MALANG POST - Juara Nasional Lomba Kementerian, Produksi 90 Juta Bibit Lele Per Tahun

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Juara Nasional Lomba Kementerian, Produksi 90 Juta Bibit Lele Per Tahun

Rabu, 05 Feb 2020, Dibaca : 2652 Kali

Kecamatan Ngajum mempunyai desa unggulan yang sebagian besar penduduknya peternak bibit lele. Desa tersebut bernama Desa Maguan. Dengan bendera Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Mulyorejo Desa Maguan, ada 137 peternak bibit lele yang tergabung dalam kelompok ini. Dalam satu tahun, desa ini memproduksi 90 juta bibit lele. Kegigihan UPR Desa Maguan, diganjar juara nasional lomba dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Para pendiri Unit Pembenihan Rakyat Mulyorejo mungkin tidak pernah menyangka, usaha yang dimulai dari skala kecil 17 tahun lalu, berubah menjadi sumber ekonomi dan brand yang membanggakan bagi Kabupaten Malang. Karena, kelompok peternak bibit lele di Desa Maguan, Ngajum, memang mengawali pendirian kelompok dari niatan iseng mencari sumber pendapatan baru.
Bahkan, keisengan itu berubah menjadi usaha serius, yang mampu menghidupi ratusan warga Desa Maguan. "Seingat saya, sekitar tahun 2004, kelompok ini berdiri karena iseng-iseng, pengangguran jadi banyak acara, hehe. Awalnya desa ini pengrajin emas," tandas Handoko kepada Malang Post, Minggu (2/2). Pria 33 tahun tersebut mengatakan, karena pekerjaan pengrajin emas mengalami surut, usaha lele pun dicoba.
Hanya, tidak ada kesuksesan yang instan. Hal ini pun dirasakan betul oleh Handoko dan rekan-rekannya. Setelah mendapatkan tawaran untuk mengembangkan usaha pemeliharaan lele, Handoko datang ke Pare Kediri atas ajakan rekannya. Tapi, usaha pemeliharaan lele dewasa gagal. Perspektif lain pun dipilih oleh cikal bakal UPR Mulyorejo tersebut.
Yakni, memilih pembenihan lele. Dengan usaha dan kerja keras secara terus menerus, usaha ini mulai berhasil. Dari tahun 2004 sampai 2009, anggota kelompok ini bertambah, hingga total menjadi sembilan orang. Yaitu, Dwi Nawang, Wahyu Tejo Anggono, Adit Setya, Handoko Guruh Santoso, Basori. Bambang Kusumo, Heri Suliaji, Arza Nugraha, sampai Suwoto.
Nama UPR Mulyorejo mulai muncul. Namun, keberhasilan masih harus ditempa lagi, seperti emas yang harus dimurnikan dengan api supaya berharga. Pada tahun 2009, ada persoalan pemasaran. Bibit lele berlimpah, tapi sasaran penjualan minim. Persoalan tersebut masih berlanjut sampai tahun 2011. Saat itu, jumlah peternak bibit lele di Maguan, berkembang menjadi 36 orang di tahun 2010, dan berlipat ganda menjadi 78 orang di tahun 2011.
"Untuk mengatasi persoalan pasar bibit lele yang belum terbuka ini, kami berkonsultasi dengan Dinas Perikanan Kabupaten Malang. Kami masih titip di dinas saat itu, karena masih mandiri. Akhirnya, kami diperkenalkan oleh dinas ke kecamatan lain. Kami juga membuat brosur-brosur karena media sosial belum kencang seperti sekarang. Alhamdulilah ada yang nyantol," jelas bapak satu anak itu.
Perjuangan tanpa kenal lelah ini membuahkan hasil. Kesuksesan awal UPR Mulyorejo makin meroket setelah mengikuti lomba Kelembagaan Mina Bahari tahun 2011 di tingkat Kabupaten Malang, dan menjadi juara 1. Setelah itu, perlombaan di tingkat provinsi juga menjadi juara 1, dan diakhiri dengan juara dua nasional Mina Bahari 2012 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
"Setelah itu, nama kami semakin dikenal. Bibit lele kami mulai tersebar, bukan hanya di Jawa, tapi juga seluruh Indonesia,Alhamdulilah, sekarang besar peternak lele yang semuanya warga Desa Maguan, menjadi 137 orang, dan mata pencahariannya adalah ternak bibit lele," kata Handoko. Dia menyebut, saat ini, kapasitas produksi bibit lele di Desa Maguan mencapai 90 juta ekor bibit lele, per tahun.
Setiap bulan, UPR Mulyorejo bisa memproduksi 7,5 juta ekor bibit lele. Pangsa pasar kian menyebar. Handoko menyebut situasi sekarang, berbeda dengan 10 tahun lalu. Yakni, saat jumlah bibit lele lebih banyak daripada permintaan pasar. Sekarang, Handoko menyebut para peternak bibit lele dengan kapasitas 90 juta bibit bahkan sulit memenuhi permintaan pasar yang meningkat.
"Karena kami juara nasional itu, jumlah permintaan meningkat, ikan terus kurang," tambahnya. Bahkan, saat ini semakin banyak pembibit lele dari desa atau kecamatan lain yang ikut membibit di Desa Maguan. Dampak ekonomi dan sosial dari keberadaan UPR Mulyorejo, yang dinilai menjadi poin penting bagi mereka menjuarai lomba tersebut. Hanya saja, Handoko menyebut bahwa ada kiat khusus yang dipakai untuk menjadi produktif dalam membibit lele.
Dia menjelaskan, UPR Mulyorejo, tidak pernah puas dan selalu mau belajar dari semua pengalaman peternak. Dengan jumlah peternak bibit lele sebanyak 137 anggota, ada 137 pengalaman yang bisa digunakan untuk belajar. Setiap anggota, diminta untuk mencatat dan membukukan progres pembibitan. Mereka diminta mencatat keberhasilan, dan kegagalan serta kesalahan yang terjadi.
Hal ini yang membuat UPR Mulyorejo berbeda. Kemauan untuk belajar dari kesalahan, dan mencontoh kesuksesan anggota, untuk mereplikasikannya ke anggota lain, adalah kiat sukses para warga Desa Maguan ini. Tak heran, kemauan untuk belajar inilah, yang menjadikan UPR Mulyorejo, andalan Kecamatan Ngajum dan kebanggaan Kabupaten Malang dalam hal pembibitan benih ikan lele.
"Tiap satu bulan sekali ada pertemuan pengurus, dan tiga bulan sekali ada pertemuan seluruh anggota. Kami tidak bicara pakem, tapi bicara pengalaman dari 137 peternak bibit lele. Kami bisa membuat standar operasional, yang terus berubah menyesuaikan tingkat keberhasilan pembibitan. Kami belajar dari kesalahan, belajar dari keberhasilan," sambung pria yang hobi nge-trail ke hutan itu.
Kisah UPR Mulyorejo, sebagai usaha yang menghidupkan Desa Maguan, menjadi insiprasi. Sebab, UPR Mulyorejo sering didatangi mahasiswa yang ingin belajar tentang pembibitan ikan, sebagai acuan untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta dirujuk oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan RI, untuk menjadi tempat studi banding pembibitan lele secara nasional.(fino yudistira)

Editor : Redaksi
Penulis : Fino Yudistira