Kisah Zahra Fuaida Hakim, Setahun Dua Kali ke Tanah Suci, Berhaji Ikut Rombongan Jusuf Kalla

Rabu, 16 Oktober 2019

Selasa, 27 Agu 2019, dibaca : 4464 , Bagus, Agung

Alhamdulillah. Ucapan syukur itulah yang kali pertama terucap dari Zahra Fuaida Hakim. Bersama kedua orang tuanya, Aida baru saja menjalankan ibadah haji tahun ini. Bahkan kurang dari setahun, bocah 10 tahun ini, sudah dua kali berangkat ke tanah suci.
"Alhamdulillah, rasanya sangat senang sekali," ucap Aida, dengan senyuman malu-malu.
Zahra Fuaida Hakim, kelahiran 29 Mei 2009 ini, adalah siswi kelas V MI Miftahul Huda, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi. Dia anak sulung dari dua bersaudara pasangan Lukman Hakim dan Sofiyatul Fikliyah.
Warga Desa Sumberjaya, Kecamatan Gondanglegi ini, telah menjadi kebanggaan keluarga. Dia juara Hafiz Indonesia tahun 2018 yang diselenggarakan salah satu televisi nasional. Aida, begitu sapaannya adalah penghafal 20 juz.
Untuk menjadi juara satu, Aida berhasil menyingkirkan ratusan peserta pada babak seleksi. Kemudian pada babak audisi berhasil mengalahkan 59 peserta lain dari seluruh Indonesia.
Aida menuturkan, untuk bisa menjadi hafiz Alquran, dirinya selalu berlatih. Dia tidak suka main, apalagi bermain HP. Kalaupun main dengan temannya, hanya sebentar. Selebihnya waktunya habis untuk belajar hafal Alquran.
"Saya suka membaca Alquran. Setiap ada waktu luang, selalu sempatkan membaca dan menghafal Alquran," ujar Aida.
Lukman Hakim, menceritakan bahwa Aida belajar mengaji sejak usia 3 tahun. Aida mengaji di TPQ Al Islami, Desa Ganjar, Gondanglegi. Aktivitas mengaji tersebut dilakukan setiap sore hari.
Karena dinilai cukup pandai, pada program pasca TPQ Aida ditawari untuk belajar tahfidz atau hafal Alquran. Aida pun mulai belajar. Untuk menghafal dimulai dari juz satu.
"Untuk belajar menghafalnya kondisional, tergantung dari kemampuan Aida menghafal. Kalau bisa satu ayat, setor hafalannya kepada guru ngaji ya satu ayat. Latihan menghafalnya di rumah, kemudian saat mengaji baru disetor," jelas Lukman Hakim.
Sementara untuk ikut audisi lomba Hafiz Indonesia, Aida juga harus berjuang. Bermula dari salah satu teman Lukman Hakim yang bekerja di Surabaya, memberi kabar ada lomba Hafiz Indonesia pada 2016 lalu. Aida ditawari lantaran diketahui hafal 20 juz.
Pertama daftar itu, Aida tidak bisa mengikuti audisi. Karena dari pendaftaran yang diajukan, tidak konfirmasi lanjutan. Kemudian pada 2017, kembali mendaftar. Nasibnya juga sama tidak ada konfirmasi dari surat pendaftaran yang dikirimkan lewat pos.
Dua kali gagal, tidak membuat Aida dan orangtuanya patah semangat. Ketika audisi Hafiz 2018, Aida kembali mendaftar. Kali ini, surat pendaftaran yang dikirim lewat pos mendapatkan konfirmasi.
Aida akhirnya mengikuti seleksi. Setelah lolos dan masuk 60 besar, Aida kembali diaudisi menjadi 24 besar. Baru setelah itu berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.
Alhasil, Aida bisa membuktikan dirinya sebagai yang terbaik. Aida dinobatkan menjadi juara satu Hafiz Indonesia 2018. Dengan predikat juara itu, Aida mendapatkan hadiah uang Rp 100 juta serta Umrah untuk tiga orang dari pihak televisi nasional yang menyelenggarakan.
Hadiah Umrah itupun, dilaksanakan pada bulan November 2018 lalu. Aida berangkat Umrah dengan neneknya (Fatimah) serta pamannya Mas'ut.
"Untuk hadiah Umrah, memang diberikan kepada neneknya yang kebetulan belum pernah ke tanah suci," jelas Lukman Hakim.
Selain hadiah uang dan Umrah, Aida juga mendapat hadiah berangkat menunaikan ibadah haji. Hadiah istimewa tiga paket haji tersebut, diberikan oleh H. Syafruddin, M.Si, Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang hadir pada acara grand final Hafiz Indonesia 2018.
Hadiah ibadah haji itupun, dilaksanakan pada tahun ini. Aida berangkat bersama kedua orang tuanya. Aida berangkat pada 31 Juli sampai 20 Agustus. Kemudian tiba di rumahnya pada Kamis (22/8) pagi.
Yang menarik, keberangkatan haji Aida bersama orang tuanya ini, adalah melalui jalur khusus. Aida berangkat bersama rombongan haji khusus Wakil Presiden Jusuf Kalla sebanyak 37 orang. Selain mendapat pengawalan, setiap rangkaian ibadah hajinya juga dilancarkan.
"Terus terang saya sempat tidak percaya bakal berangkat haji bersama dengan istri dan anak. Syukur Alhamdulillah ternyata hadiah ibadah haji dari DMI memang nyata adanya," ungkap Lukman, guru di MI Miftahul Huda, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi.
Sementara itu, hadiah yang yang diterima oleh Aida, diwujudkan dengan bersedekah kepada beberapa guru ngaji yang membimbingnya. Termasuk untuk tasyakuran dengan mengundang warga sekitar.
"Sisa hadiah uang, digunakan untuk membangun rumah. Karena terus terang kami sebelumnya memang belum memiliki rumah," paparnya.
Dari pantauan Malang Post, Senin (26/8) sore kemarin, puluhan warga terlihat silih berganti berdatangan. Aida, pun nampak menemani kedua orang tuanya berbincang dengan tamu. Wajah Aida, terlihat berseri dan terus mengumbar senyum, meskipun terlihat sedikit kecapekan.
"Sejak datang setiap hari ada tamu yang datang. Bahkan Aida selalu ikut menemui tamu hingga di atas pukul 24.00," pungkasnya.(agung priyo/ary)



Loading...