuliahan juga sudah dimulai. Selang waktu disini hanya satu jam," jelas dia.

Ketika ditanya apakah ingin meninggalkan kuliah, dengan tegas ia menjawab tidak. "Enggaklah, nanti kalau sudah aman, akan kembali lagi," papar dia.

Sementara itu, sang ayah Asmadji juga mendukung langkah anaknya. "Kami sebagai orangtua, menunggu kebijakan saja. Kalau pemerintah Indonesia sudah mengizinkan kembali dan dari pemerintah Tiongkok menyatakan aman, maka silahkan kembali," ungkap dia.

Pada kesempatan tersebut, pria yang berprofesi sebagai Kepala Sekolah SD Bina Budi Mulia ini menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah Indonesia atas perhatian kepada warganya yang sedang berada di luar negeri. "Saya berterima kasih betul. Mereka tanggap cepat sekali. Serta, anak saya diberi fasilitas. Pulang kembali sehat dan tidak kurang suatu apapun," papar dia.

Serta, ia juga mengungkapkan terima kasih kepada pemerintah Tiongkok karena memberikan perhatian juga meski sang putri bukan merupakan warga asli. "Saya juga ucapkan terima kasih, karena begitu besar perhatian dan proteksi terhadap warga Indonesia yang disana," tandas dia.(tea/*)

Editor : Redaksi
Penulis : Amanda Egatya