MalangPost - Jaga Alam, Cak Kandar Dampingi 397 Pokmaswas Pesisir

Senin, 13 Juli 2020

  Mengikuti :

Jaga Alam, Cak Kandar Dampingi 397 Pokmaswas Pesisir

Jumat, 05 Jun 2020, Dibaca : 5487 Kali

MALANG - Pengabdiannya sebagai seorang dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya Ir Sukandar MP sudah mampu memfasilitas masyarakat pesisir yang tidak berdaya agar dapat hidup lebih baik lagi. Menghargai dan menjaga alam yang indah untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

Ia lebih banyak dikenal dengan nama lain “Cak Kandar”, begitu orang akrab menyebutnya. Sejak tahun 2000 hingga saat ini, Sukandar dipercaya oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur untuk membina Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) kawasan pesisir Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Malang.


Baginya, mengabdi adalah kemauannya. Ia lebih memilih istilah sebagai pendamping, bukan pengabdi. Yang dilakukan Cak Kandar memfasilitas masyarakat pesisir yang tidak berdaya agar dapat hidup lebih baik lagi.
Dengan bermodal cangkrukan, ia bisa mendapat berbagai informasi dari masyarakat, keluhan serta saling tukar ilmu. Dengan itu semua juga bisa melihat potensi yang ada, dicarikan program yang tepat dan di dampingi hingga berhasil. Menikmati “kegilaan” menjadi fasilitator atau pendamping menurut pria yang pernah menjabat sebagai wakil dekan bidang kemahasiswaan UB ini membutuhkan orang-orang yang lebih “gila” lagi.
 “Butuh orang gila yang mau bersusah payah untuk melakukan hal yang kita tidak tahu kapan ada hasilnya. Dan butuh orang yang lebih gila lagi yang mau bersedia menyimpankan uang untuk kegiatan pendampingan seperti ini. Ada ataupun tidak ada dana, memfasilitasi Pokmaswas pesisir harus tetap berjalan. Adalah sebuah keberhasilan bagi saya jika kelompok yang saya fasilitasi bisa maju,” kata Cak Kandar.

 

Di Kabupaten Malang yang terkenal dengan pesona pantai dan alam konservasi lautnya tidak lepas dari pendampingan yang dilakukannya. Keindahan Pantai Tiga Warna, aupun lebih jauh lagi Pantai Sendang Biru dan Kondang Merak tidak lepas dari perannya.
 “Dulu Sendang Biru belum berjalan mulus, saya sempat jalan jauh tidak ada orang. Paling hanya satu dua saja yang lewat. Sekarang jalannya sudah mulus dan sudah ramai,” tutur Cak Kandar mengingat tahun-tahun awal ia menjelajahi kawasan Pantai Balekambang saat meneliti kawasan tersebut pada tahun 2002 lalu.


Saat itu ia dipercaya untuk menjadi pembimbing kelompok masyarakat di kawasan Malang Selatan, sebagai bagian dari program pengabdian dosen. Ia bertemu dengan seorang pria bernama Saptoyo, yang saat ini dikenal sebagai Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru.
Bersama dengan Saptoyo lah Cak Kandar mulai mengeksplorasi apa saja yang dapat dieksplorasi di kawasan pantai-pantai Malang Selatan. Sambil menjaga ekosistem laut yang ada disana.
“Malang Selatan itu dari Pantai Balekambang sampai Kondang Merak punya banyak sekali potensi ekosistem laut yang indah. Terumbu-terumbu karang berbagai jenisnya ada disana. Warga harus di edukasi untuk menjaga dan bisa memanfaatkan,” papar ayah empat anak ini.


Dari edukasi itulah pantai-pantai di kawasan Malang Selatan bisa dinikmati warga pecinta alam dengan baik.
Pria kelahiran 1959 ini mengungkapkan, saat ini sedang mempersiapkan kawasan Kondang Merak sebagai Integrated Zone daratan dan lautan. “Kawasan ini dapat menjadi kawasan ramah bagi kegiatan daratan juga lautan dengan menjaga kelestarian ekosistemnya,” terang pria yang pernah menjadi presidium Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur itu.


Tidak hanya di kawasan Malang saja. Kiprah Cak Kandar juga lebih luas lagi. Jika pernah mendengar keindahan ekosistem laut Desa Bangsring di Banyuwangi, Itu pun tidak lepas dari tangan dingin Cak Kandar.
Ia menjelaskan, suatu waktu ia memberikan pelatihan dan edukasi kelautan di kawasan desa tersebut usai memberi seminar, ia didekati seorang pemuda asal Desa Bangsring tersebut. Namanya, Ikwan Arif. Saat ini Ikwan lebih dikenal sebagai Ketua Kelompok Nelayan Samudera Bhakti, Desa Bangsring.
“Dia datang kepada saya minta bantuan bimbingan. Bagaimana caranya desa dia juga bisa maju dan berubah. Disitu saya masuk,” tegas pria yang aktif sebagai tenaga ahli dalam berbagai kegiatan Badan Pengelolaan dan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) ini.


Pada tahun 2016 Sukandar turut serta dalam merancang dan mengkaji kegiatan Banyuwangi Underwater Festival dengan capaian Rekor MURI, yaitu Pengamatan Bawah Laut oleh Nelayan Terbanyak. Tahun berikutnya, Cak Kandar berhasil mengantarkan kelompok nelayan ikan hias Samudera Bhakti (bersama Ikwan Arif) meraih penghargaan Kalpataru.
Belum lama ini juga kembali turut merancang kegiatan Banyuwangi Underwater Festival “48 jam Nemo Dancing”, yang dibuka dengan Historical moment berupa Gandrung Underwater Dancing.


Banyak daerah di Jawa Timur sampai pulau-pulau kecil yang telah dijelajah oleh Cak Kandar dalam memfasilitasi masyarakat pesisir di Jawa Timur. Selain di Clungup Mangrove Center atau yang dikenal dengan Pantai Tiga Warna di Malang Selatan, Bangsring Underwater di Banyuwangi ia juga terlibat besar dalam program Konservasi Penyu Taman kili-kili dan Mangruve Cengkrong di Trenggalek, Mangrove Hijau Dau Bawean dan Omah Iwak Badher Bank di Sungai Brantas.
“Itu memang sebagian wilayah yang telah dan sedang kami fasilitasi atau didampingi untuk dijaga ekosistemnya serta meningkatkan potensi pesisirnya,” papar pria yang sampai saat ini sudah mendampingi sekitar 397 Pokmaswas pesisir dan perairan umum di Jawa Timur. (ica/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Francisca Angelina