MalangPost - Kontrakan Kuno

Rabu, 12 Agustus 2020

  Mengikuti :

Kontrakan Kuno

Jumat, 17 Apr 2020, Dibaca : 10146 Kali

Saya sebenarnya sudah lama ingin menceritakan ini. Akan tetapi perasaan saya tidak nyaman, apalagi hal ini selalu terasa begitu dekat. Namun setelah lulus dari universitas tercinta dengan tepat waktu yaitu empat tahun, saya pikir hal ini tidak begitu masalah jika ditorehkan ke komputer usang yang sudah minta pensiun.
Perkenalkan nama saya Jabbo, asal Madura Bangkalan, saya alumni pesantren kecil di salah-satu kota rimbun di Jawa Timur. Kampus adalah dunia baru bagi saya, di mana segala penjuru jiwa dan raga saya ditempa di tempat ini. Kadang saya harus menghabiskan 3 botol Kratingdeng dengan sandingan rokok Surya 12 di setiap harinya jika ada tugas yang kritis dan mendesak, karena kebetulan saya kini menempuh 2 jurusan sekaligus, yaitu Civik dan Hukum. Civik dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sedangkan Hukum dari Fakultas Hukum.
Pada semester 1 dan 2 saya memilih untuk ngekos, Alhamdulillah ada kos-kosan yang hanya Rp 300 ribu per bulannya. Pembayaran ini sudah mencakup air, sedangkan biaya listrik biasanya saya menambah Rp 50 ribu dalam 1 bulan. Singkat cerita, masa dua semester berlalu dan Bapak serta Ibu kos memutuskan untuk menaikkan harga kamar menjadi Rp 3,5 juta setahun dan itu harus dibayar di muka. Hal ini karena beliau ingin membangun kos-kosan menjadi dua tingkat. Terus terang kami keberatan dan hal ini mengakibatkan 3 anak harus angkat kaki, termasuk saya.
“Kling-kling...” Bunyi sms masuk. Kulihat nama pengirim Yudha, teman satu kelas.
“Posisi?”
“Di kos!”
“Gini, ini kami dapat kontrakan murah, kami kurang satu orang.”
“Berapa?”
“Satu rumah Rp 10 juta, ini sudah ada 4 orang. Jika kamu bersedia nanti kan bisa Rp 2 jutaan”
Saya langsung telepon Yudha,
“Hallo Yud, itu berapa kamar?”
“Tiga kamar, dua ruang tamu, satu televisi, satu kamar mandi, satu dapur, satu tempat parkir.”
“Kog murah ya, padahal agak dekat jalan raya!”
“Itu kurang tahu, orangnya minta kita gerak cepat. Karena ini sedang ada yang antre jika memang kita tidak jadi.”
“Oke wes saya ikut! Kebetulan kepingin ngerasain jadi anak kontrakan.” Ini cuma alasan ke tujuh, alasan pertama karena memang masa kos-an saya sudah habis.
“Oke, kita akan langsung bayar DP! Ini sudah ada uang Rp 6 juta.”
Saya sedikit lega walaupun dalam hati ada perasaan ragu mau pindah ke kontrakan itu, karena daerah itu agak sulit buat cari makan dan ngeprint tugas dari kampus. Tapi mau gimana lagi. Bismillah.
Saat siang keesokan harinya, kebetulan perkuliahan sudah rampung. Kami berlima berniat untuk bersama-sama ke rumah itu. Dari ke-lima ini hanya saya yang belum pernah ke sana. Kami semua memakai motor, saya boncengan dengan Selamet, Amalda dengan Erik, dan Yudha sendiri.
Sebuah rumah mungil yang di depannya ada semacam simbol mirip Nazi, tapi kata teman-teman itu bukan simbol Nazi. Ketika semua teman-teman masuk ke dalam rumah itu, perasaan  saya  mulai tidak nyaman. Saya memilih diam di luar pagar. Tapi akhirnya Bu Ida memaksa. Mengenai siapakah Bu Ida ini, kami belum tahu pasti. Apakah beliau adalah pemilik atau hanya calo rumah kontrakan dari kontrakan tersebut.
“Monggo Mas, pinarak!”
“Injeh..”
Ketika saya masuk ke dalam rumah itu, napas saya berat, duduk saya terasa tidak nyaman. Oleh karena itu saya mengambil napas dengan cara melapangkan dada sambil menghirup udara dari hidung.
“Oh iya mas, uang DP yang Rp 6 jt kemarin sudah saya berikan kepada pemiliknya.”
“Loh, bukan jenengan pemiliknya?”
“Sanes, seng gadah niki tiang Gunung Kawi, tiyang e agamahe pun sanes Islam, kirangan nopo. Lah griyo niki boten ditempati selama 3 tahun. Karena ten Gunung Kawi tirose lebih nyaman mawon, geh, kadang-kadang Bapak kale Ibu ingkang gadah niki ngipeng. Paleng sebulan pisan.”
Saya semakin tidak bisa bernapas. Namun tiba-tiba ada semacam suara yang berbisik. Saya sering megikuti suara yang berbisik itu, tapi saya belum tahu pasti itu suara siapa. Sementara afirmasi pribadi itu hanya hati nurani.
“Adano le... Adano duk jero atimu!” Saya adzan dengan hati walau sedikit kesulitan mengambil napas. Selesai adzan beban barusan semacam sirna dengan sendirinya. ‘kayaknya ada yang tidak beres.’
Saya memutuskan untuk pulang lebih dulu ke kosan yang lama, saya ingin sedikit bertafakkur. Saya memilih berdiam, merenung sendiri dalam kamar kos sederhana berukuran 3mx3m sambil mengklenting gitar butut sambil bernyanyi lagu tua karya Novia Kolo Paking berjudul Asmara. Sampai saya tertidur dan saya melihat seorang tua mendekati tubuh saya yang sedang tidur. Orang tua itu memakai peci hitam, umurnya sekitar 80 tahun-an ‘wacano yasin 40x pada tengah malam jum’at depan.’
Keesokan harinya, kita bersama-sama berniat ke kontrakan baru lagi, Erik sudah membawa sebagian pakaiannya, begitu juga dengan Amalda. Sedangkan Yudha masih saja sibuk dengan pacarnya yang kudu diantar jemput.
...
Saat kita sedang makan bersama di tempat biasa, saya mulai berbicara.
“Kontrakan itu aneh, saya tidak bisa bernapas setiap kali masuk ke dalam. Kita harus melakukan sesuatu.”
“Apa Jabbo?” Amalda bertanya dengan nada serius.
“Kita baca yasin 40x pas tengah malam Jum’at!”
“Heh, aku ndak bisa ngaji loh!” Yudha menimpali.
“Aku juga, paling kuat Cuma 2 yasin.” Erik mecucu.
“Oke, sebentar saya punya siasat”
“Apa?”
“Jadi begini..” Suara sedikit saya lirihkan.
“Oke saya setuju!” Amalda dan Selamet tersenyum tenang. Sebenarnya saya agak melihat keanehan pada mimik wajah Selamet, sepertinya dia memahami sesuatu yang enggan untuk Ia bagikan.
Sedangkan wajah Amalda adalah wajah yang paling cemas dengan keadaan ini.
...
    Hari ini siasat itu akan dimulai. Di lorong kelas, Erik melakukan tugasnya dengan sempurna. Memang kalau masalah berkoar-koar Erik punya bawaan semenjak lahir.
    “He... Rek, yang laki-laki nanti malam kami undang untuk karaokean sekaligus makan, kumpul di kontrakan kami tepat setelah isya’ ya!” Mendengar karaokean Hanafi selalu antusias dan ada di garda depan.
    “Cewek ndak boleh ta?” Eka Suwandira menimpali.
    “Ceweknya nanti menyusul, khusus nanti malam cowok saja.”
    “Mesti, alasan. Dasar pelit kamu Rik.” Eka Suwandira adalah perempuan yang paling tidak terima kalau tidak diajak karaokean, karena memang kami selalu bersama-sama dalam melakukan pesta rutinan semacam ini.
    “Loh ya... Mesti porek kamu Ka!”
    Waktu berjalan begitu cepat, entah mengapa waktu semakin hari terasa semakin cepat. Kadang satu minggu terasa hanya dua hari. Suara adzan Isya’ sudah berkumandang beberapa teman sudah datang. Ada lima teman yang akan ikut karaokean, jika ditambah kami maka jumlah kita semua adalah sepuluh.
    “Saya ke masjid dulu!” Kata Jabbo.
    “Aku ikut Bo!”
    “Oke Met.”
    Di perjalanan menuju masjid, Selamet berkata pada Jabbo
    “Yang sabar ya Bo. Bukan kamu saja yang merasakan sulit bernapas di kontrakan itu,”
    “Kamu juga Met?”
    “Iya!” Jabbo hanya diam, dia seperti masih menyimpan sesuatu, begitupun dengan Selamet. Keduanya rupanya memilih untuk mendiamkan masalah ini.
    Takbir dimulai, salat berjamaah senantiasa memberikan nuansa beda pada jiwa yang melakukannya. Tenang dan damai. Salat adalah keadaan yang paling tepat untuk melupakan tugas, masalah, dan cinta. Hanya penciptalah yang pantas ada dalam salat.
    Kini tiba saatnya kita berangkat ke tempat karaokean, kami memakai tujuh motor karena Yudha dan Satrio masing-masing membonceng pacarnya. Saya dan Selamet, Erik dan Ahmad, Kusdian dan Hanafi, Charly dan Amalda.
    Untuk menuju karaokean kita memilih lewat jalur dalam. Jika melewati jalur ini, kita akan melewati jalanan yang menurun dan sepi, ada jembatan yang di bawahnya terdapat sungai kecil yang mengalir. Beberapa tahun yang lalu menurut warga ada seorang perempuan yang ditemukan meninggal dan dibuang di samping jalan ini.
    Tidak ada yang aneh pada waktu melewati jalan ini, semuanya berjalan seperti biasa. Namun tiba-tiba...
    “Bukkk...” Ada yang jatuh di depan kami. Seekor burung berwarna hitam besar jatuh dari pohon yang melintang di atas jalan setelah jembatan kecil. Semua dari kami berhenti, Yudha turun dan berniat untuk menyentuh burung itu dengan kakinya.
    “Jangan hiraukan ayo lanjutkan perjalanan. Ada yang ingin ngajak kita bermain, biarkan saja jangan pedulikan mereka!” Selamet menimpali.
    “Oke siap!” Yudha kembali ke motornya bersama dengan pacarnya.
    Kami melewati burung mati itu, dan sembilan menit kemudian kita sampai di karaokean. Kami memesan ukuran ruang yang large agar enak kalau ada yang mau jingkrak-jingkrak, karena kami sadar darah muda memang demikian.
    Tempat karaokean bagi kami adalah wahana untuk berteriak-teriak meluapkan apa yang tak tersampaikan. Ada beberapa lagu yang pasti kami nyanyikan secara bersama seperti This Love, Surti, dan lagu-lagu milik Marjinal. Kecuali Hanafi yang selalu memilih Genre Dangdut. Lighting yang berwarna warni membuat kami selalu lepas dan sejenak lupa pada tugas kami yang selalu menekan dan mengejar. Sampai tak terasa lagu-lagu itu sudah 2 jam yang mana itu artinya masa kami sudah habis dan harus kembali pulang.
    “Ayo langsung kembali ke kontrakan, kita makan bersama di kontrakan. Yang beli nasi biar aku saja!” instruksi dari Yudha. “Erik kamu belio jajan sama minuman yaa!”
    “Oke!” Kini semua sepeda motor itu melesat menuju kontrakan kecil dan indah itu.
...
Sesampainya di kontrakan, dengan kondisi tubuh yang sudah kenyang...
    “Silahkan Jabbo diutarakan!”
    “Assalamualakum Warohmatullahi Wabarokatuh! Jadi begini teman-teman, ow iya sebelumnya terima kasih karena sudah menghadiri undangan kami. Ya sekadar bentuk tasyakkuran karena sudah menemukan kontrakan baru. Pada malam Jum’at ini tepatnya nanti pukul 12.00, kami mau minta bantuan kalian semua untuk membaca Surat Yasin sebanyak 40 kali.”
    “Kenapa kok banyak sekali? Bilangan 40 itu Bid’ah.” Celetuk Hanafi.    
“Tidak, ini bukan bid’ah, kami hanya ingin bersyukur dengan cara yang lebih. Karena Nabi Musa Pun diperintah untuk menyempurnakan masa khalwatnya sehingga menjadi 40 hari, coba lihat di Al qur’an.”
“Oke... Oke...” Charly mengiyakan. Hanafi hanya bisa diam kalau tendensiku adalah Al-qur’an.
“Baik, ini sudah waktunya kita bagi. Karena jumlah kita sepuluh maka setiap anak kebagian 4 yasin, bagi yang tidak sanggup bisa angkat tangan!”
“Saya hanya bisa 2 karena tidak begitu lancar,” Erik menimpali
“Saya juga hanya bisa 2,” Yudha ikut-ikut,
“Baik yang lain apa ada yang keberatan lagi?”
“Tidak…” jawaban serentak.
“Baiklah saya akan mulai bertawassul...”
Kala itulah pembacaan Yasin dimulai, kami duduk melingkar di atas sofa yang sudah kami tata di ruangan tengah. Di depan kami ada meja kaca persegi panjang yang sudah penuh dengan segala macam jajanan, gorengan, minuman mulai dari air dengan warna putih, merah, dan lain sebagainya. Yang jelas seluruh makanan dan minuman ini sudah lolos dari MUI perihal kehalalannya.
Saya kebagian 8 yasin karena harus menampung jatah yasin dari Erik dan Yudha. Saya duduk di pojok agak menghadap ke dapur dan Selamet kebalikannya, dia menghadap ke arah ruang depan. Suara Yasin bergaung ramai, maklum suara sepuluh orang. Dan semuanya berjalan dengan lancar.
Namun, ketika saya mendapati bilangan yasin yang saya baca sebanyak 4 kali, ada suara yang berubah dan terdengar aneh, saya mendengar suara jeritan perempuan dan puluhan anak kecil yang ribut. Dan semuanya bersumber dari arah dapur. Suara itu tidak bisa ditirukan bunyinya.
    Saya berhenti sejenak untuk mendengarkan suara apakah itu sebenarnya, saya perhatikan satu persatu bibir teman-teman yang menyenandungkan Yasin. Tapi suara yang parau itu tidak keluar dari mulut teman-temanku. Suara itu semakin keras nadanya tinggi rendah dari arah dapur dan ruang tamu depan. Kulihat teman-temanku aman saja. Tiba-tiba...
    “Doar...!” Terdengar bunyi pintu di dapur belakang semacam ada yang melempar dengan batu.
    “Heh itu suara apa?” Semua teman-teman berhenti sejenak, Charly langsung menuju ke dapur belakang, takut ada apa-apa. Tak beberapa kemudian Charly kembali,
“Kunci gembok belakang mana?”
“Kenapa Char?”
“Pintunya kebukak, tapi gemboknya kayaknya masih bisa dipakai.”
“Kamu ndak ngunci pintu belakang tah Rik?”
“Serius udah saya kunci”
“Gembok pintu belakang jebol, ndak tahu kenapa. Tapi rasanya gemboknya tidak rusak.”
 ...
    Keesokan harinya saya sudah merasa agak lega, karena saya sudah bisa bernapas dengan tenang. Selamet baru saja duduk di depan saya sambil menyalakan sigaret.
    “Met, saya mau tanya tentang pembacaan 40 yasin kemarin malam.”
    “Iya, kenapa Bo. Mau tanya suara perempuan dan puluhan anak kecil apa nanya tentang Kakek yang selalu membisikimu? Hahaha”
    “Heh... Loh...” Asap rokok Selamet mengepul dan membuatku harus berbatuk berkali-kali.(*)

Oleh: Irly Bob

Editor : Redaksi
Penulis : Opini