MalangPost - Kekerasan Anak Bisa Terjadi Setiap Saat, Perkuat Peran BK

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Kekerasan Anak Bisa Terjadi Setiap Saat, Perkuat Peran BK

Rabu, 12 Feb 2020, Dibaca : 8556 Kali

SALAH satu pekerjaan besar dunia pendidikan yakni mencegah kasus kekerasan terhadap anak seperti bullying. Peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah harus diperkuat. Guru BK idealnya tak hanya mendengar masalah dan curhat siswa.
ANAK harus diedukasi agar paham cara bersikap ketika mengetahui  kejadian kekerasan seperti bullying di lingkungannya. Jika semua anak paham tentang hal tersebut, kasus bullying yang dialami MS, siswa SMPN 16 Malang tak berakibat fatal. Bahkan mudah dicarikan solusinya.
Dosen Fakultas Psikologi UIN Malik Ibrahim Malang, Dr Rofiqah MPd mengingatkan, sekolah merupakan tempat untuk mensejahterakan anak-anak. “Jika sejahtera batinnya akan muncul perasaan happiness (senang). Sayangnya bullying terjadi di sekolah,” kata Rofiqah dalam diskusi Malang Post Forum bertajuk, ‘Stop Bullying !!!’, Jumat (7/2) lalu.  

   Baca juga :

Kekerasan SMPN 16 Malang Tertutup, Mestinya Satgas Anti Kekerasan Berperan

Pahami Efek Berantai Dampak Kekerasan Terhadap Anak


Ia mengatakan,  secara tidak sadar pun lingkungan sangat bisa melakukan tindakan perundungan. Mengucap kata bodoh di depan anak-anak lantaran tak bisa melakukan sesuatu,
menurut Rofiqah sudah berkategori bully secara verbal.  
Bisa jadi di lingkungan sekolah dan rumah secara terus menerus anak mendapatkan perlakuan yang sama. Kemudian tertanam dalam benaknya sendiri. Menimbulkan perasaan tidak percaya diri, takut dan kemudian anti sosial jika berkelanjutan.
“Mereka yang korban pun dikemudian hari bisa menjadi pelaku,” tegas perempuan yang juga tergabung dalam Woman Crisis Center (WCC) Dian Mutiara Malang ini.
Karena itu menurut dia, seorang anak idealnya harus menjadi tameng bagi diri sendiri. Jika sejak awal ia diberi pemahaman bahwa bully tindakan yang tak dibenarkan, maka diyakini anak akan terhindari dari bully. Selain itu juga dapat menghindari orang lain dari tindakan bully dimanapun.
Anak-anak, kata Rofiqah, harus diajarkan berani  mengatakan tidak pada bentuk kekerasan apapapun. “Jika anak punya pribadi melindungi diri maka dia akan bisa terhindar. Harus menjadi biasa agar tidak lemah. Karena memang anak yang dianggap lemah, selalu menjadi sasaran bully,” ungkapnya.
Karena itu pula, peran Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah harus dikuatkan. Tidak hanya menerima keluhan dan mendengarkan masalah, guru BK harus memiliki formula khusus. Yakni  bagaimana anak diedukasi agar  bisa melindungi diri dari tindak kekerasan apapun.
Kemudian untuk lebih efektif, sistem pendidikan yang mengedepankan karakterlah yang harus diutamakan pemerintah daerah (pemda). Seluruh komponen masyarakat juga mulai dibiasakan memutus budaya bully dari hal sederhana seperti berkomentar.
Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan,  Sri Ratna senada dengan apa yang dikatakan
Rofiqah.  “Untuk mendukung pendidikan yang mengarah pada anti kekerasan memang kita ada aturannya di Permendikbud No 82 Tahun 2015. Kita punya operasi sayang kerja sama dengan kepolisian, BNN, Satpol PP juga Dinas Kesehatan,” paparnya.
Ratna melanjutkan amanat dari Permendikbud tersebut yakni  membentuk Satgas Penanggulangan Kekerasan pada Siswa. Hanya saja diakuinya satgas kurang bekerja maksimal.
Hal ini dikatakannya menyusul kejadian bully di SMPN 16 Kota Malang. Dinas Pendidikan Kota Malang sempat menanyakan efektivitas Satgas Penanggulangan Kekerasan pada Siswa di sekolah tersebut.  
 “Kami juga kaget sebenarnya. Ada satgas tapi tidak ada evaluasinya. CCTV di lokasi kejadian bully  juga sudah mati. Tentu sekali ini menjadi evaluasi kami semua,” paparnya.
Khusus untuk tindak lanjut kasus siswa SMPN 16 Kota Malang, Ratna  menjelaskan bahwa seluruh biaya perawatan di rumah sakit hingga pemulihan bersinggungan dengan bimbingan psikologis siap ditanggung pihaknya.
Kejadian kasus kekerasan pada siswa di lingkungan sekolah memang beberapa kali terjadi. Duduk bersama dan mendiskusikan permasalahan serta mencari solusi diharapkan menjadi jalan keluar untuk mengatasi masalah ini.
Lewat ruang dikusi seperti ini, Pemred Malang Post Abdul Halim berharap seluruh pihak terkait dapat saling bekerjasama merajut formula baru dalam sistem pendidikan. Sehingga kejadian yang sama tidak lagi terulang. “Masyarakat, termasuk media akan terus mengawal,” pungkasnya. (ica/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Francisca Angelina