MalangPost - Kartini Lawan Belenggu Covid-19

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Kartini Lawan Belenggu Covid-19

Selasa, 21 Apr 2020, Dibaca : 9315 Kali

KARTINI hari-hari ini tetap berkreativitas. #dirumahaja akibat pandemi virus Corona tak mengakhiri daya kreatif mereka. Para finalis Putri Kartini Malang Post 2020 contohnya tak terhalang situasi. Begitu juga para Kartini zaman sekarang lainnya.

Para finalis yang harus menunda rangkaian kegiatan  Putri Kartini Malang Post 2020 membuat video kolaborasi berisi lagu Ibu Kartini, puisi dan permainan biola yang dimainkan di rumah masing-masing.
Ada yang di Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang. Bahkan, ada finalis yang sudah pulang ke luar pulau. Tidak lupa, juara Putri Kartini Malang Post 2019, Verena Nathania Darmawan juga turut serta dalam pembuatan video collab finalis Putri Kartini Malang Post 2020.


Menurut  Verena Nathania Darmawan, memang seharusnya dalam keadaan apapun, Kartini masa kini harus mampu memberikan dampak positif ke orang lain. Tentunya, berawal dari diri sendiri.
“Pasti was-was, cemas  saat ini. Tapi, jangan jadikan itu penghalang untuk berkreasi. Justru, ada sisi positif dengan adanya gerakan #dirumahaja, bisa mengeksplore kemampuan kita,” ujarnya.


Gadis yang akrab disapa Veren itu mengatakan, kegiatan yang berdampak bagi orang lain, tak melulu dikerjakan di luar rumah. Dari dalam rumah pun bisa.

“Di luar tugas membuat video collab seperti ini, kita bisa menjadi contoh seperti mengerjakan tugas lebih awal, mengatur waktu lebih baik,” katanya.


Ia lantas menceritakan tugasnya sebagai seorang Putri Kartini. Lulusan SMAN 1 Kota Malang ini menyadari dirinya merupakan contoh remaja yang aktif dan kreatif. Dia mendapatkan banyak pengalaman yang secara tidak langsung membangun rasa percaya dirinya.
“Dari penampilan, karakter sampai sikap, harus berpengaruh. Harus aktif dan kreatif, menjadi contoh seperti Ibu Kartini,” tambah dia.


Para finalis pun berharap, dari video collab yang dibuat, bisa menginspirasi banyak orang. Terhalang jarak, tempat atau waktu, bukanlah halangan. Memang sangat sederhana, namun menyatukan 31 orang dalam sebuah karya, tidaklah mudah dalam kondisi tak bisa saling bertatap muka.
“Tapi, semangat kami biar menginspirasi banyak orang,” tambah Maria Noveareza, salah satu finalis Putri Kartini Malang Post 2020 yang berasal dari SMAN 3 Malang.

 

Pelukis Tuntaskan Eskperimen
Tatik Simanjuntak, seniman lukis Kota Malang menyempurnakan eksperimen di tengah masa darurat Covid-19.  Eksperimen itu untuk memudahkan berkarya.  “Eksperimen bagaimana cat minyak yang saya pakai melukis bisa menyerupai kualitas cat minyak ekspor dari Italia,” katanya.


Cat minyak yang biasa dipakai untuk melukis memang ekspor dari Italia. Saat ini Italia menjadi salah satu negara  terdampak Covid-19 terbesar di dunia. Maka ekspor impor jadi kendala.
“Sebenarnya sudah lama saya eksperimen ini. Tapi di masa darurat Covid-19 jadi lebih banyak waktu untuk terus mencoba. Sudah berhasil sekitar 70 persen. Saya bereksperiman di endapan cat, intisari endapan saya ambil,” papar alumnus Fakultas Hukum  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.


Tatik terkenal sebagai seniman lukis kaca. Ia merupakan seniman lukis yang biasa menggunakan media lukis kaca. Media lukisnya seperti botol dan toples.Sudah banyak karyanya diekspor ke luar negeri seperti  Australia, Jepang, hingga Amerika. Harga karya lukisnya mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 12 juta. Tergantung ukuran media kaca yang diminta.
Dia memiliki cara beradaptasi dalam berbagai situasi. Di masa pandemi virus Corona misalnya, jiwa seni seseorang dapat didorong menghasilkan sesuatu yang baru. Ia juga mengubah metode sharing dan belajar lukis yang selama ini dibangun menjadi sebuah komunitas dagang.
“Saya punya grup di WhatsApp (WA). Isinya murid-murid yang belajar di sanggar saya, juga seniman lain. Biasanya, grup ini dipakai sharing. Tapi saat masa ini langsung saya ubah ke grup seperti pasar. Jadi mereka kalau punya produk seni atau UMKM bisa saling share dan promosi,” jelas Tatik.


Hal ini juga dilakukan di grup-grup WA antarseniman lainnya. Saling membagi hasil karya yang dibuat dan di sebarkan ke grup atau komunitas-komunitas lainnya. Ini menjadi salah satu upaya seniman-seniman Kota Malang tetap berkarya.
Dia mengakui  Covid-19 benar-benar  memukul dunia seniman. Sebab kegiatan-kegiatan seni sementara tidak boleh digelar. Padahal hasil karya seni mestinya dipresentasikan kepada publik. Salah satunya melalui pameran dan berbagai kegiatan seni yang mengundang banyak peminat seni untuk melihat.


Kini Tatik tetap berkarya. “Saya masih mengerjakan sekitar lima proyek lukis di media kaca,” kata pemilik Sanggar Dapoer Seni di Jalan Simpang Majapahit Kota Malang ini.
Tatik juga kerap membantu membuatkan motif dan menjualkan masker-masker yang dibuat kawan-kawannya.  “Ya kalau itu bantu-bantu saja,” ujar perempuan yang karya lukis kacanya pernah dibeli Nina Kirana Soekarwo, istri mantan Gubernur Jatim  Soekarwo seharga Rp 12 juta itu.
Ia mengaku sempat bosan ketika di rumah saja. Namun perasaan bosan itu dilawannya. Di antaranya keluar rumah dan mulai mengecat tembok serta dinding halaman depan rumahnya.


 
Berdayakan Kaum Ibu Bikin APD
Rumah Gresia Dewi di Jalan Dewi Sartika di  Kelurahan Temas, Kota Batu disulap jadi tempat produksi hazmat dan masker. Di ruang tamu, 14 ibu-ibu menjahit dua jenis alat pelindung diri (APD) itu.  
Gresia mengatakan, ibu-ibu yang terlibat dalam pembuatan APD itu berasal dari beragam


latar belakang. Aktivitas mereka berawal donasi dari Rotary Club International Kota Batu yang ingin menyumbang APD bagi tenaga kesehatan dan warga terdampak.
"Kemudian saya menginisiasi agar ibu-ibu dari RW 9 Kelurahan Temas yang terdampak usahanya diberdayakan menjahit hazmat dan masker. Kami namakan Temas Berkarya," kata perempuan 44 tahun ini.


Dari situlah mereka kebajiran pesanan APD dan masker. Sehingga 14 ibu yang sehari-hari berjualan di Pasar Besar hingga sebagai PKL yang omzet terus menurun itu punya tambahan penghasilan.
Gagasan yang diusung Gresia itu berawal dari keprihatinannya karena harga APD mahal di pasaran. "Dari situ pula saya berinsiatif untuk membuat APD dengan harga murah. Tak hanya menjual, kami juga bagikan gratis kepada yang membutuhkan. Karena kami juga dibantu oleh beberapa toko kain di Kota Batu yang memberikan kain perca gratis untuk dimanfaatkan sebagai masker," terangnya.


Hasil produksi mereka dibagikan  kepada tukang ojek dan tukang parkir yang ada di Pasar Besar Kota Batu. Sedangkan hasil keuntungan yang didapat dari pesanan APD dan masker digunakan beli hand sanitizer dan vitamin kepada tukang ojek dan juru parkir.
Khusus untuk hazmat yang dijual, mereka tak mendapat untung besar. Itu pun digunakan lagi untuk aksi sosial. Hazmat misalnya, dijual Rp 65 ribu, sedangkan hazmat yang dijual di pasaran mencapai Rp 100 ribu.
Dari inisiatif  itu, dalam seminggu laba bersih yang diraih dari memproduksi skala rumah tangga itu mencapai Rp 2,5 juta. Dengan pesanan per minggu saat ini bisa mencapai 5.000-7.000 masker dan 350 APD.  

 

Ibu Dokter Sempat OPD
dr Yulia Rachmawati bukan dokter biasa. Kepala Puskesmas Dau  Kabupaten Malang ini merupakan salah satu dokter yang ikut menangani keluarga pasien pertama Covid-19 di Kabupaten Malang. Belakangan, tiga anggota keluarga pasien itu juga terpapar virus Corona namun berhasil disembuhkan.
Yulia  menceritakan awalnya sama sekali tidak menyangka wilayahnya ada warga yang positif Covid-19. Belakangan dia baru mengetahui dari hasil swab. Keluarga yang positif itu adalah keluarga dari warga yang meningga sebelumnya.
Saat mengetahui ada pasien positif, Yulia meminta seluruh jajarannya menjaga kondisi, dan selalu berhati-hati. Terutama tim surveilans  maupun tim dari puskesmas dan tenaga kesehatan desa. Termasuk penggunaan APD.


Hingga akhirnya tiba saatnya satu keluarga ini dievakuasi ke RSUD Kanjuruhan pada Sabtu (21/3) lalu. Sebagai kepala puskesmas Yulia ikut dalam rombongan. Ia sama sekali tidak merasa takut. Ya sekalipun tidak berinteraksi secara langsung dengan pasien, namun saat evakuasi dilakukan jarak dia dan pasien sangat dekat. “Ini merupakan tugas kami,’’ katanya.


Saat melakukan evakuasi, Yulia mengaku di Puskesmas Dau tidak memiliki APD yang cukup. Sehingga dia harus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dan RS UMM.  Hasilnya, ibu dua anak ini mendapatkan APD dan langsung digunakan oleh para tenaga kesehatan, tidak terkecuali dirinya.
“Malam itu kami bersama Muspika dibantu Dinas Kesehatan, melakukan evakuasi warga Dau, untuk kemudian dibawa ke RSUD Kanjuruhan,’’ urainya. Alumnbi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, ini sama sekali tidak merasa takut, dan kawatir. Yang terpikiran saat itu adalah menyelamatkan pasien.


Sampai di RSUD Kanjuruhan pun Yulia mendampingi pasien menuju ruang isolasi. Wanita 40 tahun ini kemudian merasa cemas setelah proses evakuasi. Ia sempat kepikiran sehingga kondisi tubuhnya drop. Dia bahkan sempat mengalami batuk, pilek dan demam. Hingga akhirnya masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) saat itu.
“Selain saya, ada tenaga kesehatan juga dari Puskesmas Dau yang masuk kategori ODP,’’ katanya.


Hal ini membuat Dinas Kesehatan kawatir, untuk kemudian dilakukan rapid test. Hasil rapid test, tidak ada reaktif virus. “Saya lega saat hasil rapid test menunjukkan minus. Artinya tidak ada antibodi saya tidak ada reaktif dengan virus Corona. Namun karena tidak yakin saya juga swab. Dan hasilnya juga negatif,’’ ungkapnya.  (ley/ica/eri/ira/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Redaksi