IRTD di Jami, Ramai Peziarah di Makam

Selasa, 26 Mei 2020

  Mengikuti :


IRTD di Jami, Ramai Peziarah di Makam

Kamis, 23 Apr 2020, Dibaca : 1605 Kali

MALANG - Jamaah Masjid Agung Jami Kota Malang mengikuti Salat Tarawih pertama Ramadan 1441 H, Kamis (23/4) tadi malam. Tak seperti tahun lalu, Salat Tarawih tadi malam berlakukan physical distancing untuk jamaah. Sementara itu berbeda dengan di beberapa tempat pemakaman umum , dipadati peziarah.
Dari depan masjid, jamaah sudah mulai menjalani protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Tiga sarcovid booth terpasang di pintu masuk. Jamaah disemprot desinfektan lewat bilik tersebut. Setibanya di dalam, jamaah menempati shof yang sudah disediakan.


Takmir Masjid Jami telah memasang lakban di karpet, untuk menandai posisi jamaah salat. Jarak antar lakban 1 meter, sesua imbauan pemerintah tentang physical distancing. Setelah masuk, jamaah yang tidak mengenakan masker, langsung didatangi oleh takmir. Jamaah mendapatkan masker agar dikenakan selama Salat Tarawih berlangsung.
Takmir masjid sebelumnya telah mengumumkan metode Salat Tarawih sesuai anjuran pemerintah  dalam imbauan masjid yang ditempel di papan pengumuman. Ketua Umum Majlis Tanfidz, KH Drs Zainuddin A Muchith dan Ketua Umum Majlis Tahkim KH M Baidlowi Muslich, bersama para pengurus takmir, membuat beberapa keputusan hasil musyawarah terkait Salat Tarawih dan Salat Idul Fitri serta kegiatan lainnya di masjid selama Ramadan.
“Masjid Agung Jami Kota Malang bersepakat untuk tetap membuka dan melaksanakan ibadah pada bulan suci Ramadan tahun 1441 H, dengan istilah ibadah Ramadan terbatas darurat (IRTD),” kata takmir, seperti dibacakan Ketua I Takmir Masjid Agung Jami Malang ,Ustadz H Atok'illah Wijayanto, S.Ag.


Teknis pelaksanaan IRTD, adalah jamaah yang dianjurkan datang untuk Salat Tarawih merupakan jamaah yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Jami. Kedua, bagi jamaah yang jauh diharapkan salat berjamaah di lingkungannya masing-masing, atau di rumah sendiri. Ketiga, Salat Tarawih digelar dengan 20 rakaat bacaan surat pendek, diakhiri salat witir 3 rakaat, serta qunut nazilah.
“Tadarus Alquran, dilaksanakan terbatas di ruang majlis taklim atau ruangan tertutup. Sehingga jamaah dipersilakan mendengarkan tadarus di radio Madinah FM, di rumah masing-masing,” tambahnya. Takjil tidak disediakan di Jami’ untuk menghindari kumpulan orang banyak.


Sebaliknya, takmir akan memberikan takjil berbuka terbatas sesuain aturan yang telah ditetapkan dengan pertimbangan physical distancing. Amal duafa, zakat dan sedekah tetap dibuka. Salat witir malam ganjil, digabung dengan tarawih tiga rakaat, dan itikaf sendiri-sendiri.
“Salat Idul Fitri dilaksanakan terbatas, dan silaturahmi dilaksanakan di rumah masing-masing,” tuturnya.


Semua aturan IRTD tersebut ditetapkan karena mempertimbangkan wabah Corona yang terjadi di Indonesia, termasuk di Kota Malang.
IRTD dibuat juga berkaca pada kesuksesan Masjid Jami  menggelar ibadah lima waktu sebelum Ramadan.

“Setelah sidang isbat pemerintah untuk melihat hilal, malam ini (Kamis malam), dilaksanakan Tarawih perdana. Jajaran takmir tidak berhenti mengucapkan terimakasih kepada segenap hadirin yang ada, dalam mengikuti salat jamaah dan tarawih dengan tertib,” tutupnya.

 
Ramai Peziarah di Makam

Di sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) Kota Malang dibanjiri peziarah walau sebelumnya diimbau tak ziarah. Salah satu contohnya Di TPU Polehan. Pantauan Malang Post, arus lalu lintas di jalan menuju TPU tersebut macet hampir 1 Km.  


Sebenarnya juru kunci TPU sudah menerapkan aturan ketat agar tak dibanjiri peziarah. Contohnya warga wajib menunjukkan KTP sebelum ziarah. Juri Kunci TPU Polehan Sugiono mengatakan, semua yang berziarah ke makam merupakan keluarga yang berasal dari wilayah Malang Raya.
“Hari ini saya menerima peziarah kurang lebih 417 orang berdasarkan pendataan yang mengunakan KTP di depan gang masuk makam. Pendataan menggunakan e-KTP juga bertujuan untuk membatasi keluarga yang datang dari luar daerah,” ungkpanya.


Sugiono menambahkan selama Ramadan pihaknya menjaga agar tak terjadi kerumunan warga.  
Di TPU Samaan juga tampak banyak peziarah walau tak sepadat tahun-tahun sebelumnya.
Kepala TPU Samaan Dwi Hadi Prayitno mengatakan, jumlah peziarah kali ini menurun. Ia menduga karena ada imbauan tentang tak ziarah ke makam untuk mencegah Covid-19. "Tahun-tahun sebelumnya, sepekan sebelum bulan Ramadan pasti ramai. Namun, tahun ini tidak terlalu banyak keluarga yang berziarah. Karena takut Corona, mungkin," terangnya.  

 

1 Ramadan Jumat Hari Ini
Pemerintah RI dan para pemangku kepentingan menyepakati 1 Ramadan 1441 hijriah di Indonesia jatuh pada Jumat (24/4). Kesepakatan itu dihasilkan dalam Sidang Isbat penentuan awal Ramadan 1441 H yang dipimpin Menteri Agama Fachrul Razi, Kamis (23/4) petang.


Sidang Isbat tahun ini sendiri digelar dengan skema berbeda sehubungan dengan kondisi pandemi virus Corona (Covid-19) di Indonesia
"Kami dengan suara bulat menetapkan awal Ramadan 1 1441 H, esok hari (hari ini) bertepatan dengan 24 April 2020. Marhaban ya Ramadan," ujar  Menag Fachrul Razi.


Sidang isbat dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama, diawali dengan paparan posisi hilal awal Ramadan 1441 H oleh anggota Tim Falakiyah Kementerian Agama. Paparan ini disiarkan secara live streaming melalui website dan medsos Kemenag.


Kemenag sendiri sudah menetapkan pos pemantauan hilal (rukyatul hilal) yang tersebar di 82 titik pemantauan di 34 Provinsi di Indonesia. "Sejak pemaparan awal, ternyata (hilal) sudah memenuhi kriteria. Tinggi minimal sudah melebihi 2 derajat. Elevasi juga sudah (memenuhi kriteria). Maka hilal Ramadan di awal Kamis ini sudah memenuhi di wilayah Indonesia," kata Anggota Tim Falakiyah Kemenag, Cecep Nurwendaya dalam paparan tim falakiyah, Kamis (23/4) sore.


Lalu, pada tahap kedua, sidang Isbat digelar secara tertutup. Sidang ini hanya dihadiri secara fisik oleh perwakilan MUI, DPR, serta Menag Fachrul Razi, Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi, dan Kamaruddin sendiri selaku Dirjen Bimas Islam, Kemenag. (fin/mg2/mg4/van/cni/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Redaksi