Kota Batu Juga Darurat Banjir

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Kota Batu Juga Darurat Banjir

Senin, 24 Feb 2020, Dibaca : 1890 Kali

Bencana hidrometeorologi menghantui Kota Batu. Ini dapat dilihat dari beberapa bencana hidrometeorologi yang terjadi di Kota Batu di antaranya banjir, angin puting beliung dan longsor yang terjadi pada tahun 2019 dan 2020 ini.
Dari data BPBD Kota Batu, paling menonjol untuk awal tahun ini bencana banjir sering terjadi di beberapa lokasi. Khususnya di permukiman padat penduduk atau tepat di tengah-tengah Kota Batu. Bahkan setiap kali hujan deras dalam beberapa jam ada titik baru yang terjadi banjir.


Banjir merupakan fenomena baru di Kota Batu setelah sekian lama tak ada banjir di Kota Wisata Batu. Faktor penyebab beragam. Mulai dari faktor alam, non alam, maupun faktor manusia. Sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Khususnya untuk Kota Batu, selain bencana karena faktor alam. Bencana alam terjadi karena faktor manusia seperti kurangnya kesadaran untuk melestarikan lingkungan, buang sampah sembarang, hingga pembangunan yang tak terencana dengan baik atau pembangunan secara masif. Baik rumah atau tempat wisata.


Hal itu diungkapkan oleh Plt Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu bahwa bencana alam dua tahun terakhir di Kota Batu dikarenakan dua hal. Pertama karena faktor alam dan kedua karena manusia.
"Untuk pertama. Bencana alam yang terjadi di Kota Batu pada khususnya tidak terpisah dari perubahan iklim secara global. Hal itu terjadi di mana-mana. Pada umumnya di Indonesia yang tejadi banjir dan Australia yang terjadi kebakaran. Atau secara garis besar karena perubahan iklim secara global," papar Agung kepada Malang Post.


Dia menjelaskan, dari catatan BPBD di Kota Batu tanah longsor menjadi bencana yang paling mendominasi karena sesuai topografi sejak tahun 2013-2018. Namun di tahun 2019 kebakaran hutan di Gunung Arjuno dan Panderman yang menonjol karena kemarau panjang.
Sedangkan untuk banjir diketahui juga menghantui Kota Batu pda akir tahun dan awal tahun ini. Bahkan lokasi banjir terjadi di titik yang berneda setiap turun hujan.
"Khusus banjir ini penyebab utama tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Yakni karena intensitas hujan tinggi tapi durasi yang pendek di akhir 2019 dan awal 2020. Sedangkan tahun sebelum-sebelumnya jarang terjadi karena intensitas hujan yang rendah," bebernya.


Agung menguraikan, dengan intensitas hujan tinggi, lanjut dia, secara teori tanah sudah jenuh megakibatkan tak bisa menyerap air dan menahan air dengan maksimal. Sehingga menjadi air luapan. Sebaliknya ketika intensitas hujan rendah air akan mudah meresap ke tanah.
Selain itu faktor alam, diungkapnya jika bencana banjir karena faktor manusia. "Kita akui jika bencana banjir karena pembangunan kota berlawanan dengan kelestarian lingkungan. Sehingga dengan adanya pembangunan secara tak langsung akan mengurangi lahan resapan. Tidak berbicara di Kota Batu saja. Contohnya di Kota Malang dan Jakarta yang pesat pembangunan," urainya.


Dengan pembangunan kota, artinya terjadi peralihan fungsi lahan. Tentunya resapan air ke tanah akan berkurang dan berubah jadi air limpasan. Selain itu juga, banjir di kota dikarenakan sedimentasi yang tinggi. Baik di saluran drainase ataupun di sungai.
"Tingginya drainase ini membuat berkurangnya daya tampung air. Pada akhirnya membuat terjadinya banjir di daerah padat penduduk. Seperti banjir di Kelurahan Sisir, Songgoriti, Pendem, dan Oro-Oro Ombo," bebernya.


Agung mengungkapkan untuk menekan dan mengantisipasi terjadinya bencana alam. Pihaknya telah melakukan pemetaan dan analisa kajian setiap tahunnya.
Misalnya untuk daerah yang potensi longsor tinggi telah dipetakan dan di kajadi diantaranya di Kec. Bumiaji ada di Desa Sumberbrantas, Tulungrejo, dan Gunungsari. Untuk Kec. Batu di Kel. Songgokerto dan Desa Oro-Oro Ombo. Sedangkan Kec. Junrejo menjadi daerah yang berpotensi longsor rendah dengan Desa Tlekung dan Pendem.


Untuk daerah rawan banjir meliputi daerah padat penduduk. Seperti Kelurahan Sisir, Ngaglik, Songgokerto dan Desa Oro-Oro Ombo. Untuk Kecamatan Junrejo ada di Pendem dan Bumiaji ada di Sidomulyo. Dua kecamatan ini baru terjadi banjir cukup besar dalam artian ada rumah yang terendam di akhir tahun dan awal tahun ini.


Ditambahkan oleh Kasi Logistik dan Penanggulangan Bencana, BPBD Kota Batu, Choirur Rochim, jika banjir di Kota Batu juga terjadi karena kebakaran hutan yang terjadi tahun 2019. Dengan kebakaran hutan itu membuat air yang seharusnya terserap dan tertahan tanah langsung terbawa ke bawah atau sungai.
"Dengan hutan gundul juga membuat erosi. Sehingga air tanah juga terbawa ke sungai dan meningkatkan atau membuat sedimen tanah di sungai tinggi," imbuhnya.


Selain itu, banjir terjadi karena kesadaran masyarakat yang kurang menjaga lingkungan. Misalnya karena membuang sampah sembarang, membangun rumah didekat sungai, dan banyaknya yang membuat bangunan permanen atau non permanen untuk berjualan di atas saluran drainase. (eri/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Kerisdiyanto