Kebohongan di Media Baru

Minggu, 20 Oktober 2019

Senin, 02 Sep 2019, dibaca : 1013 , MP, tamu

Lahirnya media baru (new media) berwujud internet telah melahirkan beragam platform media sosial (medsos). Munculnya new media tak hanya membawa kebaikan, namun lewat media baru juga mencipta gelombang kebohongan yang menerjang masyarakat. Melalui media baru, kebohongan muncul dan menimbulkan kerentanan politik, ketegangan sosial hingga konflik terbuka yang dapat membahayakan persatuan bangsa. Kasus kerusuhan terkini di Papua misalnya, juga diperkeruh oleh masifnya kebohongan
     Kebohongan yang muncul di media baru bentuknya beraneka rupa. Ada yang berwujud berita bohong (hoax), berita palsu (fake news), dan ujaran kebencian (hate speech). Semua jenis kebohongan itu banyak diproduksi dan disebarkan (diviralkan) lewat aneka gawai digital (digital devices). Berbagai bentuk kebohongan secara masif diproduksi dan diviralkan ke masyarakat. Selanjutnya kebohongan tersebut menjadi informasi publik yang dipercaya sebagai kebenaran. Kebohongan menjadi samar dan tak jarang orang menganggapnya sebagai kebenaran.
    Terkait dengan kasus terkini tentang kerusuhan di Papua, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memblokir akses internet dan medsos di Papua dan Papua Barat. Penutupan akses pada dunia maya ini dilakukan pemerintah untuk mencegat beredarnya kebohongan yang dapat semakin memperkeruh suasana. Menurut keterangan Kominfo, sejak pertama peristiwa kerusuhan di Papua pecah, yakni 18 Agustus lalu, sudah ada lebih dari 300.000 URL hoax tentang Papua.
    Pemblokiran yang dilakukan Kominfo menuai protes dari sejumlah pihak. Namun pemerintah sepertinya tak banyak punya cara untuk membendung laju kebohongan itu agar tak semakin membesar selain dengan menutup aliran menjalarnya kebohongan itu. Pemblokiran akses internet di Papua sebenarnya bukan cara yang bijak untuk membungkam para pembohong itu beraksi. Karena ketika akses internet itu ditutup, sejumlah layanan publik dan bisnis di Papua jadi ikut terganggu.
Bauran Kebohongan
    Aneka kebohongan yang sering muncul lewat media baru biasanya merupakan bauran (perpaduan) antara fakta dan khayalan. Kebohongan juga tak jarang lahir dari bauran antara kritik dan kebencian. Perpaduan antara dua sifat yang bertolak belakang ini sering sulit dipilah mana yang benar dan mana pula yang bohong. Kondisi inilah yang akhirnya menjerumuskan banyak orang yang tak mampu memilih dan memilah yang fakta versus yang fiksi, atau mana yang kritik dan mana pula yang ungkapan kebencian.
    Bauran antara kebenaran dan kebohongan ini semakin sulit dipilah apalagi melalui
medsos sebuah kebohongan bisa datang dari orang yang terpandang dan terdidik. Sering kebohongan tampak sebagai kebenaran karena telah diviralkan oleh mereka yang selama ini dipercaya kredibilitasnya. Tak jarang akhirnya sesuatu yang dipercaya sebagai kebenaran itu tak bersumber dari fakta. Sebuah kebohongan tak jarang gara-gara sudah diviralkan, maka kebohongan tersebut dipercaya sebagai yang benar.
    Kebohongan sering muncul dibalik alasan kebebasan berbicara (freedom of speech) dan kebebasan berekspresi (freedom of expression). Alih-alih alasan demi kebebasan berbicara dan berekspresi, justru yang dibicarakan dan diekspresikan adalah sebuah kebohongan. Buruknya, kebohongan tersebut dipercaya masyarakat sebagai kebenaran. Masyarakat disuguhi informasi yang berlimpah, hingga sulit memilah yang bohong dan yang abal-abal. Informasi yang disediakan di internet dan medsos terlampau banyak hingga menjadikan banjir informasi.
    Di tengah situasi banjir informasi (information overload) tersebut antara fakta dan opini membaur menjadi satu. Tak mudah memilih dan memilah antara keduanya. Tak jarang orang salah pilih dan akhirnya lebih mempercayai kebohongan sebagai sebuah kebenaran. Inilah yang dinamakan era pasca kebenaran (post truth). Kebenaran terkalahkan oleh kebohongan yang diviralkan di media baru. Kebohongan yang jahat itu selanjutnya menjelma menjadi pemicu perpecahan, perseteruan, pertikaian, dan disintegrasi bangsa.

Pembohong Anonim
    Kebohongan itu sudah ada sejak dulu. Kebohongan bisa berwujud kebohongan dalam dunia nyata (luring). Namun saat ini yang lebih masif adalah kebohongan maya (daring). Antara kebohongan daring dan luring sebenarnya sama-sama jahatnya. Namun kebohongan daring lewat media baru yang saat ini semakin merajalela. Kebohongan daring lewat medsos bisa leluasa dan cepat pertumbuhan dan pergerakannya karena di medsos si pembuat kebohongan bisa menyembunyikan identitasnya (anonim).
    Sifat anonimitas di medsos justru menjadikan si pembuat kebohongan tak bisa dilacak jati diri dan keberadaannya. Hal inilah yang menjadikan kebohongan yang muncul di media baru sulit dilacak siapa pembuatnya. Para pembohong maya itu walaupun aksinya di dunia maya namun dampaknya bisa di alam nyata. Sudah banyak kerusuhan, pembakaran, pengrusakan terjadi yang dipicu oleh kebohongan dan adu domba yang disebarkan lewat internet dan medsos.
    Dalam kasus kerusuhan di Papua, tak sedikit pembuat hoax dan ujaran kebencian menggunakan medsos sebagai alatnya. Mereka juga menggunakan beberapa blog dan website gratisan. Dalam menggunakan media tersebut, para pembohong daring itu menyamarkan bahkan memalsukan identitasnya. Hal inilah yang membuat para pembohong maya itu sulit dilacak dan ditangkap, hingga tak banyak cara untuk membendung para produsen dan pengedar kebohongan selain pemblokiran pada situs, akun, atau laman si pembohong.
    Pemblokiran sejatinya hanya cara instan dan bukan cara jitu dan bijak untuk membendung laju kebohongan. Semua pengguna internet dan medsos punya hak untuk mendapat layanan akses internet. Untuk itu, dengan membatasi hingga mematikan akses pada internet justru akan memicul persoalan baru karena informasi menjadi semakin tak karuan. Tanpa internet bisa jadi rujukan informasi yang kredibel dan layak dipercaya menjadi sulit didapat. Akhirnya banyak orang yang terjerumus dengan mempercaya sebuah kebohongan yang entah dari mana datangnya.
    Kerusuhan Papua dan isu disintegrasi bangsa mencuat tak bisa dilepaskan dari adanya kebohongan yang diciptakan sejumlah pihak. Untuk itu semua pihak harus berusaha menciptakan suasana damai termasuk dengan tak membuat dan menyebarkan kebohongan yang banyak berseliweran di internet dan medsos. Mari jaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia tercinta dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote ini dengan berinternet dan bermedsos yang sehat. (*)

Oleh: Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM



Jumat, 18 Okt 2019

Menangani Cross Hijaber

Loading...