MALANG POST - Ketegaran Ibunda MS Menghadapi Situasi Berat

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Ketegaran Ibunda MS Menghadapi Situasi Berat

Kamis, 13 Feb 2020, Dibaca : 3441 Kali

IBUNDA MS, Wiwin Anik Astutik betul-betul perempuan tegar. Saat anaknya jadi korban kekerasan fatal di sekolah, ia pertebal kesabarannya. Tetap kuat. Single parent yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci pakaian itu terus menaruh harapan. Agar kelak anaknya jadi astronot seperti yang dicita-citakan sang buah buah hati.

Usai magrib kemarin sore, Wiwin, sapaan akrab Wiwin Anik Astutik bergegas dari RS Lavalette. Ia baru saja mengantarkan anaknya MS kontrol kondisi jari tengah tangan kanan yang diamputasi beberapa hari lalu. Ia tetap ramah, tegar pula. Tak tampak lelah di wajahnya.
Padahal wanita 39 tahun ini baru saja menghabiskan 18 hari di RS Lavalette. Ia harus mendampingi anak pertamanya yang baru berusia 13 tahun menjalani operasi amputasi jari tangan. Ini belum termasuk hari-hari berat secara psikologis saat mengetahui MS jadi korban kekerasan sejumlah teman sekolahnya.
“Mbak, saya ibunya MS,” sapa Wiwin ramah, menyapa Malang Post saat ditemui di Sawojajar. “Terima kasih ya mbak,” ucapnya. Wiwin sebenarnya berdomisili bersama dua anaknya, MS dan seorang balita berusia tiga tahun di kawasan Arjosari. Tapi usai MS menjalani operasi, mereka sementara tinggal di rumah salah satu keluarga di kawasan Sawojajar.  
Keluarganya memang terus memberikan dokungan moril. Sebab ia selama tiga tahun ini menjadi seorang single mom dengan dua orang anak. Sehari-hari, Wiwin bekerja sebagai buruh cuci di tetangganya.
"Semua keluarga saya mendukung. Sehari-hari, saya bantu tetangga. Sekitar dua atau tiga hari sekali, sambil bawa anak saya yang kecil," cerita perempuan berhijab ini. Ia berusaha melewati situasi berat. "Keluarga saya semuanya mendukung. Kakak-kakak saya semua kompak memberikan dukungan. Sehingga, saya bisa seperti ini," katanya.
Saat MS akan menjalani operasi di RS, Wiwin memilih fokus terhadap anaknya. 24 jam bersama anak pertamanya itu.  Seseorang yang menjadi tempatnya mencuci pakaian memberi izin. “Supaya fokus dulu ke anak,” ucap dia.
Wiwin bersemangat menceritakan keseharian MS sebelum  jadi korban perundungan. "Anak saya itu, saat waktunya sekolah, ya sekolah. Waktunya main, ya main. Dia sangat suka sepak bola," terangnya.
Di luar jam sekolah, MS sangat aktif mengikuti kegiatan di sekitar rumah. Salah satunya, sebagai remaja masjid (remas) di tempat tinggalnya, di Arjosari. "Terkadang, setiap satu minggu sekali, ia ikut latihan karate. Tapi saya tidak perbolehkan dia ikut, ya hanya sekadar latihan-latihan saja," ujar Wiwin.
MS juga aktif di sekolah. Yakni tercatat sebagai anggota inti Pramuka dan juga Badan Dakwah Islam (BDI). "Ikut BDI ini saya juga nggak tahu. Karena memang anaknya nggak suka cerita-cerita," papar dia.
Bahkan MS juga ingin mengikuti kegiatan lain. Seperti Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dan juga OSIS. "Saat ini, dia masih kelas VII, baru masuk enam bulan. Jadi masih ikut seleksi," ceritanya.
MS aktif karena punya cita-cita menjadi seorang astronot. Namun, sempat terbersit di pikirannya ingin menjadi seorang anggota TNI. "Cita-citanya memang astronot. Tapi, dia bilang setelah lulus sekolah ingin kerja dulu,  apapun itu," jelas dia bersemangat.
Selama ini, Wiwin sangat dekat dengan sang putra. Hampir setiap hari, ia menjemput MS ke sekolah. Namun, ketika peristiwa kekerasan itu terjadi, ia tidak langsung mengetahuinya. "Sebab lukanya ndak langsung keluar. Baru beberapa hari setelahnya, itupun setelah tahu dari kakak saya," ujarnya.
Saat itu, MS kerap merasa kesakitan di sekujur tubuhnya. Namun lama kelamaan, kondisi MS semakin parah. "Akhirnya, saya bawa dia ke tukang urut. Setelah itu, baru keluar memar-memar di badannya. Itu diketahui oleh kakak saya yang tinggal tak jauh dari rumah," ingat dia.
Kemudian, Wiwin membawa MS ke puskesmas terdekat. Sampai akhirnya, ia dibawa ke rumah sakit untuk melakukan perawatan lanjutan. "Dari situ saya merasa, anak ku iki salah opo, kok sampe koyo ngene. Anak ku iki diapakno," ujar dia nelangsa.
Namun, MS enggan bercerita. Sebab, ia pribadi yang tertutup dan enggan menjelekkan teman-temannya. "Dia nggak ngomong apa-apa. Dia juga nggak ingin teman-temannya itu jelek. Bahkan, sebenarnya ia juga nggak mau teman-temannya ini kena (diproses polisi)," papar dia.
Hal tersebut yang akhirnya membuat pihak keluarga tidak melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. "Kami sekeluarga menganggap ini  ujian dan musibah. Saya hanya ingin anak saya sembuh, itu saja. Yang lainnya, saya nggak mau ngurusi," lanjut dia.
Selama di rumah sakit, tujuh terduga pelaku kekerasan terhadap MS sempat membesuk. Mereka menengok keadaan MS. "Awalnya kami nggak tahu, baru setelah pulang, MS bilang lapo seh kok rene, iku sing nganu aku. Saat ketemu dia juga melengos," kenangnya.
Saat ini, Wiwin mengaku ingin fokus untuk menyembuhkan sang anak, baik secara fisik maupun psikis. Beruntung, seluruh keluarga besarnya sangat mendukung dan setiap hari berkumpul untuk memberikan support penuh.
"Anak saya ini dekat dengan seluruh keluarga. Dengan semua sepupunya dekat. Dari kami, tidak ada satupun yang menanyakan kejadian itu, hanya dukungan dan motivasi yang tak henti kami berikan," lanjut bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Apalagi MS juga ingin segera kembali ke sekolah. Bahkan ia tak ingin pindah sekolah. Sebab selama ini, ia merasa nyaman dan banyak teman yang dekat dengannya. "Banyak yang chat untuk dia kembali ke sekolah. Itu yang membuat dia tak sabar. Ia merasa, banyak yang sayang sama dia," lanjut Wiwin.
Namun, pihaknya akan kembali mempertimbangkan hal tersebut dengan pihak keluarganya. Sebab, banyak pihak yang menginginkan MS pindah sekolah agar hal tersebut tidak terulang lagi. "Tapi kalau anaknya tidak mau, kami juga tidak memaksa," jelas dia.
Wiwin mengungkapkan, ia hanya ingin MS melanjutkan cita-citanya dan tetap terus melanjutkan sekolah. "Harapan saya hanya itu saja. Dia juga ingin punya sepeda pancal, dia bilang agar saya nggak capek-capek jemput ke sekolah," beber peremouan berkacamata ini.
Terkait kondisi fisik MS pascaoperasi, perkembangannya sudah membaik. Enam bulan ke depan, akan melihat kondisi jaringan kulitnya. "Nantinya, akan dilakukan rekonstruksi di jarinya," kata dia.(amanda egatya/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Amanda Egatya