MalangPost - Kekerasan Terhadap Anak di Kota Malang, Sistem Pendidikan Tak Bisa Bendung, Kuncinya Orang Tua

Rabu, 12 Agustus 2020

  Mengikuti :

Kekerasan Terhadap Anak di Kota Malang, Sistem Pendidikan Tak Bisa Bendung, Kuncinya Orang Tua

Senin, 17 Feb 2020, Dibaca : 1797 Kali

Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Malang menjadi sorotan publik, sistem pendidikan tak bisa membendungnya. Setiap tahun 2017 ke tahun 2018 angkanya terus bertambah, mengkhawatirkan. Tahun 2019 Kota Malang gempar dengan kasus pencabulan pada anak SD dan pemukulan  siswa SMK.  Belum sembuh traumanya, pada awal Februari 2020, kembali dikejutkan kasus perundungan yang dilakukan siswa SMP.
Akibatnya, korban mengalami memar, bahkan dua ruas jari tengah sebelah kanannya harus diamputasi. Sampai saat ini, kasus tersebut masih dalam penyidikan Polresta Malang Kota. Bahkan, polisi sudah menetapkan dua orang tersangka dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah lagi.


Sebelumnya, kasus serupa juga dialami oleh beberapa siswa. Tahun 2019 lalu, beberapa siswa SMK swasta yang dilakukan oleh seorang motivator. Sementara, pada tahun yang sama, ada kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum guru olahraga terhadap beberapa siswa sekolah dasar.


Berdasarkan data yang dihimpun dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang Kota, pada tahun 2017, kasus kekerasan terhadap anak terjadi pada korban kisaran usia 12-18 tahun dengan jumlah 22 kasus. Sementara, pada tahun 2018, kasus kekerasan pada anak terjadi pada kisaran usia 9-18 tahun dengan jumlah 23 kasus.


Sementara, terkait kasus pencabulan terhadap anak, pada tahun 2017, terjadi pada korban di kisaran usia 6-15 tahun dengan jumlah 3 kasus. Sedangkan pada tahun 2018, usia korban di kisaran 4-17 tahun dengan jumlah 8 kasus. Selain itu, untuk kasus persetubuhan terhadap anak, pada tahun 2017, terjadi pada korban kisaran usia 6-17 tahun dengan jumlah 12 kasus. Sedangkan pada tahun 2018, terjadi pada kisaran korban berusia 8-17 tahun dengan 11 kasus. Sedangkan pada tahun 2019, jumlah kasus kekerasan masih dilakukan penghitungan. Sementara, tahun 2020 hanya kasus perundungan.


Meski demikian, seluruh kasus dugaan kekerasan terhadap anak tersebut diselesaikan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku.
“Kami lakukan penegakan hukum sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Mulai penyidikan, penyelidikan, pelimpahan kasus ke Kejaksaan Negeri Malang hingga penyelesaian kasus berupa putusan perkara yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Malang,” terang Kasubbag Humas Polresta Malang Kota, Iptu Ni Made Seruni Marhaeni.


Selain melanggar aturan hukum yang berlaku, kasus tersebut diselesaikan sesuai dengan aturan yang berlaku lantaran memberikan efek kepada korban. “Korban ada yang mengalami trauma, baik secara fisik maupun psikis. Untuk itu, kami beri tindakan tegas, serta memberikan pendampingan terjadap korban,” jelas dia.


Sementara, terkait kasus perundungan, Kapolresta Malang Kota memberikan pendampingan khusus, baik bagi korban maupun pelaku. "Kami memberikan pendampingan khusus, dengan psikolog. Sebab, kasus ini melibatkan anak-anak," jelas Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata.


Saat ini, atas kasus tersebut, sudah ditetapkan dua orang tersangka dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah. Namun, terkait status penahanan, pihaknya masih belum memberikan keputusan. "Kami masih mempertimbangkan saran dari berbagai pihak, baik dari psikolog maupun dinas terkait," tandas dia. (tea/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Amanda Egatya