Kisah Rivera Putra Wijaya, Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya Meninggal Dunia Akibat Miningitis

Rabu, 03 Juni 2020

  Mengikuti :


Kisah Rivera Putra Wijaya, Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya Meninggal Dunia Akibat Miningitis

Rabu, 22 Jan 2020, Dibaca : 7119 Kali

Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda periode VII tahun akademik 2019/2020 Universitas Brawijaya Sabtu 18 Januari 2020. Salah satu wisudawan atas nama Rivera Putra Wijaya tak hadir dalam prosesi. Sebelum wisuda, dia meninggal dunia akibat miningitis. Sehingga kehadirannya pun diwakili oleh adik kandungnya, Fane Vandania mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya.
Rivera Putra Wijaya adalah mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB angkatan 2015. Kepergiannya tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Terlebih semasa hidup pemuda kelahiran Jakarta 23 September 1997 ini sangat kalem dan tidak neko-neko.
Hal ini dijelaskan sang ibu, Nina Kusumawati. Perempuan 55 tahun ini memaparkan Rivera adalah anak yang penurut, tidak banyak omong dan tidak pernah menyusahkan orang tua. Rivera adalah anak pertama dari dua bersaudara. Dia dan sang adik, sama-sama kuliah di Malang.
“Gak banyak minta anaknya, bahkan untuk urusan baju saja saya yang pilihkan dikasih baju dan celana ini dia bilang iya buk dan juga dipakai,” kenang Nina.
Tak hanya itu, untuk urusan handphone Rivera termasuk tipe orang yang cuek. Tidak peduli handphonenya sudah jelek, ia tidak tertarik saat ditawari sang ibu HP baru. HP lama, menurutnya itu masih bisa dipakai. Dalam sehari-hari selama merantau di Malang, mahasiswa FEB UB ini terbilang irit soal makan.
Dilanjutkannya, Rivera hobi bermain game PUBG bahkan ia memiliki kursi khusus untuk gamer. Kursi tersebut kini dipakai Nina untuk bekerja sehari-hari di bagian keuangan dan HRD di salah satu perusahaan di Jakarta.
“Gak pernah minta anaknya, kalau mau saya transfer uang dia selalu  bilang masih cukup buk,” kata Nina menirukan sang anak.
Banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan dari almarhum. Kalimat yang hingga kini masih terngiang di kepala Nina adalah tentang makanan. Semasa hidup Rivera pernah berucap bahwa makanan itu cuma ada dua yaitu enak dan enak banget.
“Jadi dia itu doyan makan, gak pernah bilang makanan gak enak, kalau makan sama adeknya itu pasti ngingetin makannya dihabiskan ya dek karena makanan itu cuma ada dua enak dan gak enak berarti harus habis,” urainya.
Sebelum meninggal Nina tidak memiliki firasat apapun. Namun tak lama dari kepergian Rivera Nina mengingat seakan-akan pernah mendengar suara, Anakmu akan saya ambil di umur 22.
 “Pas udah gak ada itu baru ngeh, Ya allah,” ungkap Nina yang tak kuasa menahan kesedihan kepada Malang Post.
Kepergian Rivera menghadap sang khalik sangat cepat. Pada Sabtu, 9 November 2019 lalu Rivera dibawa ke rumah sakit Persada oleh teman-temannya karena tidak sadarkan diri. Pihak rumah sakit melakukan CT Scan dan mendiagnosa adanya miningitis. Lantaran RS Persada penuh, mahasiswa 22 tahun ini dirujuk ke RS Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Di RSSA inilah kembali dilakukan CT Scan untuk memastikan kondisinya dan diagnosa yang sama, miningitis. Pada Minggu (10/11) lalu orang tuanya datang ke Malang dan menyaksikan Rivera dalam kondisi koma. Selama 9 hari menjalani perawatan di RSSA, Rivera dinyatakan meninggal dunia tepatnya pada 18 November 2019.
“Kami punya grup keluarga, kebetulan saat itu Sabtu (9/11) adiknya mau manggung nari dan minta disupport oleh kakaknya, tapi masnya ini bilang sedang demam dan mau istirahat dulu,” kisah Nina.
Sebelum demam Rivera sudah ke dokter nebus obat lantaran kepalanya merasa pusing. Tetapi tidak sembuh-sembuh. Dia diajak ngobrol sama teman-temannya, tapi temannya mengatakan bahwa Rivera seperti mengalami penurunan kesadaran, dipanggil tidak respons.
Saat Rivera tidak sadarkan diri inilah teman-temannya yang membopongnya ke RS Persada. Sebelumnya, dia pergi ke Surabaya mengikuti Job Fair untuk mencari pekerjaan naik kereta api.
Nina melanjutkan, mungkin karena badannya kurang fit, virus miningitis masuk ke tubuhnya. Menurutnya kejadian tersebut sangatlah cepat, apalagi selama ini Rivera tidak pernah mengeluh sakit sama sekali.
“Anak saya penah berkata, aku sudah lulus buk tinggal wisuda, akhirnya setelah meninggal kami mengurus keperluan wisuda dan saat prosesi wisuda ijazah diterima oleh adeknya,” terang Nina.
Hingga saat ini Nina dan keluarga kerap teringat kenangan bersama Rivera. Khususnya sang ibu setiap kali memandang foto anak pertama di meja kerjanya tersebut, ia meneteskan air mata. Bahkan hingga saat ini setiap kali makan ia selalu mengirimkan doa kepada anak laki-lakinya.
Sebagai penghormatan terakhir, usai wisuda Abah Rivera, Wijaya menyempatkan datang ke makam, meletakkan toga, ijazah dan bunga di atas makam Rivera. Sang anak dimakamkan di TPU Pondok Ranggon Jakarta Timur.(lin/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Linda Elpariyani