MALANG POST - Kekerasan SMPN 16 Malang Tertutup, Mestinya Satgas Anti Kekerasan Berperan

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Kekerasan SMPN 16 Malang Tertutup, Mestinya Satgas Anti Kekerasan Berperan

Senin, 10 Feb 2020, Dibaca : 3930 Kali

KASUS perundungan dengan korban MS siswa SMPN 16 Malang yang viral lantaran salah satu jari tangannya diamputasi jadi pelajaran bersama. Selain pencegahan, tindakan pertama dalam penanganan kasus perundungan sangat penting. Sehingga tak berdampak fatal terhadap kondisi fisik dan psikologis korban seperti yang dialami MS.

Hal itu terungkap dalam diskusi Malang Post Forum, Jumat (7/2) lalu. Diskusi bertajuk, ‘Stop bullying !!!’ itu diikuti berbagai pihak. Di antaranya Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang, Polresta Malang Kota (Makota), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Malang,  Women Crisis Centre (WCC) dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Malang.
Dalam diskusi yang dipimpin Pemred Malang Post Abdul Halim itu terungkap kasus perundungan yang dialami MS sudah cukup lama. Yakni 15 Januari 2020. Peristiwa ini viral dan mengundang perhatian publik lengkap dengan penanganannya pada 31 Januari 2020. Artinya lebih dari dua pekan remaja 13 tahun itu menanggung derita fisik dan psikologis.
Dalam forum rutin Malang Post ini terungkap, setelah mendapat perlakuan kekerasan dari teman sekolahnya, MS masih sempat bersekolah. Pada 16 sampai 18 Januari 2020 masih sekolah. 18 Januari saat mengikuti kegiatan Pramuka, remaja 13 tahun itu sudah tak kuat menahan sakit. Akhirnya 19 Januari dirawat di rumah sakit.  
Cerita lengkap tentang kasus perundungan itu pun baru terungkap 31 Januari 2020. “Ini yang kami sayangkan. Kenapa baru bilang ketika sudah viral, kok ndak pas peristiwa itu terjadi,” ungkap Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Disdik Kota Malang, Siti Ratnawati.
Dia menjelaskan, kasus perundungan tersebut baru didengarnya Jumat (31/1).  "Saat itu, jam 02.00 WIB (dini hari) saya ditelpon ibu Kepala Dinas (Kadis Pendidikan). Kemudian, saya langsung disuruh menghubungi kepala sekolahnya. Ternyata, benar ada kejadian itu (perundungan)," bebernya.
Berdasarkan keterangan yang didapat, sebenarnya pihak SMPN 16 Malang masih sempat melakukan mediasi. “Pada 26 Januari 2020, sempat dimediasi oleh pihak sekolah,” kata dia.
Berdasarkan informasi awal yang didapat dari sekolah, peristiwa itu terjadi lantaran beberapa siswa bercanda kelewatan. "Kami nggak tahu kalau akhirnya seramai ini. Waktu awal itu juga belum sempat tengok anaknya," lanjut dia.
Setelah mendapat informasi tersebut, Diknas mendatangi korban dan berkomunikasi dengan pihak keluarga. “Terkait pembiayaan, kami siap menanggung pengobatan yang dilakukan,” jelas dia.
Pendamping MS dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Malang, Yuning Kartika Sari mengungkapkan, akibat peristiwa itu, MS mengalami luka-luka pada bagian kaki hingga tangan. Kondisi itulah yang membuatnya sering meronta kesakitan. Namun, ia enggan membicarakan kronologi yang jelas apa penyebab luka tersebut kepada pihak keluarga.
"Kalau saya lihat, dia ini anaknya tertutup. Dia juga berpikir panjang. Kalau sampai dia ngomong sesuatu, apa dampaknya ke teman-temannya. Dia mikirnya sudah jauh," katanya.
Kemudian, pihaknya berusaha menjalin komunikasi dengan  keluarga. Berdasarkan informasi dari keluarga itu, mulai terkuak sedikit demi sedikit. "Pihak keluarga sudah mendengar dari anaknya langsung. Namun, saya tidak berani menjelaskan dengan detail disini," lanjut dia.
Polresta Malang Kota menyayangkan peristiwa ini.  Apalagi, kondisi korban juga cukup parah. “Saya punya foto kondisi luka memar yang dialami korban. Memar dan lukanya cukup ngeri,” terang Kasat Intelkam Polresta Malang Kota, Kompol Sutiyono.
Setelah mendapatkan informasu tersebut, pihaknya langsung mendatangi korban dan mengecek kondisinya. Ternyata, luka di bagian tubuh korban menghitam. Termasuk, jari tengah sebelah kanannya yang akhirnya diamputasi. “Mengetahui kondisi korban seperti itu, saya langsung isolasi. Anggota saya minta untuk menjaga dia dan harus steril,” jelasnya.

Harusnya Ada Satgas Anti Kekerasan
Atas peristiwa itu, Kompol Sutiyono menguraikan, perlu adanya edukasi terhadap para siswa di sekolah. Bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan bisa berpotensi membahayakan nyawa seseorang. “Ini yang harus kita tekankan, bedanya kenakalan dan kejahatan. Anak-anak harus tahu itu. Agar hal serupa tidak terjadi lagi,” jelas dia.
Perwakilan MKKS SMPN Kota Malang Budi Santoso mengatakan, untuk mengantisipasi kejadian tersebut, pihak sekolah seharusnya memiliki Satgas Anti Kekerasan. Keberadaan satgas tersebut diatur dalam Permendikbud Nomor 82 tahun 2016. “Dalam aturan tersebut, Satgas Anti Kekerasan yang perlu dibentuk di sekolah. Mulai dari guru, siswa hingga orang tua berperan penting untuk mencegah kekerasan,” terang dia.
Hal tersebut lanjut dia, sudah dilakukan seluruh satuan pendidikan. Namun, ia belum bisa memastikan sudah berjalan dengan baik atau tidak. “Efektif atau tidaknya, masih perlu banyak penekanan yang dilakukan,” kata Budi.
Tentunya, peristiwa perundungan yang menimpa MS ini merupakan sebuah musibah yang menampar citra pendidikan, khususnya di Kota Malang. “Kami prihatin dengan keadaan ini. Ini musibah. Salah satu solusinya adalah langkah pencegahan yang dilakukan ke sekolah-sekolah,” tandas dia.(tea/van/bersambung)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Amanda Egatya