Keputusan Besar

Sabtu, 30 Mei 2020

  Mengikuti :


Keputusan Besar

Minggu, 12 Apr 2020, Dibaca : 3306 Kali

Sabtu ini tepat 25 hari sejak Pemkot Malang mengumumkan pasien positif Covid-19 pertama di Malang, dan 42 hari sejak Indonesia mengumumkan pasien Covid-19 pertama di tanah air. Sampai detik ini belum ada tanda-tanda penyebaran virus Corona melambat dan akan berhenti. Setiap hari ada kasus baru, termasuk pasien positif tanpa gejala di Malang.
Jakarta telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak kemarin, dan Pemkot Malang pun mengajukan permohonan PSBB ke Kemenkes. Kita belum tahu apakah pengajuan tersebut akan disetujui atau tidak. Sesuatu ketentuan, jawaban diberikan dua hari setelah surat diterima Kemenkes. Kita tunggu saja.
Saat ini, bolehlah pemerintah membuat aturan untuk mencegah penyebaran virus tersebut, namun langkah mitigasi akibat Covid-19 ini menjadi tanggung jawab bersama. Seluruh instansi, perusahaan, dan masyarakat mempunyai tugas masing-masing, untuk mendukung dan menguatkan pelaksanaan aturan di lapangan. Kita patuh aturan dan melakukan segala hal berkaitan dengan pencegahan penyebaran virus Corona, sembari tetap melanjutkan hidup dan berkreasi.
Mitigasi yang dilakukan Malang Post sudah saya tulis dalam catatan sebelumnya. Salah satunya dengan mengubah ukuran koran compact mingguan menjadi ukuran normal, sehingga mengurangi beban halaman yang harus dikerjakan oleh wartawan. Namun, alur kerja dan distribusi koran tidak hanya melibatkan wartawan sebagai pekerja media, tapi banyak orang. Ada tim di percetakan yang memastikan cetak koran berjalan dengan lancar, lalu tim ekspedisi yang membawa koran dari percetakan untuk disebarkan ke agen-agen di Malang Raya. Belum lagi tiap agen memiliki loper yang mengirimkan koran-koran ke rumah ataupun kantor Anda, selain loper yang menjual koran secara langsung ke pembaca.
Banyak pihak terlibat. Mereka semua memiliki risiko terpapar virus sama besar dengan wartawan.
Kami melakukan pembahasan lagi, terkait langkah yang bisa kami lakukan untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Sebuah langkah kecil yang dengan itu bisa berkontribusi pada penanganan Covid-19, lewat cara kami, sesuai dengan kemampuan kami.
Manajemen Malang Post akhirnya membuat dua keputusan baru. Yang pertama, Malang Post tidak terbit saat tanggal merah/libur nasional. Ini sebuah keputusan besar, karena sudah bertahun-tahun Malang Post terbit nonstop. Korane Arek Malang ini hanya tidak terbit saat Idul Adha, Idul Fitri dan Natal. Keputusan ini diawali dengan tidak terbit di Hari Raya Nyepi 25 Maret lalu, dan Jumat Agung.  
Keputusan ini sudah besar, tapi keputusan kedua lebih besar lagi. Karena belum pernah kami lakukan sejak Malang Post terbit pada 1 Agustus 1998.
Kami memutuskan tidak menerbitkan Malang Post edisi minggu untuk sementara waktu. Terhitung sejak minggu besok (11/4/20) sampai kondisi tanah air dan Malang Raya pulih kembali. Sesudah pandemi ini berlalu, kami berjanji kepada Anda seluruh pembaca Malang Post, akan mengatur speed lebih kencang lagi, untuk mengganti apa yang kurang di hari-hari selama Covid-19 mengintai.
Pandemi Covid-19 memang mengubah banyak hal. Dulu, liputan wartawan ya harus turun ke lapangan, wajib. Sekarang, mereka boleh dan lebih baik melakukan wawancara via telepon atau video call. Ke lapangan bila benar-benar diperlukan. Bahkan ada area yang mereka tidak boleh mendekat. Ruang karantina pasien Covid-19 salah satunya.
Dulu, haram hukumnya meminta foto ke humas atau penyelenggara acara. Harus foto sendiri. Sekarang, terpaksa hal itu dilakukan karena situasi dan aturan yang demikian. Kamis lalu (9/4/20), saya menjadi host  Musyawarah Rencana Pembangunan Rencana Kerja Perangkat Daerah (Musrenbang RKPD) Kota Malang Tahun 2021 yang dipusatkan di Ngalam Command Center. Berita dan foto-fotonya ada di Malang Post edisi hari ini. Semua peserta termasuk Wali Kota Malang, Ketua DPRD Kota Malang, Wakil Wali Kota, Sekda dan beberapa orang di Ngalam Command Center (NCC) memakai masker. Saya juga.
Di NCC, kami semua duduk berjarak. Sementara peserta Musrenbang tersebar di 14 titik, selain kami yang berada di NCC. Ada Kepala OPD di ruang sidang balaikota, Kepala OPD di Block Office, Wakil Pimpinan dan Ketua Komisi DPRD Kota Malang di gedung dewan, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia dan Kepala OJK di kantornya masing-masing, dan peserta di titik-titik lain yang tersebar di lima kecamatan.
Nah, semenjak saya membuka acara hingga beberapa menit kemudian, saya tak melihat fotografer Malang Post. Di sela bertugas sebagai host, saya langsung menghubungi Pemred Malang Post Abdul Halim, menanyakan ketiadaan fotografer.
“Wartawan dan fotografer tidak boleh masuk, kak. Akses ke NCC dibatasi,” jawab Pemred.
Oh iya, saya teringat lalu mengarahkan pandangan ke monitor NCC dan melihat satu layar yang khusus diperuntukkan bagi wartawan, untuk mengikuti jalannya Musrenbang. Di ruang NCC itu, sepanjang acara berlangsung, ada satu fotografer yang aktif memotret. Sepertinya, ia fotografer Humas Pemkot Malang. Dari dia lah, display foto yang ada di koran hari ini berasal. Ada juga yang sesekali mengambil gambar video, mungkin ia menyiapkan materi untuk pewarta dari televisi.  
Di hari biasa, saya bisa ngomel berkepanjangan karena fotografer meminta foto ke penyelenggara acara. Di masa pandemi ini, saya harus memaklumi kondisi. Kok NCC yang dibatasi peserta, balai kota yang biasanya ramai saja, sekarang sepi. Hari itu, semua pintu balai kota ditutup, hanya pintu tengah yang dibuka. Di belakang pintu ada bilik Sico dan satu meja di sampingnya, tempat dua Satpol PP berjaga. Mereka mengecek suhu tubuh siapapun yang masuk, lalu menyemprotkan hand sanitizer. Suhu tubuh saya pagi itu, kata si mbak Satpol PP, 36,4 derajat.
Penyesuaian yang harus dilakukan demi kesehatan bersama. Begitu juga dengan dua keputusan besar yang kami buat, tidak semata untuk menjaga wartawan dan kami, tapi juga lingkaran terkait pendistribusian koran, termasuk Anda sebagai pembaca. Itulah tugas yang harus kita lakukan sekarang ini. Saling menjaga.(*)

Oleh: Direktur Malang Post Dewi Yuhana

Editor : Redaksi
Penulis : Dewi Yuhana